
Kamila sudah tahu cepat atau lambat akan terjadi sesuatu, tapi ia tak menduga kalau sebelum itu Aether berusaha keras merendamnya.
Setelah tiga hari tidak menemui Kamila, Aether muncul bersama Lily, berkata akan menghubungi Amarilis agar mereka bisa membicarakan perkara ini secara keseluruhan.
Sulit bagi Kamila tidak merasa tegang. Perkataan Demeter menghantuinya sejak kemarin, membuat Kamila tak bisa berhenti berpikir bahwa semua salahnya, dan itu tanggung jawabnya.
"Sambungkan," perintah Aether begitu mereka bertiga duduk di sofa, menunggu proyeksi Amarilis muncul di tembok kamar.
"Tuan Muda." Amarilis menyapa Aether terlebih dahulu, sebagai bentuk penghormatan.
"Bibi, apa kabar?" Aether pun memulainya dengan sedikit basa-basi. "Bagaimana kondisi Bibi?"
"Sebaik yang Anda lihat, Tuan Muda."
"Aku bersyukur, kalau begitu." Tapi, Aether pun tak membiarkan basa-basinya berlarut-larut. "Kurasa Bibi sudah memahami situasinya?"
"Ibunda Anda baru saja berkunjung kemarin sore, Tuan Muda. Beliau memberitahu saya permintaan Tuan Muda Iaros."
__ADS_1
"Ya, Bibi. Dan aku ingin mencegahnya."
Pembukaan Aether sudah menunjukkan jelas arah pembicaraan.
Kamila menutup matanya, ketakutan dan bingung.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan terlebih dahulu, Bibi." Aether menatap Amarilis dengan mata tegas menunjukkan kedudukannya sebagai calon pemimpin. "Kenapa Bibi membiarkan hubungan Iaros dan Kamila berkembang?"
Mata Kamila diam-diam menatap ibunya. Melihat jelas ketika wanita itu murung, seolah ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya.
"Aku akan menyuruh Kamila dan Lily keluar jika Bibi merasa tidak bisa membicarakannya."
Perasaan Kamila semakin tegang. Selama ini, yang ia tahu ibunya dan Lily membenci Kamila. Tapi, sepenggal ingatan yang Iaros renggut darinya menunjukkan bahwa mereka dulu selalu bersama.
Semua tidak terjadi tiba-tiba seperti yang Kamila ingat.
Ia sangat yakin memang dulu Ibu dan Lily mencintainya.
__ADS_1
"Hanya satu dari mereka yang bisa menikah, Tuan Muda." Amarilis menatap sendu mata Aether. "Peraturan tidak membolehkan mereka mendapatkan apa pun selain apa yang diperbolehkan."
Itu lagi. Aether mengepal tangannya kuat-kuat saat lagi-lagi harus menghadapi gejolak pedih akibat pemberontak.
Kenapa semua ini tiba-tiba bergejolak? Kenapa rasanya seluruh ketidakpuasan memuncak? Enam generasi berlangsung, lima generasi di atas mereka, kenapa tidak ada satupun dari mereka yang merasa tidak puas sementara sekarang, seolah-olah semuanya salah?
"Anda benar. Saya membiarkannya terjadi." Amarilis tersenyum dengan mata menangis pada Kamila. "Saat itu, saya berpikir Lily-lah yang akan menikah. karena memang dialah yang tertua. Tuan Muda Iaros sudah menyukai Kamila sejak awal. Dan ketika saya tahu itu, saya hanya berpikir bahwa hubungan mereka mungkin bisa berlangsung dalam diam."
Maksudnya seperti hubungan sedarah dalam Narendra? Seperti Demeter dan Dionisos. Mereka berdua menyimpan cinta satu sama lain, terlepas dari apa pun, tapi mereka menjalin hubungan dalam diam tanpa mengisik hal-hal seperti istri Dionisos, atau orang tua mereka yang dua-duanya orang yang sama.
Aether tidak menyalahkan keputusan itu. Jika saja Iaros menjalani hubungan seperti itu dengan Kamila, semua masalah ini tidak akan terjadi.
"Saya berusaha meyakinkan diri bahwa perasaan Tuan Muda tidaklah berbahaya."
Itu bukan keinginan yang salah.
"Tapi kemudian pria gila itu meletakkan jantung calon suami Kamila ke tangan Lily." Amarilis menangis menatap kedua putrinya yang juga menangis. "Pria itu memaksa mereka ketakutan karena hasratnya sendiri. Beritahu saya, Tuan Muda, apa itu kesalahan saya?"
__ADS_1
...*...