
Kamila terduduk merenungkan halusinasi barusan. Datang dari mana pikiran semacam itu? Dirinya selalu jadi pihak lemah. Selalu jadi pihak yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan segalanya dalam diam. Jika saja bisa, sedari awal Kamila menguasai Iaros dan bukan dirinya yang dikuasai.
Tapi ....
Kamila meneguk ludah kasar saat mendongak pada langit-langit kamar yang tertutup.
Entah kenapa ia memberanikan diri turun. Berlutut di lantai, pada sejumlah makanan dan perhiasan yang Iaros bawakan untuknya.
Tatapan Kamila tertancap pada sebuah kotak cincin. Napasnya tertahan menemukan sebuah cincin dengan batu berlian merah yang biasanya cuma bisa tersemat di jemari Narendra murni.
"Aku mencintaimu, Kamila."
Kamila tidak percaya pada cinta orang itu ketika dia memperlakukan Kamila seperti binatang. Tapi jika benar, jika sedikit saja ia bisa, akankah belenggu ini lepas?
"Iaros."
Apa yang ia miliki selain keberanian sekarang? Bahkan jika ternyata semua hanya khayalan, Kamila harus melakukan sesuatu.
"Iaros," panggilnya sekali lagi. Mendongak ke atas berharap atap itu terbuka segera. "Iaros!"
*
Sementara itu, Iaros duduk memandangi layar ketika Kamila mendadak berteriak. Ia sempat diam, bertanya-tanya ada apa, tapi segera beranjak karena nampaknya ada sesuatu yang mau dia katakan.
Lantai yang merupakan atap bagi Kamila itu terbuka atas izin Iaros. Memperlihatkan gadisnya langsung terbelalak memegangi kotak cincin di antara hadiahnya.
"Ada apa?"
Kamila menyeka air matanya yang banjir sebelum tiba-tiba berkata, "A-aku ... aku ingin ini."
Ada kebingungan dalam diri Iaros.
__ADS_1
Belum genap dua jam Kamila meneriakinya, lalu sekarang dia berbicara seakan dia—
Tidak, tunggu.
Iaros langsung melompat panik. Mendatangi Kamila untuk memastikan dari dekat.
"Kamila?" Iaros merengkuh wajahnya. Menatap lurus-lurus mata lemah memerah yang begitu mudah basah itu.
Hari itu juga sama. Hari itu tiba-tiba dia bertingkah aneh dan melupakan segalanya. Jangan bilang dia mengalaminya lagi!
"Kamila, kamu mengenalku?"
Dia tak menepis Iaros. Dia justru memejam, dengan ekspresi yang sama ketika Iaros menyentuhnya beberapa waktu lalu.
Ini Kamila yang tidak berdaya merindukan Iaros sekaligus Kamila yang melupakan kebenciannya pada Iaros.
Tapi kenapa?
*
Tidak mungkin ini nyata.
Tidak mungkin.
Tapi Kamila juga tak melepaskan Iaros. Terus memeluknya, merasakan debaran jantungnya, bahkan jika ia harus menahan rasa jijik dan marah.
"Iaros." Kamila terus bergumam di telinganya. "Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau sendirian."
Iaros menjauh dan Kamila tak percaya bahwa itu wajah yang sama, beberapa waktu lalu menatap dingin amukan Kamila.
Kini dia menatap dengan ekspresi lemah. Matanya memerah, bernapas lemah membiarkan kedua tangan Kamila di pipinya.
__ADS_1
"Ini aku," bisik pria itu. "Ini aku. Sebut namaku."
Benarkah ia bisa menguasainya? Monster yang membawa Kamila pergi?
"Monster itu mencintaimu." Lagi-lagi Kamila berhalusinasi. Rasanya seakan seseorang berbisik di belakangnya, nenuntun Kamila untuk mendekap kuat tubuh Iaros. "Monster itu tunduk di kakimu. Dia peliharaanmu. Dia yang binatang bagimu."
Napas Kamila berembus kasar. Ia menguatkan pelukannya. Kuat dan semakin kuat sampai tak sadar justru mencengkram rambut Iaros.
Tapi seolah halusinasinya adalah nyata, Iaros tak marah. Dia justru memeluk erat punggung Kamila, mengerang samar tanpa kesan dia kesakitan.
"Iaros." Kamila mendongak. Menemukan wajah Iaros justru memerah, tersenyum padanya. "Jangan pergi ke mana pun. Jangan biarkan aku sendirian."
Iaros menunduk, mengecup alisnya. "Aku tidak pergi ke mana pun, Kamila."
Air mata Kamila membasahi wajahnya. Tapi ia mulai tak merasa lemah. Ia justru merasa sangat mampu melakukan segalanya ketika Iaros menyeka air mata itu.
"Kamu mencintaiku?"
Tangan Iaros terkubur di sela-sela rambutnya. Mendekap Kamila seolah dia tak lelah berdiri dan menunduk agar Kamila bebas memeluknya.
"Hanya kamu." Iaros berguma. "Hanya kamu, Kamila."
Kamila menancapkan gigitan di leher Iaros. Kuat-kuat sampai dia mengerang keras, dan terasa sesuatu berbau karat membasahi bibirnya.
"Benar. Lakukan itu." Halusinasinya terus mendorong Kamila. "Bukan dia yang memegang talinya. Kamu yang memegangnya. Dia milikmu."
Kamila mendongak dengan bibir merah akibat darah Iaros. "Kamu milikku."
Ekspresi Iaros bergetar. Seolah sesuatu mengguncangnya, dia buru-buru menunduk, mencium Kamila tak peduli di sana terdapat jejak darahnya sendiri.
*
__ADS_1