Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
87. Buaya Purba


__ADS_3

Kamila merasakan sesuatu menarik kesadarannya ke permukaan sebelum tiba-tiba merasa tercekik. Matanya terbuka lebar, bernapas terputus-putus melihat lampu kristal berbentuk kelopak mawar di langit-langit kamar.


"Kamila?" Lily menatap tak percaya. Nyaris membeku tapi terdorong menghampiri sang adik yang dia pikir tak akan pernah membuka mata lagi. "Kamila! Kamu mendengarku? Kamila!"


Mulut Kamila kering. Tubuhnya terasa sakit. Ia merasa sulit bergerak. Bahkan kepalanya pun seolah tak bisa ditolehkan.


Tidak ada yang bisa Kamila katakan saat dokter datang bersama sejumlah pelayan khusus. Matanya bersinggungan dengan Ribia, lalu Hera, lalu Ainias.


"Kamila." Pria itu mendekat ketika dokter mundur, menjelaskan kondisi Kamila pada Orion. "Kamu bisa menjawab? Katakan sesuatu."


Bibir Kamila bergerak-gerak terbuka. Ingin mengatakan sesuatu tapi sulit.


Apa ini berarti ia tak mati? Setelah bersiap untuk apa pun yang akan ia hadapi di kematian, Kamila masih hidup?


Kamila merasa bingung dengan apa yang terjadi, tapi esok hari ia terbangun, Kamila melihat Tethia dan Amarilis duduk di sekitar ranjangnya.


Ibu memegang tangan Kamila, tersenyum sendu. Sedangkan Tethia seperti menunggu sampai Kamila benar-benar sadar.


"Bagaimana kondisimu?" tanya istri pemimpin Narendra sekaligus ibu kandung Aether itu. "Kamu belum bisa bicara, Kamila?"


Kamila memaksa mulutnya terbuka dan kali ini berhasil. Hanya satu yang mau ia katakan.


"Maafkan saya."


Maaf, sudah melakukan hal konyol semacam ini.


"Kamu menganggap perbuatanmu salah, karena itulah kamu minta maaf?"

__ADS_1


".... Ya, Nyonya."


Tethia menatapnya, lantas menghela napas. "Baiklah, tidak masalah."


"...."


"Beristirahatlah untuk sekarang. Keputusan mengenai kondisimu akan diumumkan oleh Demeter."


Demeter?


...*...


Aether membuka satu per satu pintu pengaman menuju kurungan terdalam. Karena ini pertama kali Aether turun, jujur saja dirinya pin tidak menyangka akan mendapati semua ini.


Tembok kamuflase tiga lapis, tiga lapis lagi pintu baja, seratus bidikan senjata laser, sebelum akhirnya Aether bertemu dengan jalanan yang di bawah jalanan itu nampak kolam buaya raksasa berusia seratus dua puluh tahun.


Buaya ini yang tertua. Buaya purba yang berusia di atas seratus tahun.


Jadi Bibi Hilaeira mengendalikan Demeter dengan ini. Bahkan Aether sebenarnya takut hanya karena melihat punggung buaya itu.


Demeter tidak akan mungkin mau berjalan di lantai tipis ini bahkan jika mau.


"Aku mengikutimu karena heran." Suara Ares terdengar di belakangnya. "Apa ini? Hobi tersembunyi?"


Aether menoleh. Tapi kembali melihat ketika sadar buaya itu terbangun, dan mulai bergerak-gerak dengan tubuh gemuknya.


Ah, sial. Sudah berapa manusia yang dia makan?

__ADS_1


"Demi nama Narendra." Ares membelalak. "Itu keturunan dari peliharaan pendiri Narendra?"


"Kurasa iya." Setahu Aether, hanya buaya peliharaan Lio Narendra yang bisa tumbuh sebesar ini. Jadi kemungkinan ini memang keturunannya.


Monster yang dibesarkan oleh monster.


"Bibi Hilaeira mengurung pengasuh Demeter di dalam sana."


"Hah?"


"Aku akan menjemputnya. Itu caraku membuat Demeter diam." Aether berjalan mendekat, tapi berhenti karena ragu.


Sial. Buaya itu besar sekali. Jika dia menelan Aether, mungkin hanya butuh satu kali telan. Besarnya sekitar empat meter.


"Ares."


"Apa?"


"Jika kamu mendorongku, kurasa Tuhan juga tidak akan menyelamatkanku." Aether menoleh pada adiknya. "Jadi aku akan bertanya sekarang. Kamu benar-benar menginginkan kursi pemimpin Narendra?"


Ares terdiam, tapi kemudian mengangkat bahu. "Bahkan kalau ingin, aku bukan Iaros yang menggunakan cara memalukan agar dapat. Pergi dan cepat kembali, bodoh."


Menarik napas panjang, Aether berusaha keras memenangkan dirinya. Satu per satu pijakan ia buat di atas jalan sempit itu, melewatinya penuh ketegangan.


Lega bukan main rasanya ketika Aether memijak tempat luas lagi. Buru-buru ia mendorong pintu terbuka, tak lagi dikunci setelah semua keamanan itu.


Pemandangan di dalam membuat Aether terdiam.

__ADS_1


*


__ADS_2