Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
41. Senjata Baru


__ADS_3

"Kamila." Iaros mendekatinya. "Kemari. Ayo pergi."


"Nona!" Tapi Agav berlari dari belakang sana. "Nona, menjauh dari Tuan Muda!"


Napas Kamila memburu. Ia ketakutan pada keduanya. Jika Iaros mendapatkannya maka Kamila akan terkurung bersama belenggu yang mungkin akan terpasang di setiap sudut tubuhnya sampai mati.


Tapi jika ia tertangkap oleh Agav, maka Kamila harus pulang mendapati kemarahan Ibu dan Lily.


Tidak. Tidak mau.


Kamila harus bebas. Ia sudah muak.


Tuhan di atas sana, Kamila tidak pernah diberi kesempatan mengetahui siapa Tuhan itu, namun sungguh ia memohon. Tolong jangan kutuk hidupnya terbelenggu di mana pun.


Aku ingin bebas!


"Kamila." Halusinasi itu berbisik lagi. "Berhenti menuruti takdirmu."


Bersamaan dengan bisikan yang membuatnya terheyak, tangan Kamila diraih oleh seseorang. Ia tersentak mengira itu Iaros atau Agav, tapi tubuh Kamila membeku oleh tatapan dingin Aether yang ternyata berkamuflase di sekitarnya.


Mata dingin itu.


Mata yang berbahaya.


Kamila ketakutan. Keringat dingin membanjiri wajahnya yang pucat. Tapi untuk kesekian kali bayangan dalam kepalanya tampak nyata, memegang tangan Kamila penuh keyakinan.


"Gunakan senjatamu."


Kamila ingin menangis.


"Gunakan, Kamila."


Tangannya terkepal, giginya bergemeletuk. Ia menatap Aether dan tahu bahwa kemungkinan sang pewaris ingin mengurungnya di dalam lubang lebih dalam dari kotak kurungan Iaros.


"Kakak." Kamila memeluknya. "Tolong aku."


Perbuatan itu membuat ekspresi Iaros kosong dan gelap. Sesuatu seperti rusak dalam dirinya melihat Kamila memeluk Aether begitu saja.


Sama namun berbeda dari Iaros, Aether pun terkejut. Seumur hidupnya baru kali ini dipanggil kakak oleh keturunan campuran. Meski begitu, Aether balas memeluk Kamila.


Kemarahan dalam hatinya yang sempat membara redam ketika tahu tubuh gadis ini menggigil.


"Tenanglah," biskknya. "Kakakmu menjagamu, Kamila."

__ADS_1


Iaros bermaksud berlari merebut Kamila. Namun sebelum itu terjadi, sebuah tendangan mendorongnya tersungkur.


Hefaistos menginjak punggung Iaros kuat-kuat. "Berterima kasihlah ini ruang publik hingga aku menahan diri tidak membunuhmu, Bocah."


...*...


Dios langsung terburu-buru datang begitu mendengar kabar bahwa Aether sudah kembali membawa Kamila juga Iaros bersamanya. Semua orang kecuali Kamila, Lily dan Aether jelas berkumpul.


Apalagi ketika Hefaistos memasukkan Iaros ke dalam kurungan, mulai memukulinya tanpa ampun.


"Aku sebenarnya berdoa agar kamu tidak ditemukan." Hefaistos menendang wajah Iaros berulang kali. "Bayangkan betapa malunya aku memiliki ikatan darah denganmu, Iaros. Seorang Narendra melarikan diri dari namanya."


Tubuh Iaros terlempar berulang kali.


"Nama yang diinginkan semua orang. Kamu lari, membawa kabur adikmu, dengan alasan kamu mencintainya, di masa libur bulan madumu."


Dios membuka mulutnya dan tertawa tanpa suara.


Sepertinya tidak ada yang senang akan perbuatan Iaros di sini kecuali Dios.


Hei, apa yang salah dari itu? Biarkan saja dia bodoh. Biarkan saja dia berbuat konyol.


Dengan begitu ada alasan bagi dia dipukuli ketika biasanya tidak boleh, karena darah Narendra dalam tubuhnya.


Sangat lama rasanya Hefaistos menghukum Iaros sampai dia keluar dengan tangan berlumuran darah. Helen bergegas masuk dalam kurungan itu bersama pelayannya. Bersimpuh membiarkan gaun yang ia gunakan menyerap darah Iaros dari lantai agar bisa meraih tubuhnya.


"Tuan Muda."


Dia sangat memalukan. Rasanya Helen ingin mati oleh rasa malu menjadi istrinya.


Tapi ketika ia menangkup wajah Iaros, menemukan tak ada penyesalan atau bahkan rasa takut di matanya, perasaan Helen tercabik.


Mengapa? Mengapa sebenarnya Iaros sangat mencintai Kamila bahkan jika harus terhina dan terluka?


Jika gadis menyedihkan yang dia mau, apa Helen tak cukup menyedihkan? Seorang ternak yang baru bisa menyebut namanya Helen ketika Iaros mau menikahinya. Seorang ternak yang dibesarkan semata-mata untuk Iaros dan jadi budak Narendra.


Helen tak lari. Helen tak pernah berlari. Lalu kenapa Kamila?


"Awasi gadisku," bisik Iaros hanya pada Helen. Suaranya serak karena luka di kerongkongannya, tapi dia berbisik seolah yang paling penting adalah Kamila. "Pastikan dia tidak menyentuh siapa pun. Mengerti, Istriku?"


Helen menatapnya mati. "Ya, Tuan Muda."


*

__ADS_1


"Kamila!"


Rasa terkejut Kamila mendapati Lily menangis memeluknya tak sebesar rasa cemas di hatinya melihat tempat ini lagi.


Sekali lagi. Ia kembali ke takdirnya sebagai wanita Narendra. Terkurung dan terbelenggu oleh apa pun alasan mereka yang membuat peraturan.


"Adikku." Lily memastikan wajah Kamila baik-baik. "Kamu terluka? Monster itu melukaimu?"


Monster?


"Lily, Kamila baik-baik saja." Aether menenangkan Lily. "Jangan mendesaknya dulu. Biarkan dia tenang."


Mata Kamila berpindah pada Aether.


Dulu, di matanya Aether hanya seorang pewaris Narendra yang nanti akan memerintah Narendra jika Paman Pemimpin Besar telah menyerahkan kursinya.


Dia orang asing. Tidak pernah hidup di sekitar Kamila karena dia pewaris yang hidupnya begitu spesial.


Tapi ... sekarang Kamila melihatnya. Siapa Aether sebenarnya.


"Senjatamu." Teman Kamila berbisik di benaknya. "Sesuatu yang akan sangat berguna menghancurkan kurunganmu."


Kamila tersenyum. Ia masih sangat ingat apa yang Dios katakan padanya. Bahwa semua pria itu sama, tak peduli bagaimana mereka nenghias diri di luar.


"Tuan Muda." Kamila meraih tangan Aether yang berdiri di sisi tempat tidurnya.


Tentu saja Lily terkejut. "Kamila, jangan menyentuh Tuan Muda tanpa—"


"Lily, tenanglah." Aether menyela, sekaligus duduk di tepi kasur.


Tangannya mendarat di puncak kepala Kamila, mengelus sebagai seorang kakak yang baik hati.


"Beristirahatlah, adik kecil. Semua baik-baik saja sekarang."


Kamila membenamkan diri ke pelukannya.


Lagi-lagi membuat Lily terkejut.


"Kamila!"


Aether juga sempat terkejut. Meski dia dengan cepat menguasai diri, mengusap-usap kepala Kamila. Apa yang Aether pikirkan adalah Kamila trauma dan sekarang menganggap Aether sebagai satu-satunya penyelamat.


Tanpa tahu bahwa apa yang sebenarnya Kamila pikirkan adalah Aether harus jadi Iaros-nya.

__ADS_1


...*...


__ADS_2