
"Di mana Demeter?"
"Beliau sedang berendam, Tuan Muda."
Iaros membuka kasar kamar mandi Demeter, menemukan gadis itu tengah dipijat oleh pelayan pribadinya sementara tenggelam dalam kolam mandi seukuran kolam renang kecil.
Mendengar pintu terbuka kasar, Demeter langsung membuka mata. "Apa Kakak mencoba membuatku kesal?"
Iaros mengisyaratkan pelayan pergi, meninggalkannya berdua dengan sang adik tiri. "Demeter." Iaros mendekat, menarik tangan Demeter hingga gadis itu terkejut.
Karena Iaros hanya berjongkok di pinggir kolam, mau tak mau Demeter mendongak. "Apa, Kakak? Kurasa suasana hati Kakak sedang buruk."
"Aku tahu pikiranmu. Kamu dan Ibu." Iaros tak pernah suka mengakui ini, sebab mendiang ibunya dan Demeter selalu membuat Iaros tak nyaman. Tak bebas. "Aku tahu kamu tidak ingin menghancurkan Narendra."
Demeter tersenyum. "Karena aku menanggung nama Narendra, Kakak. Jika Narendra tercoreng, namaku yang mulia juga tercoreng."
"Aku ingin menghancurkannya."
"Lalu? Kakak berkata aku harus membantu Kakak?"
"Akan kuberikan yang kamu inginkan."
"Oh, apa itu, Kakak? Kakak mengetahuinya?"
"Wanita itu masih hidup."
Raut wajah Demeter seketika berubah. Dan itu bukan perubahan yang samar. Dia terdiam kosong, ekspresinya menunjukkan keterkejutan tak biasa yang mencekik.
Iaros tahu itu. Kelemahan Demeter.
__ADS_1
Sesuatu yang Ibu rebut dari Demeter agar adiknya tumbuh seperti ini, untuk Iaros.
Jika Demeter masihlah Demeter yang Ibu sukai, maka wanita itu adalah kelemahan besar. Perawat Demeter, seseorang yang Demeter anggap sebagai ibu kandung sebab ibu kandung Demeter harus tinggal di mansion Asgard.
"Aku tahu di mana Ibu menyembunyikan dia." Iaros mencengkram tangan Demeter. "Akan kubebaskan dia."
Demeter yang sempat terdiam, tiba-tiba tertawa keras. Dia menarik tangannya dari Iaros, kembali mendudukan dirinya ke kolam.
"Ibu Hilaeira adalah wanita cerdas dan kejam, Kakak. Untuk apa Ibu Hilaeira tidak membunuh dia sejak awal? Untuk apa Ibu Hilaeira menyimpannya untuk Kakak? Untuk mengancamku sekarang?"
Wajah cantik Demeter menjadi sangat dingin saat berganti menarik kerah Iaros membungkuk padanya.
"Ibu Hilaeira lebih percaya padaku daripada Kakak. Dia tidak akan memberikan kelemahanku pada Kakak, karena akan lebih baik akulah yang mengontrol Kakak. Kakak mengerti?"
Iaros tersenyum. "Kamu benar. Ibuku lebih percaya padamu daripada aku. Karena itulah Ibu sering mengancamku."
"Kakak mengerti."
Demeter memicing. "Kakak masih berusaha berbohong?"
"Lalu apa ini?" Saat Iaros memperlihatkan sebuah liontin berlian merah, Demeter langsung tersekat.
Sudah Iaros bilang, ia tak berbohong.
Sejak dulu, Ibu sangat menyukai Demeter dan Demeter punya kesesuaian karakter dengan Ibu. Tapi, kalian tahu, manusia terlahir suci dan lembut. Tidak ada manusia yang lahir dengan sifat jahat.
Demeter pun sama.
Meski dia dan Ibu punya kesesuaian, saat masih kecil, Demeter juga menyukai kasih sayang yang tulus dan cinta yang lembut. Ibu Hilaeira-nya tidak memiliki itu pada Demeter, dan ibu kandung Demeter pun tidak.
__ADS_1
Wanita itu memilikinya. Melimpahkannya pada Demeter, sang tuan putri kesayangan.
Kalung itu adalah kalung yang Demeter berikan secara diam-diam sebagai hadiah. Tidak ada satupun Narendra yang mengetahuinya kecuali Demeter dan wanita itu.
Bahkan Iaros tidak. Makanya ini membuktikan bahwa Iaros tidak berbohong.
"Demeter." Iaros memanggilnya lebih tenang. "Akan kubebaskan dia, jadi bantu aku."
Kekuatan Ibu di keluarga ini masih lebih kuat dari Iaros, sekalipun sekarang Ibu tidak tiada. Untuk memasukkan seseorang yang telah Ibu buang, Iaros tak bisa hanya meminta sebagai tuan muda.
Dan Demeter tidak akan pernah membiarkan dirinya mengemis pada Aether. Karena Demeter itu menjunjung tinggi harga dirinya.
Gadis itu menoleh. "Kakak menyentuh sesuatu yang berbahaya," gumam dia setengah menyeringai. "Kakak tahu aku tidak akan pernah membantu Kakak."
Iaros tahu gadis ini lawan yang menakutkan. Tapi jika Iaros hanya terus bermain aman, dirinya tidak akan pernah mendapat apa pun.
"Keputusanmu?"
Demeter tertawa kecil. "Baiklah. Aku akan mengawasi Kakak. Hanya mengawasi."
Nampaknya dia memiliki rencana lain untuk Iaros, tapi Iaros tak akan peduli.
Tujuannya hanya satu. Mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan.
"Tapi, Kakak, bukankah tidak perlu sampai menghancurkan garis keturunan kita jika hanya untuk Kamila?"
Iaros menatap dingin.
Sayang sekali, tidak seperti Demeter yang mengagungkan Narendra, Iaros tidak peduli pada Narendra ini.
__ADS_1
...*...