Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
86. Membuat Demeter Diam


__ADS_3

"Menurutmu Iaros serius?" tanya Zefirus ketika mereka memutuskan bicara bersama setelah meninggalkan Iaros.


"Menurutmu ada Narendra yang mau meminta maaf hanya untuk bermain-main?" balas Hefaistos meski sebenarnya sama bingung.


"Dia membuat ending lucu." Ares tertawa kecil.


"Kurasa itu karena Demeter." Dionisos ikut menimpali. "Jika Iaros meminta maaf alih-alih mengikuti keinginan Demeter, maka bahkan adik kecil itu tidak bisa berbuat apa-apa. Permasalahan ini akan ditutup, dengan cara yang tidak Demeter senangi."


"Ada benarnya." Zefirus menjatuhkan diri ke sofa pertama kali. "Tapi bukankah dia mengorbankan terlalu banyak hal untuk itu?"


Jika Iaros benar-benar minta maaf dan masalah ini selesai, maka dia secara langsung mencabut haknya mengajukan permintaan sama di masa depan. Jikapun ternyata permintaan itu muncul dari orang lain, Iaros juga tidak akan diberi hak ikut serta dalam perebutan kuasa.


Haknya duduk di kursi Aether akan otomatis hilang dengan keputusannya mundur. Tidak peduli sehebat apa dia kedepannya.


Itu pengorbanan yang terlalu besar jika hanya untuk membuat Demeter diam.


"Aku bertanya-tanya," gumam Aether. "Anak itu, apa mungkin dia memang mencintai Kamila?"


"Maksudmu?"


"Aku sejujurnya menganggap dia hanya ingin memiliki Kamila karena itu jauh lebih menantang daripada menerima istrinya yang patuh." Aether mengangkat bahu. Menatap mereka semua lamat-lamat. "Perbedaan antara kita dan Iaros bukankah hanya kesabaran? Aku dan kalian menerima kehidupan Narendra ini dengan alasan kita masing-masing, sementara dia menolaknya."


"Dengan kata lain, kamu merasa kasihan padanya?" Ares terlihat tidak percaya.


Namun dengan yakin Aether mengangguk. "Aku memang sudah kasihan padanya sejak awal. Lagipula dia anak Bibi Hilaeira."


"...."

__ADS_1


"Ini pengalaman pertamaku mendengar Narendra meminta maaf. Aku tidak pernah mendengar itu sebelumnya. Dan kurasa tidak akan lagi."


"...."


Seolah tahu apa isi kepala Aether, Ares langsung menggeleng. Tertawa kecil meresponsnya. "Kamu hanya akan membuat Demeter semakin emosi."


"Hal sekecil itu mudah dipahami siapa pun."


"Aku tidak akan ikut membuat anak itu marah," balas Dios segera. "Demeter sudah bermain-main dengan nyamamu dan kamu masih santai mengatakan ini. Kakak Pertama punya sangat banyak nyawa."


"Aku mendukung Demeter." Ares mengangkat tangannya. "Aku lebih suka melihat anak nakal itu daripada Iaros dan kamu, tentu saja."


"Akan kubuat Demeter diam."


Ares malah tertawa keras. "Aku hanya bisa berkata 'berjuanglah dengan keras'."


...*...


Malam hari ketika semua orang beristirahat di kamar masing-masing, Aether melangkah ke sel bawah tanah tempat Iaros dikurung sekali lagi. Aether melihat Helen nyaris tak pernah meninggalkan sisi Iaros, yang membuat semua jadi lebih menyedihkan sebab Helen terpaksa harus berada di sana.


"Iaros."


Aether berjongkok di depan adiknya itu, tahu bahwa dia tak sedang tidur.


"Beritahu aku di mana ibumu menaruh pengasuh Demeter."


Hera yang memberitahu Aether, bahwa alasan Demeter mau menemani Iaros bertemu Orion waktu itu kemungkinan adalah pengasuhnya.

__ADS_1


Meski terus terang Aether kurang tahu hubungan Demeter dan pengasuhnya, namun tidak sulit menyadari sepenting apa wanita itu sampai Demeter rela menuruti permintaan kecil Iaros.


Terlebih, setelah itu Demeter membalas Iaros lewat Aether.


Iaros mendongak. Pikir Aether, dia masih ingin diam setidaknya untuk berpikir. Tapi ternyata Iaros benar-benar menjawabnya.


"Kurungan terdalam."


Ibunya Iaros memang wanita gila. Kurungan terdalam kastel ini bahkan tempat yang tidak pernah diinjak oleh Narendra mana pun.


Tidak heran jika Demeter tumbuh seperti itu.


"Demeter tahu hal itu?"


"Ada buaya putih peliharaan Ibu di sana."


"Buaya putih?"


"Buaya besar yang Ibu jadikan momok untuk Demeter." Iaros menunduk tanpa tenaga. "Ibu memperlihatkan pada Demeter wanita itu dimakan oleh buaya. Karena itu Demeter takut. Bahkan kalau dia ingin mendekat, Demeter tidak bisa mengatasinya."


Aether menghela napas. Menepuk-nepuk bahu Iaros sebelum ia beranjak pergi.


Sejujurnya Aether tidak menganggap perbuatan Bibi Hilaeira salah. Mengendalikan Demeter pada akhirnya dibutuhkan ketakutan dan ancaman.


Yang jadi persoalan hanya Demeter dikendalikan oleh Hilaeira untuk Iaros. Sementara Iaros sendiri perlu dikendalikan.


...*...

__ADS_1


__ADS_2