
Kamila jelas terkejut mendengar pemberitahuan mengenai pertandingan terbuka yang akan dilakukan. Itu bukan hal biasa terjadi, namun tidak menentang aturan jika harus dikatakan.
Ekspresi wajah Aether juga keruh saat mendengarnya. Saat Kamila diam-diam menguping pembicaraan ketiga kakaknya, ia merasa tercekik oleh pernyataan Zefirus.
"Aku rasa perkataan Ares padamu tidak benar-benar keliru."
"Aku berpikir hal sama," timpal Hefaistos. "Yah, bukan hanya kamu, kurasa aku juga. Kita berputar dalam pikiran bagaimana cara menyelesaikan ini secara damai tanpa harus membunuh Iaros atau melukai Kamila, tapi anak itu terus menggonggong."
"...."
"Dari yang terlihat, kita sama sekali tidak melakukan apa-apa dan cuma diam menunggu Iaros menghina kita."
Kamila menunduk. Jelas itu kesalahannya. Terlebih saat ia memikirkan lagi, Hefaistos benar.
Jika saja dulu Hefaistos menghukum Kamila dan Iaros di waktu yang sama, maka dia setidaknya bisa menghentikan penghinaan Iaros. Tapi Aether tak melakukannya gara-gara Kamila.
Kini dia harus terus dihina tanpa bisa membalas karena sibuk memikirkan bagaimana cara dia tidak menyakiti Kamila.
Dan perbuatan Iaros seolah sudah tidak bisa berhenti. Hanya butuh waktu satu hari untuk semua orang berkumpul di arena latihan terbuka pada sisi Barat kastel, semua orang yang akan turun sudah siap bertanding.
Kamila dapat melihat wajah Ribia yang pucat saat Agav berada di bawah sana.
"Ya, Kamila."
Suara itu menarik atensi Kamila untuk menoleh, terkejut menemukan Dios setelah sekian lama dia tidak menyapa Kamila. Dios tak sendiri, karena Helen berjalan di belakangnya.
"Tuan Muda."
Dios tersenyum sangat antusias. "Aku harus berterima kasih padamu karena bisa melihat sajian ini."
"...."
"Ayolah, tidak ada yang akan terluka. Ini hanya pertandingan biasa."
"Tapi jika Tuan Muda Iaros menang maka—"
__ADS_1
"Maka permintaan dia disetujui?" Dios tergelak. "Jelas tidak. Itu hanya menambah kemungkinan, bukan membuatnya mutlak."
"Tetap saja itu berbahaya."
"Benarkah? Yah, pada akhirnya itu mengenai pertimbangan Paman Orion."
Kamila diam-diam melirik Helen, lalu menunduk bersalah. Sekarang semua orang terluka karena dirinya.
"Euribia terlihat sakit." Dios memandangi adiknya yang sedang berbicara dengan Agav. "Hei, Kamila. Kamu tahu siapa ahli pedang terbaik dalam Narendra generasi sebelumnya?"
Kenapa Dios menanyakannya? "Tidak, Tuan Muda. Saya tidak banyak mengetahui pertarungan."
"Nyonya Hilaeira." Helen yang menjawab. Membuat Kamila berpaling padanya, mau tak mau. "Saya dengar bakat berpedang beliau dikatakan yang terbaik dalam generasi istri Narendra sebelumnya. Dan belum ada yang bisa mengejar beliau pada generasi istri yang sekarang."
Dios menyeringai. "Itu benar. Ibu Hilaeira punya kepribadian yang buruk. Namun itu membuatnya berbakat dalam berpedang. Sangat."
Kamila tidak mengerti.
"Lalu satu-satunya orang yang dilatih secara langsung oleh wanita itu," Dios mengarahkan matanya pada Iaros, "adalah anak kesayangannya di sana."
"Wajar saja Ribia pucat. Kurasa hari ini dia harus mengucapkan selamat tinggal pada pengawalnya."
"Apa?!" Kamila tak sengaja meninggikan suara. "Tuan Muda, bukankah ini hanya pertandingan? Peraturan mengatakan dilarang saling melukai dalam pertandingan terbuka."
Dios tersenyum polos. "Untuk, Narendra, saja."
...*...
"Nona." Agav meraih lembut tangan Ribia yang terasa sangat dingin di hari yang seharusnya cerah ini. "Itu bukan kesalahan Nona. Saya mempertimbangkan terjadi hal semacam ini saat saya mendorong Nona. Jadi tolong banggalah pada saya."
"Tidak." Ribia nyaris tersekat oleh suaranya sendiri. "Tidak. Aku tidak mau."
"Nona-ku, saya baik-baik saja."
"Tidak." Wajah Ribia yang pucat perlahan memerah. Gadis itu mendongak, menatap senyum Agav yang lembut namun kini menyiratkan kesedihan.
__ADS_1
Dia mengucapkan selamat tinggal lewat ekspresinya.
"A-aku seharusnya tidak melawan Demeter." Ribia bergumam ketakutan. "Aku seharusnya tidak menentang dia. Aku akan memohon pada dia. Aku akan—"
"Nona, tolong jangan pecundangi kesetiaan saya." Agav menangkup wajahnya dan menatap Ribia lekat-lekat. "Tidak ada kesalahan. Sama sekali tidak. Saya adalah alat Nona dan disinilah tugas alat ini. Setelah ini, Nona harus mendatangi Tuan Muda Aether dan mendukungnya."
"Tidak, tidak, tidak. Aku akan langsung bicara pada Demeter agar—"
"Menyelamatkan Agav?" Suara Demeter di samping mereka langsung menarik perhatian keduanya. Gadis itu datang dengan senyum santai, diikuti oleh seseorang. "Euribia, sudah kubilang kamu bukan Narendra. Karena itulah kamu lemah."
"Demeter."
"Aku mengerti." Demeter tiba-tiba bergeser, memperlihatkan orang yang datang dari belakang. "Aku akan membantumu. Karena Ayah menyuruhku demikian."
Ribia terguncang sesaat. Tak menyangka bahwa kini Aether memakai setelan yang serupa dengan Iaros.
"Kakak?"
"Menurutmu aku berada di pihak Kakak Iaros? Yang benar saja. Aku berpihak pada diriku sendiri." Demeter mengulurkan tangan ke wajah Aether seolah dia adalah hewan peliharaan.
"Jika aku bisa minta maaf, maka aku akan minta maaf pada kalian." Aether menatap Agav, lalu datang menepuk bahunya. "Jangan terluka karena pertarunganmu kurebut. Ini persoalan yang tidak memerlukan harga diri lagi."
Agav terdiam sejenak. "Saya akan tetap melakukannya, jika Anda mengizinkan."
"Agav."
"Posisi Nona saya dipertaruhkan. Bentuk kesetiaan saya adalah melakukan pertandingan, meskipun saya kalah." Agav memberanikan diri menatap lurus Aether. "Saya juga tidak bermaksud kalah."
Bahkan dia tidak ragu melakukannya, pikir Aether getir.
Ditatap adiknya, Demeter, yang tersenyum mengetahui hal itu.
Nampaknya, untuk mematahkan persoalan harga diri Iaros, Aether harus menepikan persoalan harga diri yang lain. Karena yang paling menguasai permainan sekarang kemungkinan memang Demeter.
...*...
__ADS_1