Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
32. Salah Iaros


__ADS_3

Helen berdiri di dekat jendela kamarnya ditemani segelas alkohol. Matanya memandangi lautan yang tampak jauh dan gelap, masih bisa mendengar samar-samar desiran ombak.


Tak ia duga akan mendapatkan penghinaan semacam ini di masa bulan madunya.


Meski Helen tak peduli bagaimana perasaan Iaros, ia hanya bisa tersenyum getir mengetahui hanya dirinya yang bernasib demikian.


Aku harus muntah darah dan patah tulang belulang kali agar bisa jadi istrinya. Helen menyandarkan diri pada jendela saat perasaan sesak itu diam-diam datang. Tapi bukan hanya tidak peduli padaku, dia bahkan lari membawa adiknya.


Pasti sangat enak hidup Tuan Muda Narendra itu sampai-sampai dia bisa kabur meninggalkan semuanya demi cinta untuk Kamila. Bisakah Helen juga kabur? Ke tempat mana pun ia sendirian dan tidak terhina lagi.


Ini menyesakkan.


"Istri perawan kakakku nampaknya sedang merenungi rasa malu."


Helen mendengar suara pintu terbuka, jadi ia tak terkejut ketika Dios datang ke sisinya.


"Aku menyaksikanmu," kata Dios lagi, merebut minuman Helen begitu saja. Sambil ikut bersandar, dia menyesapnya tenang-tenang. "Kamu membiarkan Iaros dan Kamila bertindak memalukan."


Helen mengatup mulutnya sebelum ia membalas, "Apa Anda tahu di mana mereka?"


"Kenapa? Kamu ingin menyusul?"


"Rasa malu yang saya tanggung sekarang tidak ada apa-apanya dibanding para Nyonya Besar dan Tuan Besar tahu perbuatan Tuan Muda saya." Helen berusaha tidak menggertak giginya. "Saya harus membawa Tuan Muda kembali bahkan jika saya membencinya."


Dios tergelak. "Kamu menggumamkan kebencian pada Narendra di depan seorang Narendra. Iparku yang menggemaskan."


"Apa Anda tahu?"


"Tidak." Sejujurnya Dios pun tak menyangka jika Iaros akan bertindak sejauh ini.

__ADS_1


Segila apa pun dia, kabur membawa Kamika benar-benar melecehkan nama Iaros di mata Narendra, jadi normalnya ini bukan sebuah pilihan.


Tapi kurasa dia memang sudah sangat gila mencintai Kamila, pikir Dios geli.


"Aku tidak tahu di mana orang bodoh itu." Dios mendekat. Berdiri di depan Helen, lalu membungkuk ke telinganya. "Meskipun bisa dibilang aku tahu seseorang yang tahu mereka di mana."


*


Meskipun Iaros dan Kamila sedang kabur, bukan berarti seluruh kegiatan liburan mereka dibatalkan. Hari ini Ribia tetap mengikuti jadwalnya, berjalan-jalan di tepi pantai sambil menikmati desir ombak pesisir pantai kota Busan, ditemani camilan khas daerah sekitar yang Agav beli untuknya.


Ada beberapa kakaknya yang juga memutuskan ke pantai hari ini, termasuk Aether dan Hefaistos. Mereka berdua duduk di bawah payung yang menghalau sinar matahari, mungkin akan sangat menikmati betapa lepas mereka dari tanggung jawab pekerjaan jika saja masalah Iaros dan Kamila tidak membebani.


Sejak kemarin, ekspresi Aether sudah sangat keruh.


Tentu saja dia yang akan bertanggung jawab penuh jika sampai Iaros dan Kamila belum kunjung kembali.


Pengawalnya mengikuti langkah Ribia dari belakang. "Tenanglah, Nona. Terburu-buru melakukan sesuatu juga hanya akan merugikan."


"Tapi bagaimana jika Iaros melukai Kamila?"


Agab menghela napas. "Jika Tuan Muda Iaros ingin melukai Nona Kamila, maka itu sudah dilakukan sejak lama."


"Tapi Kamila juga aneh." Ribia menatap hamparan laut dari balik kacamata hitamnya. "Kenapa aku baru sadar? Dia jadi sering sesak napas. Dia juga selalu terlihat takut dan gelisah. Lalu soal pengawalnya itu, aku yakin memang Kamila yang menikah waktu itu. Kenapa sekarang Lily?"


"Saya dan Nona sudah cukup mengetahui bahwa Tuan Muda Iaros dan Nona Kamila terlibat sesuatu."


"Tapi Kamila—"


"Nona."

__ADS_1


Keduanya berpaling pada sosok Helen yang sejak tadi bergabung di tenda Hera dan para istri senior kakak-kakaknya. Mau tak mau, dia juga sekarang diawasi ketat atas perintah Aether.


"Ada apa?"


Helen menundukkan kepala sopan sebagai sapaan sebelum langsung mengatakan keperluannya. "Apa Anda tahu di mana Tuan Muda saya?"


Mulut Ribia langsung terkatup.


Reaksinya sudah cukup memberitahu Helen bahwa Dionisos tidak berbohong. Anak ini tahu sesuatu mengenai Iaros dan Kamila.


"Tolong, Nona." Helen menundukkan kepala dalam-dalam. "Wajah dan punggung saya sudah berlubang karena rasa malu atas tindakan Tuan Muda saya. Beliau harus kembali sebelum Tuan Besar mengetahui perbuatan beliau. Tolong. Bicara dan jangan rahasiakan itu."


Ribia mengepal tangannya kuat-kuat. Ia bisa merasakan mata Aether mengawasi seolah dia curiga kenapa Helen menunduk pada Ribia di tepi pantai.


Tapi jika Aether tahu maka ....


"Nyonya Muda, sepertinya Anda salah paham." Agav menyentuh punggung Ribia seolah berkata jangan takut. "Nona saya memang mengetahui Tuan Muda membawa Nona Muda pergi, tapi Nona saya tidak mengetahui letak persis lokasi mereka."


Ribia berusaha tidak memejam.


Pasti ada yang mau Agav lakukan sampai dia bersikeras berbohong sekarang. Tidak apa. Percayalah, dia tidak bermaksud melakukan sesuatu yang buruk.


Agav sudah bersamanya nyaris dua tahun terakhir. Apa pun yang dia lakukan, itu adalah sesuatu yang dia anggap solusi terbaik.


"Aku akan membantumu sebisaku, Helen." Ribia mengusap-usap bahu Helen saat tersenyum pasrah. "Tenanglah. Ini bukan salahmu. Kakak Aether tidak menyalahkanmu."


Semua salah Iaros.


*

__ADS_1


__ADS_2