
Aether menyerahkan luaran pakaiannya pada pelayan sebelum duduk di seberang meja santai, di mana seluruh kursinya kini diisi oleh Hefaistos dan Zefirus serta Kamila.
Untuk persoalan Kamila, agar tidak terlalu mengganggu proses liburan ini, Aether tidak melibatkan orang lain lagi kecuali dua saudaranya itu.
"Aku tidak mengatakannya tadi, tapi permintaanmu menikahi Dionisos tidak bisa disetujui."
Kamila hanya diam. Ia sudah tahu. Sebenarnya ia agak menyesal mengatakan itu.
"Aku juga menunda pertanyaan ini sejak awal." Hefaistos mengarahkan wajah Kamila menoleh padanya. "Sebenarnya permainan emosi macam apa yang kalian mainkan di belakang?"
Mereka bertiga hanya menunggu reaksi Kamila dalam hening.
Sejujurnya, pembicaraan soal cinta itu tabu dalam Narendra. Tentu saja Aether mencintai istrinya, Hefaistos mencintai istrinya, dan Zefirus menganggap istrinya sebagai pasangan hidup.
Tapi, sesuatu seperti cinta dan mencintai itu aneh.
Pasangan mereka dididik sejak lahir. Mereka baru diberi nama saat setelah terpilih sebagai pasangan Narendra. Status mereka juga tidak bisa setara. Jadi hubungan suami istri dalam Narendra rasanya jauh dari sesuatu bernama cinta.
"Jawab aku, Kamila." Zefirus memecah keheningan itu. "Kamu memandang Iaros sebagai 'lawan jenis' atau sebatas 'pria gila'?"
Jika lawan jenis, maka ada rasa. Mau dia menamainya cinta, suka, nafsu, atau apa pun. Jika hanya pria gila, berarti dia tidak memiliki rasa kecuali jijik dan benci.
Kamila tak mampu menjawabnya.
Justru sekarang ia baru memikirkan itu.
Kenapa dulu ia tidak menerima Iaros? Kenapa rasanya dulu itu tidak mungkin? Namun sekarang, setelah semuanya, Kamila justru merasa bahwa ... ia juga terlibat.
"Saya ...." Kamila meremas gaun di pahanya sebagai bentuk pelampiasan. "Saya tidak bisa memahami apa pun."
__ADS_1
Ketiganya masih menunggu perkataan yang lebih jelas.
"Saya ... saya ... saya tidak tahu."
"Kamila." Aether, Hefaistos dan Zefirus bukanlah anak kecil yang akan percaya kalimat semacam itu.
Ketika sebuah pertanyaan yang sejujurnya dapat dijawab jelas namun justru dijawab tidak tahu, maka itu berarti hanya dua.
Dia tidak mau menjawab, atau dia tidak tahu bagaimana cara menjawabnya.
"Apa Anda menemukan buku harian di tempat Tuan Muda Iaros mengurung saya?"
Aether langsung menyuruh pelayan datang. Ternyata buku itu disimpan. "Ada apa dengan ini?"
"Ini milikmu?" Hefaistos mengambilnya. "Boleh kubaca?"
"Itu milik Kamila pada generasi pertama saya."
"Ada sesuatu seperti itu?" tanya Zefirus tak tahu.
"Kurasa ada." Aether mengerutkan kening. "Kalau tidak salah, memang beberapa orang dari generasi sebelumnya menulis buku harian."
Isinya mungkin sebuah curhatan, tapi diturunkan pada generasi setelahnya karena ada banyak pelajaran di sana.
"Aku hanya tahu buku harian yang ditulis Adrestia, istri pertama pemimpin Narendra ketiga." Aether memegang tangan Kamila di atas meja. "Adikku, apa ada sesuatu dengan ini?"
Hefaistos lebih dulu membacanya sebagai jawaban. "Aku berharap tidak lahir sebagai Narendra, adalah penutupan yang ditulis."
Kamila menunduk. "Bisakah saya jujur, Tuan Muda?"
__ADS_1
"Katakan."
"Mengapa peraturan yang dibuat untuk kasih sayang membuat kami merindukan kebebasan?"
Kamila menunduk saat tubuhnya langsung menggigil. Tapi, ia berusaha bertahan dengan menumpukan keningnya pada tangan Aether di atas meja.
Ia merasa harus jujur sekarang.
"Apa sampai generasi terakhir kita nanti, kami wanita Narendra hanya boleh menatap langit dan tanah di kastil? Apa kami terlalu bodoh untuk keluar, Tuan Muda?"
Aether membeku.
Tidak, adalah jawaban yang jelas semua orang akan katakan.
Narendra tidak pernah sekalipun berkeyakinan bahwa wanita terlalu bodoh jadi mereka di rumah saja jadi istri dan melahirkan.
Jelas tidak. Bahkan Aether dan seluruh Narendra yakin semua wanita Narendra lebih baik, lebih cerdas, lebih tangguh dari kebanyakan wanita di luar sana.
Tapi pertanyaan itu menusuk.
Karena Kamila mengatakannya dengan suara gemetar penuh rasa sakit.
"Saya juga ingin melihat hal lain, Tuan Muda." Kamila merintih. "Saya juga ingin pergi ke tempat yang saya inginkan. Tapi hidup saya tidak membolehkan saya. Karena saya wanita Narendra, disayangi dan dijaga, saya harus hidup di kastil tanpa melakukan apa-apa. Saya tidak menikah, tidak memiliki anak, tidak memiliki teman, tidak memiliki pekerjaan. Satu-satunya yang boleh saya lakukan hanya bernapas dan menunggu kematian."
Tenggorokan Aether serasa diganjal oleh batu.
Ia tahu itu tapi ... kenapa rasanya ia tak pernah tahu?
...*...
__ADS_1