Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
29. Melupakan Terlalu Banyak [REVISED]


__ADS_3

Kamila mungkin terlalu serakah.


Mungkin sejak awal ia memang tidak boleh mengharapkan apa-apa.


Bagaimana hidupnya berjalan selama ini memang karena itulah yang paling baik untuk dirinya.


Jika saja ia tak mendekati Iaros sejak awal. Jika saja Kamila tidak mengharapkan Iaros sejak awal, paling tidak ia tak perlu terkurung dalam belenggu ini.


"Kamu harus makan."


Kamila bernapas lemah seraya bersandar pada tembok. Pelan-pelan matanya memandangi Iaros yang kini tak lagi menghiasi diri dengan pakaian Narendra, seolah-olah dia ingin menunjukkan bahwa sekarang mereka sudah bukan Narendra.


"Makanlah, Kamila. Percuma melawanku." Iaros terus menyodorkan suapan ke mulutnya. "Bukankah kamu yang minta agar jangan meninggalkanmu?"


Ya, seharusnya ia tak minta.


Seharusnya ia tak memohon seperti orang bodoh.


"Kamila."


Perasaan terhina itu membuat Kamila menangis. Tapi ketika ia menyadari tidak ada sesuatu yang bisa dirinya lakukan selain bermain di telapak tangan Iaros, pada akhirnya Kamila membuka mulut.


"Jangan menangis." Iaros mengusap-usap lelehan air mata di pipinya. "Aku tidak menyakitimu."


Kamila menggertak giginya oleh perasaan jijik. "Kamu puas?"


"Kamila—"

__ADS_1


"Begitu caramu mencintai wanita? Mengurung tangan dan kakinya lalu meninggalkannya sendirian di sini? Apa yang kamu mau? Seorang boneka? Makan kapan kamu menyuapiku, lalu tidur kapan kamu menyuruhku. Aku apa bagimu, bajingan?!"


Tapi mata Iaros tak berubah. Dia justru mendekat, meletakkan bibirnya di sudut mata Kamila. "Aku mencintaimu."


"...."


"Aku mencintaimu dengan cara yang kamu sukai, Kamila." Iaros mengusap-usap belenggu di tangannya. "Aku mencintaimu dengan lembut dan sopan bertahun-tahun. Tapi kamu menolak."


Kamila hanya menatapnya penuh kebencian. Ia tak tahu apa yang Iaros bicarakan tapi sumpah mati sekarang Kamila menyesal.


Tidak, mungkin lebih tepatnya ia marah.


Marah pada dirinya sendiri yang bahkan ketika mencintai, ia malah mencintai seseorang seperti ini.


"Matamu ini," Iaros masih membelai wajahnya, "kamu melihatku seperti binatang karena aku mencintaimu."


Kamila hanya meremas pakaiannya kuat-kuat. Berusaha keras untuk tidak melawan lalu justru menyakiti dirinya sendiri.


Dia yang meninggalkan Kamila, memaksa Kamila untuk menerima kesendiriannya.


"Kamu melupakan terlalu banyak hal." Iaros sekali lagi mencium pipinya. "Tapi aku baik-baik saja dengan itu. Lupakan saja semuanya. Karena apa pun di belakang sana tidak penting lagi bagiku."


*


Aether mengunjungi kamar Lily malam ini untuk mengecek kondisinya. Sejak Kamila dibawa lari, pelayan melaporkan bahwa Lily tak memakan makanannya dan hanya terus menangis di dalam kamar sendirian.


Berbeda dari Kamila yang cukup dekat dengan Iaros juga Ribia, Lily ramah pada semua orang tapi tak dekat secara khusus dengan siapa pun.

__ADS_1


Teman baik Lily hanya Amarilis, ibunya, hingga Aether putuskan datang secara langsung membujuk dia.


Sekaligus ada hal yang perlu ia tanyakan.


"Jangan khawatir dan percaya padaku." Aether membiarkan adiknya itu menangis sementara Hera menyiapkan makanan di atas meja. "Semua baik-baik saja. Iaros tidak mungkin lari terlalu jauh dari kami."


Tidak banyak tempat yang bisa Iaros jadikan tempat pelarian, bahkan jika sekarang mereka berada di luar negara kelahiran mereka. Korea mungkin luas, tapi jangkauan Aether bisa meliputi benua mereka sekarang.


Mau dia di bawah tanah atau di atas langit, Aether percaya diri menemukan adik bodohnya itu di mana.


"Kita akan menyelesaikan ini tanpa keributan. Jangan khawatir."


Pantas saja Hera meminta agar liburan kali ini mereka hanya menyertakan generasi mereka. Ayah, ibu, paman, tidak ada satupun yang ikut.


Istrinya sudah punya firasat. Meski itu tetap mengejutkan Iaros sampai kehilangan akal sehat.


"Lily, katakan dengan jujur." Aether menangkup wajah adik perempuannya yang terus menggigil ketakutan itu. "Apa yang Iaros lakukan? Beritahu aku. Hal gila apa yang dia perbuat?"


Hera berdiri di samping tempat tidur, memegang segelas air minum. "Ini tentang pengawal Nona Kamila yang dikabarkan jatuh sakit dan mati, benar, Nona?"


Pengawal Kamila.


Aether memang mendengar kabar bahwa pernikahan setengah Narendra akan dilakukan oleh Kamila, bukan Lily. Tapi kabar itu pun berganti kembali hingga Aether kira Amarilis berubah pikiran karena putri bungsunya tidak mampu mengemban tugas.


"Apa Iaros membunuhnya?" tebak Aether yang lebih dulu dijawab oleh isak tangis Lily.


Jadi begitu.

__ADS_1


Jadi itu yang terjadi.


*


__ADS_2