
Aether merasa sangat berat harus bertemu Iaros untuk sekarang, dalam kondisi Kamila yang sedikitpun belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Tapi sebagai kakak pertama, Aether diajari untuk menepikan perasaannya jika memang itu bijaksana.
Maka Aether tetap mengajak Hefaistos, Zefirus dan Ares untuk menemui Iaros yang berkata ingin pertemuan. Dengan kata lain, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
Dionisos yang mendengar itu juga memutuskan ikut, terutama setelah ketegangan atas usulan Demeter dipertimbangkan secara langsung oleh kepala keluarga.
"Aku nyaris tidak bisa menutup mata karena pekerjaan dan masalah," gumam Hefaistos. "Jika bocah itu berbuat ulah lagi, kurasa sebaiknya aku yang membunuh dia."
"Demeter bukan pergi menemui Iaros tadi?" Zefirus melihat dua orang di sampingnya. "Adik kecil itu kurasa sedang marah."
Tidak ada yang tidak tahu bahwa Demeter hanya bisa marah jika seseorang tidak menyembahnya. Dan siapa yang tidak tahu bahwa Iaros memilih menyembah Kamila alih-alih Demeter?
Aether diam saja mendengar percakapan saudaranya itu. Mendorong pintu sel kurungan Iaros, agak terkejut menemukan anak itu memakai setelannya sebagai Narendra meski dengan wajah penuh luka.
Bisa terdengar suara Dionisos terkekeh menikmati semua itu.
"Aku muak pada drama yang kamu buat, Adikku." Hefaistos lebih dulu bicara sebelum Aether mengatakan apa-apa. "Bagaimana jika kamu sedikit menjadi laki-laki, sedikit saja, dan berhenti bertingkah hanya untuk memperparah sakit kepalaku?"
Ares malah menguap bosan, duduk lebih dulu dengan kesan dia bisa tidur bahkan sebelum Iaros bicara.
Semua orang sudah muak. Drama percintaan Iaros dan Kamila membuat mereka lelah ketika tanpa itu pun semuanya sudah melelahkan.
Jadi Aether pun berharap Iaros berhenti membuat masalah.
__ADS_1
"Bagaimana kondisimu?" tanya Aether datar.
Dibalik pakaian itu bisa ia tebak Iaros sedang menahan sakit. Beberapa tulangnya retak, jadi pasti sulit untuk terlihat baik-baik saja.
"Aku mendengar permintaan Demeter. Dia memberi saran pada Paman."
"Ya, berkat seseorang." Dionisos tersenyum. "Seseorang yang meski sudah membawa kabur seorang gadis, dibuang seperti sampah lalu masih berusaha sampai gadis itu bunuh diri."
Biasanya seseorang akan menghentikan Dionisos dari provokasinya, namun Aether bahkan tidak tertarik.
Itu kenyataan. Biarkan dia merasa malu dan terhina pada kesalahannya sendiri.
"Bicarakan perlumu, Iaros." Aether menyandarkan punggungnya pada tembok, melihat tangan yang juga dililit perban bekas pertarungan mereka beberapa hari lalu.
Iaros memejamkan mata, menenangkan dirinya sendiri sebelum menatap mata Aether, Hefaistos, dan saudaranya yang lain.
"Aku mengakui aku berbuat salah."
Bahkan Dionisos langsung kehilangan senyumnya karena terkejut.
Mereka semua langsung berdiri tegang, menatap tak percaya pada Iaros.
Tidak ada permintaan maaf dari mulut Narendra. Itu adalah ajaran turun-temurun dari sejak generasi awal mereka. Bahkan kepada sesama Narendra, mereka dilarang untuk meminta maaf atau mengakui sebuah kesalahan.
__ADS_1
Jelas Aether pun tidak percaya jika Iaros, adiknya yang menjunjung tinggi harga diri tiba-tiba memanggil untuk mengakui kesalahan.
"Aku mengakui kebodohanku," ucap Iaros meski tahu semua pikiran mereka. "Aku minta maaf."
Aether hampir bertanya apa Demeter yang menyuruhnya, namun langsung tersadar bahwa Demeter adalah orang terakhir di dunia yang bisa menyuruh Iaros minta maaf.
Apa kepalanya terpukul agak terlalu keras? Itu yang Zefirus pikirkan.
Sedangkan Dionisos merinding. Lebih merasa bahwa itu berkat tendangan Ainias jika memang dia ditendang juga.
"Kamu menyadari ucapanmu?"
"Ya." Iaros melepaskan bros safir di dadanya, lalu mendekat, menyerahkan benda itu ke tangan Aether. "Aku menyadari aku mencoreng harga diriku sendiri dengan meminta maaf sesudah melakukan semuanya. Aku meminta posisimu, aku membawa Kamila pergi, aku ingin menghancurkan Narendra, dan aku minta maaf sebelum melakukan satu di antara semuanya."
"...."
"Akan kutanggung maluku sendiri. Aku minta maaf."
Hefaistos sebenarnya belum bisa menemukan kesadaran, namun sesuatu benar-benar mengganjal di kepalanya hingga membuka suara.
"Kamu menyerah untuk Kamila?"
"Aku berlutut padanya setiap saat." Iaros berbalik, pergi untuk kembali duduk ke tempatnya semula. "Aku tidak mau melakukanya lagi."
__ADS_1
*