
Kamila memeluk dirinya sendiri ketakutan. Ia tak pernah tahu bagaimana cara membela diri dari tatapan semua orang. Jadi ketika Dios menariknya untuk pergi ke kamar, Kamila hanya diam.
Duduk di tempat tidur mengatur napasnya yang memburu kasar.
"Kamila." Dios tiba-tiba memanggilnya. "Apa sebenarnya perasaanmu pada Iaros?"
Kamila tidak mau mendengar hal itu sekarang. Dirinya tak mau membahas cintanya dengan Iaros sekarang. Ia berharap pulang sekarang juga.
Tak dapat membayangkan jika ia harus berada di sini selama tiga minggu, menghadapi situasi yang sama terus-menerus sampai ia mungkin bisa muntah.
"Menurutmu, Iaros mencintaimu?"
"Tuan Muda, tolong hentikan—"
"Menurutku, Iaros hanya menjadikanmu pelampiasan."
Wajah Kamila mendadak pucat.
Ia mendongak pada Dios yang kini duduk di kursi Ribia kemarin duduk, menatapnya penuh keyakinan bahwa dia berkata benar.
"Apa ... maksud Anda?"
"Aku akan memberitahumu tentang rahasia. Kamu tahu, dalam keluarga kita, hubungan inses tidak sepenuhnya dilarang?"
Kamila menelan ludah. Kenapa tiba-tiba dia mengatakannya?
"Aku pernah meniduri tiga saudari perempuanku, termasuk adik kandungku."
Apa?
__ADS_1
"Dan menurutmu apa alasannya?"
Entah kenapa Kamila menahan napas. Ia menjadi gemetaran ketika Dios tersenyum penuh arti seolah tahu Kamila sudah menjawabnya sendiri.
"Kesenangan ... datang dari sesuatu yang berbahaya."
Hentikan.
"Pada dasarnya Iaros merasakannya padamu. Dia tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya mengatakannya untuk membuat hatimu tenang. Kamu tahu, kadang-kadang pria harus berkata 'aku mencintaimu, aku rela mati untukmu' hanya agar wanita mau membuka kakiku. Yah, begitulah pria. Begitulah aku dan Iaros."
Tidak. Iaros tidak—
"Jika aku salah, maka beritahu aku, Kamila. Apa Iaros tidak pernah membenamkan wajahnya di dadamu?"
Kamila tersentak jijik. Seluruh tubuhnya menegang kaku ketika mengingat perbuatan Iaros padanya, berbisik dia mencintainya tapi melakukan ini dan itu pada Kamila tanpa izin.
Kedua tangan Kamila berusaha menyingkirkan perasaan ulat merayap di tubuhnya itu. Meski begitu ia tak bisa menampik perkataan Dios.
Perut Kamila bergolak. Ia mau muntah juga ingin pingsan.
"Ya, begitulah pria, Kamila. Iaros tidak berbeda dari siapa pun. Biar kuberitahu satu hal lagi. Jika Iaros terus menyentuhmu dan melecehkanmu, satu-satunya hal yang mencintaimu bukan hatinya, tapi sesuatu di antara kakinya."
Dios tertawa meninggalkan Kamila.
Dari ekspresi pucat itu, ia bertaruh akan segera terjadi pertengkaran dahsyat.
*
Kamila tidak ingin tinggal diam di kamar bersama perasaan menjijikan itu. Jadi ketika Dios pergi, Kamila berlari.
__ADS_1
Berlari dan terus berlari sampai dirinya justru tak sadar menabrak seseorang yang ternyata adalah Lily.
Baru saja Lily akan marah, tapi mulutnya terbungkam oleh tangisan Kamila.
Seketika Lily menggertak giginya. Ingin meremukkan sesuatu dan melampiaskan rasa sakit ini.
Kenapa? Kenapa harus adiknya yang menderita seperti ini ketika monster itu yang harusnya bertanggung jawab dan menderita?
Lily tak bisa mendorong Kamila bahkan jika ia harus. Di lorong sepi itu ia mendekapnya, mendengar jelas tangisan pilu Kamila.
Sementara itu, Kamila tak bisa memikirkan sesuatu tentang kakaknya sekarang. Ia terlalu termakan omongan Dios dan mulai berpikir bahwa semua itu benar.
Aku orang bodoh dan lemah, rintih Kamila dalam hatinya. Aku bodoh dan mengenaskan. Apa yang Iaros bisa sukai dariku? Dia berbohong.
Itu bukan cinta. Itu hanya permainan.
Itu hanya cara agar dia memuaskan dirinya atas apa yang mungkin terlarang namun tak membahayakan posisi Iaros sebagai Narendra.
"Kenapa hanya aku?" Kamila nyaris menjerit memegang gaun Lily. "Kenapa hanya aku, Kakak? Apa aku berbuat salah? Apa karena aku berbuat dosa? Kenapa hanya aku yang tidak mendapat cinta? Kenapa semua orang memilikinya sementara aku tidak?"
Perasaan Lily serasa diperas.
Tidak.
Bukan begitu.
Iaros merebutnya.
Iaros mengambil cinta dari Kamila dan meninggalkannya menderita dengan alasan Kamila adalah miliknya.
__ADS_1
Orang itu yang menyakitinya.
*