
"Itu saran yang bisa diterima."
Ketika semua orang tegang akan ucapan Lily dan tatapan Demeter, Ainias justru masuk bersama persetujuannya. Dan seolah tak cukup dengan hal itu, Hera justru datang bersama Aether dan Orion.
"Itu saranmu, Demeter?" tanya Orion langsung.
Ketika kepala keluarga bertanya pada adik mereka yang paling tidak berhati, kejam dan bisa mengorbankan segalanya, bahkan Dionisos tertawa pucat.
Tentu saja. Siapa yang menduga usulan semacam itu bisa diajukan oleh orang yang justru tidak ingin Narendra tercoreng?
Namun jika benar, maka alur ini mengarah pada hal yang Demeter senangi.
Sebuah kehancuran tanpa harus mengotori ujung gaunnya sedikitpun.
Demeter tahu Ares meliriknya tak percaya, dan Dionisos nampak berharap ia mengatakan tidak. Tapi Demeter tertawa kecil, merasa situasi mereka menjadi sangat lucu.
"Ya, Paman. Itu usulanku."
"Adikku—"
Orion mengangkat tangan, mencegah siapa pun bicara, termasuk Aether. "Apa yang melandasinya?"
"Ketidakpuasan semua orang terhadap Narendra." Demeter meninggalkan sisi Ares, berdiri di samping Orion dan Ainias. "Aku tidak menyukai situasi ini, Paman. Ketika harga diri setiap kakakku runtuh satu sama lain. Itu biasa melihat mereka saling mengejek, tapi sampai meragukan kepemimpinan yang telah dipilih baik-baik, kurasa semua orang telah 'rusak'. Perombakan diperlukan. Keputusan tegas perlu diambil."
__ADS_1
"Dengan membunuh semua kakakmu, kecuali satu orang di antara mereka?"
"Ya, Paman. Dan aku memilih Kakak Aether."
"Aether?"
"Kakak Aether telah lahir untuk menjadi pewaris keluarga ini. Aku merasa Kakak telah gagal dalam bertindak, ceroboh dalam mengambil keputusan, lemah dalam melihat situasi, benar-benar membuatku muak. Tapi jika semua orang mati menyisakan Kakak sendiri, tanggung jawab dalam dirinya akan terpaksa hadir."
Dionisos menutup wajahnya dan berusaha tidak tertawa.
Benar-benar hanya Demeter yang mampu mengatakan itu di depan semua orang, semua calon mayat yang bisa dia pilih.
"Tapi ...." Demeter mendekati Aether, mengusap wajahnya yang kaku karena tekanan keadaan. "Aku akan menunggu sampai Kamila membuka mata, jika dia membuka mata."
Yang telah disetujui oleh Ainias.
Gadis berambut merah itu berlalu, disusul oleh Dionisos dan Ares.
Saran Demeter mungkin brutal. Namun dibanding kehati-hatian Aether, hasil dari keputusan itu sembilan puluh sembilan persen telah pasti.
Hingga bisa dibilang, kematian mereka hanya menunggu waktu Demeter mengumumkannya.
*
__ADS_1
"Tuan Muda."
Aether menjatuhkan diri di kursi samping tempat tidur Kamila yang masih menutup matanya tanpa suara. Ketika Hera menawarkan minuman untuk sedikit menenangkannya, Aether menggeleng lemah.
"Kurasa memang ada kesalahan dalam keluarga ini," gumam Aether dengan suara putus asa. "Kita bertahan dalam enam generasi tanpa masalah. Delapan generasi jika menghitung pendiri."
"Anda tidak akan pernah menemukan sebuah keluarga tanpa masalah, Tuan Muda. Terutama keluarga sebesar ini."
Ya, namun selama delapan generasi total itu, segala sesuatu nampaknya terkontrol. Tentu memang ada masalah. Sangat banyak masalah.
Namun Aether belum pernah membaca satu pun masalah di buku harian para leluhurnya mengenai setengah Narendra bunuh diri atau adik mereka memberontak karena urusan cinta.
"Keluarlah, Hera. Aku ingin bersama Kamila."
Setelah istrinya keluar sesuai perintah Aether, pria itu mendekatkan kursi. Meraih tangan Kamila dan menggenggamnya.
"Aku sedikitpun tidak menolongmu meskipun sudah menikmati tubuhmu." Aether mengusap-usap tangan gadis itu. "Kamu melakukan yang terbaik, Kamila. Akulah yang gagal memerhatikan semua orang. Entah kamu atau Iaros."
"...."
"Maaf membuatmu kesulitan, Adik Kecil. Aku akan berusaha lebih baik, sebisaku."
...*...
__ADS_1