
Lily tak bisa tidur. Matanya tak mau terpejam ketika ia terus berpikir, berharap bahwa tak ada yang berubah.
Jika saja monster itu tidak mencintai Kamila.
Tidak. Jika saja monster itu tak lahir, maka tidak akan ada sesuatu seperti ini.
Begitu Iaros benar-benar menaiki tahta Aether, dia mungkin hanya akan membunuhi semua orang agar hanya tersisa dia dan Kamila. Agar dia bisa mengurung dan menyiksa Kamila sambil terus berdalih dia mencintainya.
“Nyonya Lily.”
Punggung Lily menegang. Terpatah ia berbalik, menemukan Helen berjalan mendekat. Mau apa dia dipukul dua pagi seperti ini?
“Helen.” Lily berusaha mengendalikan diri. “Apa yang kamu lakukan?”
Tapi mungkin ekspresi Lily terlalu jelas untuk mengelabui mata tajam Helen. “Saya melihat Anda dan memutuskan menghampiri Anda. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan.”
Pasti soal Iaros.
“Ya.” Lily hanya bisa mengangguk. “Apa itu?”
“Apa sebenarnya yang terjadi antara Tuan Muda dan Nona Kamila?”
Jika mengikuti etika, itu pertanyaan fatal. Karena Helen tidak berada dalam posisi boleh mencampuri hubungan antar Narendra. Lily punya hak tidak menjawab, bahkan menganggap Helen menghinanya.
__ADS_1
Helen tahu itu, makaya dia langsung berkata, “Anda boleh menampar saya jika saya berbuat salah. Tapi jika Anda memberi izin, tolong bantu saya.”
“....”
“Saya berada dalam posisi memalukan sekarang, Nyonya Muda. Hubungan saya dan Tuan Muda terang-terangan tercoreng di depan Anda semua. Saya adalah pihak yang paling harus menanggungnya. Saya tidak meminta belas kasihan. Saya meminta pengertian jika Anda bisa.”
Perasaan Lily tertusuk. Jelas ia tahu bahwa Helen telah disirami oleh air kotor sejak Iaros menunjukkan perasaannya pada Kamila.
Dia yang menanggung semuanya sebab monster itu tidak boleh salah.
Helen mengembuskan napas kecil ketika Lily diam. “Saya akan kembali. Maaf mengganggu malam Anda.”
Tapi ketika ingin berbalik, Lily langsung berkata, “Tuan Muda dan Kamila berhubungan sejak kecil.”
Helen terdiam sesaat. “Apa maksud Anda, mereka saling mencintai?”
“Bisakah Anda memberitahu saya apa kemungkinan penyebabnya?”
Sayangnya Lily tidak tahu. Mungkin Ibu tahu, tapi Lily tidak pernah menanyakannya.
“Dia membunuh pengawal Kamila karena itu.” Lily berusaha keras mengendalikan tangannya yang gemetar.
Ia tak bisa. Ia takut. Tangannya berulumur darah, memegang jantung yang baru saja dicabut, melihat orang yang mencabutnya justru menatap seolah itu salah Lily.
__ADS_1
Mimpi buruknya berdatangan sejak saat itu.
“Sejak dulu dia tidak mau melepaskan Kamila.” Lily menggigit bibirnya agar tak menangis. “Kamila hanya bisa berharap menikah agar punya sesuatu dilakukan selain terdiam di kamar, tapi kemudian Tuan Muda Iaros datang membunuh mimpinya.”
Helen mengangguk-angguk samar. Ragu, tapi mengulurkan tangan ke punggung Lily. “Maafkan saya bertanya, Nyonya. Terima kasih.”
Yang seharusnya dihibur adalah Helen. Sebab yang diberi pilihan jadi istri Iaros atau mati adalah dia. Tak ada pilihan ketiga.
*
“Iaros mengajukan perebutan hak kuasa.”
Kamila menegang mendengar hal mengerikan itu dari mulut Zefirus.
Spontan saja Kamila memikirkan Aether dan Hefaistos yang belum mengunjunginya tapi memerintahkan Kamila diletakkan di kamar terpisah, belum boleh dipulangkan ke Kastel Bintang di Papua.
“Apa Tuan Besar menerimanya?”
Zefirus tertawa. “Menurutmu aku belum membunuh bocah itu jika iya? Itu pertimbangan panjang. Tidak mungkin diputuskan seketika.”
“Tolong katakan Anda tidak akan menantikannya, Tuan Muda.”
“Aku menantikannya.” Zefirus mengulurkan tangan ke wajah Kamila. “Aku sudah lelah melihat tingkah bodoh Iaros itu. Biar kubunuh dia.”
__ADS_1
Apa itu salahku? Kamila mau tak mau berpikir demikian.
*