Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
89. Keputusan Terakhir


__ADS_3

Kamila tidak mengerti apa yang Tethia maksudkan tentang keputusan akan diumumkan okeh Demeter. Tapi ketika Lily mengajaknya pergi ke ruangan utama Narendra, mengumpulkan semua orang termasuk Kamila di kursi roda dan Iaros, Kamila langsung bisa memahaminya.


Demeter tidak tersenyum.


Dengan kata lain, Aether berhasil membungkamnya.


"Aku akan berbicara mewakili Kakak Pertama di sini." Demeter melirik Kamila sekilas sebelum lurus menatap Iaros. "Kakak Aether menyerahkan keputusan padaku, dan Paman Pemimpin menyetujuinya."


Tangan Lily memegang Kamila kuat-kuat. Di sini, mungkin apa pun keputusannya akan tetap merugikan mereka. Jadi sebenarnya ini sesi yang sangat tidak mau mereka dengarkan.


"Keturunan setengah Narendra mulai saat ini dianggap tidak ada."


Kamila mengepal tangannya kuat-kuat.


"Tapi untuk menghormati Kamila dan Lily, aku menyarankan pernikahan untuk mereka. Kecuali dengan Kakak Aether dan Kakak Hefaistos."


Mata Iaros dan Kamila bertemu. Ketika itu terjadi, Iaros langsung memalingkan wajah, membuat Kamila tahu bahwa dia sudah bukan Iaros yang rela berlutut untuknya.


"Dan untuk Kakak Iaros," Demeter terlihat jelas menahan kemarahan saat ingin mengatakan lanjutan kalimatnya, "dia secara pribadi mencabut permintaan perebutan hak waris. Jadi Kakak Aether memutuskan ...,"


Kemungkinan besar hukuman mati. Kamila cukup yakin itu. Setelah semuanya, Iaros sudah kehilangan kehormatan sebagai Narendra karena mencabut perkataan yang dia berikan.


"..., kurungan terdalam akan jadi tempat Kakak Iaros mulai sekarang."


Kamila tertegun.


"Helen akan tetap menjadi istrinya, tapi tidak diizinkan menemani Kakak Iaros. Juga tidak diizinkan mengandung keturunan Narendra."

__ADS_1


Jantung Kamila serasa dirajam.


Dengan kata lain, Iaros juga akan dihapuskan dari sejarah Narendra tanpa meninggalkan keturunan sama sekali.


Dan semuanya karena Kamila.


"Lalu terakhir, untuk Kamila," ucap Demeter lagi, menatapnya lebih lama kali ini, "perbuatanmu terakhir kali sulit dimaafkan oleh Narendra. Apa pun alasanmu, aku merasa keputusan terbaik adalah menerapkan hukuman kurungan seumur hidup. Dengan siapa pun kamu menikah, kamu dilarang meninggalkan kamar dan hanya boleh bertemu orang lain, termasuk Lily dan Bibi Amarilis, sekali dalam seminggu."


Kamila semakin mencengkram pakaian di lututnya.


Ia pantas dengan hukuman apa pun, tapi Iaros seharusnya ....


"Tapi," Demeter tiba-tiba terlihat sangat dingin, "Kakak Aether mengizinkan jika Kakak Iaros dan Kamila memutuskan bersama."


Secara bersamaan, Kamila dan Iaros tersentak.


"Kalian punya waktu dua jam memutuskan. Hanya itu." Demeter berbalik, pergi meninggalkan ruangan pertama kali.


*


Iaros sedang melepaskan pakaiannya di dalam kamar. Mengganti kemeja dan tuksedo berpola mawar yang biasa ia gunakan menjadi kemeja tanpa pola, dibantu oleh Helen.


Tidak banyak percakapan yang terjadi antara mereka. Bahkan kalau satu sama lain mau saling berbicara pun Iaros tak tahu harus mengatakan apa pada istrinya.


"Anda tidak menerima tawaran Tuan Muda Pertama?" Ternyata Helen yang membuka percakapan lebih dulu. "Bukankah itu yang paling Anda inginkan?"


Iaros mengancing kemejanya tanpa suara.

__ADS_1


Daripada harus mendengar pertanyaan yang tidak mau ia jawab, Iaros putuskan keluar. Demeter bilang dalam dua jam sejak pengumuman Iaros akan dibawa ke kurungan terdalam, tapi tidak ada yang perlu ditunggu dalam dua jam.


"Kakak."


Dari belakang, suara Euribia menghentikan Iaros. Gadis itu berlari, tiba-tiba menjatuhkan diri ke pelukan Iaros hingga ia sendiri terkejut.


"Ada apa?" tanya Iaros tak menyangka.


Setelah melukai Agav, seharusnya Ribia malah kesal Iaros tidak dibunuh saja.


"Aku menyayangi Kakak." Ribia ternyata menangis. "Aku menyayangi Kakak. Jangan lupakan itu."


".... Meskipun aku melukai pengawal kesayanganmu dan ... Kamila?"


Ribia mengangguk. "Meskipun begitu."


Dasar anak bodoh.


Iaros menghela napas. Meletakkan kecupan di puncak kepala Ribia setidaknya untuk terakhir kali.


Dua puluh tiga tahun Iaros hidup, lebih dari setengahnya habis untuk ia menatap Kamila. Sejujurnya bagi Iaros, anak ini sedikitpun tidak berarti apa-apa.


Tapi Iaros yang seperti ini pun Ribia masih mau memeluknya dan berkata dia menyayangi Iaros.


"Aku juga menyayangimu," bisik Iaros lemah. "Jaga dirimu, Adik Kecil."


*

__ADS_1


__ADS_2