
Kamila hanya bisa menyaksikan semua itu dari lantai dua arena, di mana Aether, Agav dan Iaros masing-masing telah memasuki arena.
Sejenak, mata Kamila berpaling ke sekitaran. Menemukan semua Narendra dari generasinya, pengawal-pengawal para nona muda, dan tentu saja Paman Ainias serta sang Tuan dan Nyonya Besar Utama berkumpul.
Kedua tangan Kamila terus terkepal. Emosi dalam dirinya bergejolak menyaksikan mereka.
Padahal ini tentang dirinya, namun sejak awal hingga akhir, tidak ada satupun yang Kamila benar-benar lakukan seorang diri. Bahkan Ribia turun ke sana karena Kamila.
“Saya sekarang mengerti.” Kamila bergumam. “Alasan mengapa saya terlahir dalam kondisi ini.”
Dios mengangkat alis. “Benarkah? Menurutmu kenapa?”
“Karena dunia tahu saya memang tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya menangis, melemah, meminta tolong, dan tidak pernah benar-benar melakukan sesuatu sendiri.”
Kamila menggigit bibirnya keras. Lihat, baru begini, ia sudah mau menangis.
“Saya tidak diberi kesempatan sebab saya hanya akan membuang-buang kesempatan itu.”
“Anda benar.”
Tidak mungkin Dios menggunakan bahasa formal pada Kamila, jadi tanpa menoleh, ia tahu itu adalah suara Helen.
Istri Iaros yang menyaksikan semua pemberontakan Iaros sambil menggigit lidah, menunggu kematiannya.
“Kelemahan adalah hal yang menyebalkan.” Helen bergumam parau. “Saya selalu mendengarnya, Nona. Perkataan yang terngiang-ngiang, bahwa kelemahan adalah hal wajar yang harus disingkirkan. Karena meskipun itu diciptakan, itu seperti debu, saat dia datang, jangan pandangi namun bersihkan.”
__ADS_1
Kamila terpaku.
“Anda benar-benar menyebalkan.” Helen tak memiliki keraguan bahkan ketika Dios mendengarnya. “Karena itu, jika ini berakhir, ada satu yang saya syukuri.”
Helen tersenyum lembut padanya.
“Saya sangat bersyukur karena Anda juga akan mati. Dengan sangat menyedihkan.”
Tawa Dios terdengar di antara mereka. Jelas saja dia menikmati. Setelah sekian lama saling memperebutkan seorang pria, kini keduanya benar-benar menunjukkan permusuhan.
Sayangnya, hal itu tidak dapat dinikmati lebih lama, sebab Hefaistos telah turun ke bawah, bersiap sebagai pengawas. Pandangan Dios bertemu dengan adiknya, Demeter, tapi gadis itu hanya tersenyum kecil lalu berpaling.
Nampaknya dia sedang marah pada sesuatu. Kehadiran Aether di bawah sana pasti berkat campur tangan Demeter, tapi kehadiran Iaros di sana pasti juga masuk perhitungan Demeter.
Anak itu, siapa yang mau dia hancurkan di antara keduanya?
Iaros memegang gagang pedang tajam itu dengan pasti. Sudah cukup lama sejak terakhir ia memakai pedang. Mau tak mau, Iaros jadi ingat bahwa dulu Ibu sering menerbangkannya dengan tendangan dalam sparring.
“Bukankah Ibu sudah bilang?” katanya setiap kali Iaros kalah. “Ayukan dengan emosi tapi gunakan pikiranmu. Jangan hanya menggunakan emosimu seperti kera, jangan hanya menggunakan pikiranmu seperti robot. Gunakan keduanya!”
Dulu Iaros membencinya. Sangat membenci benda ini dan segala pelatihan ketatnya. Tapi sekarang, Iaros jadi merasa nostalgia.
Aku sangat tahu jika Ibu ada di sini dan aku berkata akan membunuh Aether demi Kamila, Ibu akan membantuku.
Iaros mencium gagang pedang itu sebagai bentuk hormatnya pada Ibu.
__ADS_1
Meskipun Ibu sedang terbakar di neraka, aku akan tetap bilang, tolong saksikan aku.
“Aku hanya akan mengatakannya sekali.” Iaros mengayunkan pedang ke samping, kini benar-benar siap. “Keluarlah karena aku tidak peduli pada Ribia.”
Ia mengatakannya pada Agav. Karena Iaros hanya peduli pada Aether sekarang.
Tapi, Agav memasang postur pula. “Penghinaan Anda pada Nona saya tidak mungkin akan saya terima.”
Aether menepi, yang berarti dia memberi Agav kesempatan. Karena Iaros tak mau membuang waktu, pria itu langsung menerjang Agav.
Suara benturan besi terdengar menggema. Ketegangan langsung meningkat bersama intensnya kibasan pedang mereka.
Iaros meraih leher Agav dengan tangannya yang tak memegang pedang, menarik dan membanting pria itu ke lantai. Tapi Agav bukan kroco. Dalam waktu sesaat itu Agav memutar kakinya ke leher Iaros, balik membantingnya.
Mereka yang bernapas akan kalah. Agav dan Iaros langsung melompat menjauh, kembali memasang postur pertahanan.
Aksi saling menebas yang dikombinasikan dengan bela diri itu berlangsung sengit. Iaros berusaha keras melakukannya secepat mungkin, mencari celah Agav.
Tepat saat Agav menunjukkan celah di sisi kiri tubuhnya, Iaros menghunuskan pedang.
Agav menyadarinya, tapi kurang dari sedetik menghindar.
Gema teriakan Ribia terdengar, akan tetap mata Iaros mencari Kamila.
Di tempat itu, diiringi oleh teriakan Ribia, Kamila nampaknya mengingat sesuatu yang terlalu menakutkan untuk diingat.
__ADS_1
*