
Jika Kamila dan Iaros punya hubungan diam-diam, maka yang tahu akan hal itu sudah pasti Hera, istri pertama Aether. Tapi setelah Ribia memikirkannya baik-baik, sekarang ia mengerti maksud Agav.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang menghentikan hubungan atau perasaan itu berkembang diantara mereka.
Kenapa? Padahal mau langit terbelah pun sepertinya mereka berdua tidak akan pernah diizinkan bersama. Lalu kenapa semua istri kakaknya diam?
"Saya tidak bisa melakukan apa-apa." Hera menjawab semua itu dengan senyum sangat tenang. "Jika Tuan Muda Iaros mencintai Nona Kamila, saya tidak bisa menghentikannya. Dan Tuan Muda juga tidak bisa lebih dari itu."
"Kakak gila itu memperkosa Kamila saat seharusnya dia pergi menghamili istrinya!"
"Tenanglah, Nona. Itu bukan hal serius."
"Apa?" Ribia tercengang. Bagaimana bisa pelecehan pada saudarinya disebut tidak serius?
"Saya akan melakukan sesuatu jika Nona Kamila sungguhan menolak." Hera lagi-lagi tersenyum. "Tapi pada kenyataannya, bertahun-tahun saling menyimpan rasa, Nona Kamila tidak mengatakan apa-apa. Kenapa? Karena itu akan membuat semua orang tahu beliau juga mencintai Tuan Muda."
Ribia tercengang, lebih dari yang tadi.
Mendadak ia merasa pijakannya goyah.
Jika Iaros tidak waras, dirinya wajar saja. Pendidikan Narendra membuat semua pria Narendra memang punya sisi gila masing-masing. Tapi Kamila?
Tidak mungkin. Lagipula kalau dia benar mencintai Iaros, kenapa dia menolaknya?
"Aku mengerti." Ribia mau tak mau harus menerimanya. "Kalau begitu beritahu aku semua yang kamu ketahui tentang mereka."
__ADS_1
"Saya tidak mengetahui lebih dari yang bisa Nona ketahui."
"Berhenti berbelit."
"Tolong tanyakan itu pada Tuan Muda Iaros sendiri, Nona." Hera berjalan melewatinya. "Permisi. Tuan Muda Pertama sudah menunggu saya."
*
Kamila terduduk kosong menerima suapan bubur dari mangkuk di tangan Iaros. Wajahnya sangat pucat, tapi Kamila sendiri sudah lelah dengan dirinya sendiri.
"Ada apa?"
Ia tak menolak ketika tangan Iaros berada di wajahnya, membelai meski ekspresi Iaros datar. Kamila malah terpejam. Membiarkan rasa senang juga rasa jijik itu bercampur.
"Saya menjijikan," gumamnya lemah. "Saya menyukai Anda, tapi saya juga menolak Anda. Saya tidak ingin melukai orang lain demi keegoisan saya, tapi saya juga merebut Anda dari tangan istri Anda."
"Mudah bagi Anda." Kamila hanya memaksakan diri menelan bubur meski ingin muntah. "Anda pria. Anda boleh menikah, Anda boleh bekerja, Anda boleh meninggalkan kastil, Anda boleh pergi ke mana pun yang Anda mau."
Sementara Kamila?
Ia tak boleh mengharapkan apa-apa. Tidak boleh melihat apa-apa. Peraturan adalah peraturan baginya.
Tidak seperti Iaros yang punya istri tapi berani menidurinya sekarang, Kamila bahkan tidak berani menerima perasaan Iaros karena Helen.
Aku benci jadi wanita. Kamila meremas selimutnya kuat-kuat.
"Kamila-ku." Iaros tahu-tahu sudah bernapas di pipinya, semakin lembut mengusap wajah Kamila. "Akulah yang akan menghapus batasan dalam hidupmu. Jangan bersedih. Setelah ini aku akan membawamu pergi melihat banyak hal."
__ADS_1
Setelah itu, Iaros memang menepati perkataannya.
Dia menemani Kamila beristirahat, lalu saat malam tiba, Iaros membawanya keluar untuk melihat pemandangan pantai dari halaman vila mereka berada.
Ia mengikuti langkah Iaros perlahan. Menahan sakit di tubuhnya karena perbuatan Iaros, lalu sekarang memegang tangannya seolah tak ada satupun yang melihat mereka.
Dari kejauhan, Lily nyaris kehilangan pijakan. Tapi di sisi lain, Aether menyesap gingseng hangatnya dengan mata tajam menyaksikan hal itu.
"Apa yang sedang dia lakukan?"
Zefirus menyaksikan itu juga di sampingnya. "Terang-terangan menggandeng tangan Kamila di sini, di depan istrinya, Iaros mulai hilang kendali."
Aether berusaha tidak menunjukkan kemarahan. Sebagai anak pertama sekaligus pewaris yang menjadi pemimpin bagi seluruh sepupu dan saudaranya, Aether terbiasa mengatur segala sesuatu tetap pada tempatnya.
"Panggil Helen kemari."
Wanita yang tadinya duduk di meja bersama istri-istri Narendra lainnya datang memenuhi panggilan. "Anda memanggil, Tuan Muda?"
Aether mengisyaratkan dia melihat ke arah Kamila dan Iaros meski sudah jelas dia juga menyaksikan. "Pisahkan mereka. Ajak Iaros ke kamarmu."
"...."
"Kenapa diam?"
Wanita itu menunduk sopan. "Tidak, Tuan Muda. Mohon maaf."
Sebaiknya dia melakukan dengan baik karena jika Aether turun tangan, ia terbiasa melakukannya dengan terlalu tegas.
__ADS_1
*