Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
27. Aku Membencimu [REVISED]


__ADS_3

Kamila merasakan perasaan nyaman di tubuhnya ketika ia membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih bersih nan luas, disusul aroma harum bunga-bunga yang asing.


Untuk sejenak Kamila hanya memandang, tapi kemudian ia beranjak. Bangun dari tempat tidur untuk menyadari ada sesuatu di pergelangan tangan dan kakinya.


Rantai?


Kamila sontak ketakutan. Ia terduduk, berusaha melepaskan rantai itu dari pergelangannya namun tak dapat lolos dengan lingkaran sekecil itu.


Kenapa? Kenapa ia dirantai?


"Kakak?!" Kamila berlari menuju pintu. Berusaha membukanya hingga rantai panjang di tangan Kamila berbunyi, namun pintu terkunci dan tangannya justru sakit. "Kakak! Kakak, keluarkan aku! Kakak!!"


"Kamila."


Suara itu!


Ia mendongak ke atas dan terkejut menemukan langit-langit kamarnya terbuka, menampilkan langit-langit lain yang jauh lebih tinggi, dan Iaros berdiri di tepian terbuka.


"Tuan Muda!" Kamila ketakutan hingga lupa akan pembicaraan mereka yang terakhir. "Tuan Muda, selamatkan saya. Saya tidak ingin dikurung lagi. Beritahu Ibu dan Kakak, saya tidak akan berbuat salah, jadi tolong jangan lakukan ini! Tolong, tolong, tolong. Saya mohon."


Tapi Iaros malah melompat turun.


Kamila yang ketakutan mendengar suara keras pijakan Iaros. Pria itu mendarat mulus tanpa terluka, langsung datang memeluknya erat-erat.


"Saya tidak ingin terkurung." Kamila terisak. "Saya tidak ingin mengalami hal semacam ini lagi. Tolong. Tolong beritahu Ibu."


Iaros membelai kepalanya. "Bukan ibumu yang mengurungmu."


Seketika itu Kamila tertegun.

__ADS_1


Kalau bukan Ibu dan Lily, lalu siapa—


"Bukankah sudah kubilang?" Iaros menyapu ibu jarinya ke pipi Kamila. "Aku sudah lelah mendengar penolakanmu."


Napas Kamila memburu ketakutan. Ia spontan berlari ke arah pintu lagi, mengendor-gedor besi itu dengan rantai di tangannya berharap seseorang datang.


"Tolong! Tuan Muda! Nona Muda! Nyonya! Siapa pun, tolong keluarkan saya!"


Iaros tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya, menangkap tangan Kamila. "Siapa yang kamu harapkan datang?"


"Tuan Muda, saya mohon hentikan permainan gila Anda!" Kamila menjerit. "Saya mencintai Anda setengah gila, tapi pada akhirnya semua tentang saya merebut Anda dari istri Anda dan saya tidak akan pernah jadi istri Anda!"


Untuk kesekian kali, dalam tangisnya Kamila kesulitan bernapas. Ia berlutut, berusaha mengendalikan diri di hadapan Iaros.


"Tolong, Tuan Muda. Berhenti melakukan ini. Saya tidak ingin terlukai lagi karena ini."


Kamila tersekat.


"Sekarang hanya tersisa kita berdua." Dengan santainya dia tersenyum. "Hanya ada aku dan kamu."


*


Kamila mendongak pada langit-langit kamarnya yang kembali telah tertutup.


Air matanya meleleh dan kepalanya sakit luar biasa. Tapi Kamila tak dapat berbaring di kasur, dan hanya bisa bersimpuh ketika Iaros pergi meninggalkannya.


Dia mengurung Kamila.


Bukan siapa pun tapi dia yang seharusnya tahu betapa terluka Kamila, betapa lelah dan muak Kamila pada takdirnya sebagai Narendra yang terkurung.

__ADS_1


"Menurutku, Iaros hanya menjadikanmu pelampiasan."


"Kesenangan ... datang dari sesuatu yang berbahaya."


"Pada dasarnya Iaros merasakannya padamu. Dia tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya mengatakannya untuk membuat hatimu tenang."


"Ya, begitulah pria, Kamila. Iaros tidak berbeda dari siapa pun. Biar kuberitahu satu hal. Jika Iaros terus menyentuhmu dan melecehkanmu, satu-satunya hal yang mencintaimu bukan hatinya, tapi sesuatu di antara kakinya."


Pembohong.


Kamila bersimpuh membiarkan keningnya berada di lantai, menangis dengan tubuh gemetar.


Orang bodoh sepertiku mencintai pembohong menjijikan.


Kamila sudah muak. Benar-benar sudah muak. Bahkan jika sekarang ia mati, Kamila akan berterima kasih pada Tuhan.


Hidupnya ini, takdirnya sebagai Narendra ini, seluruhnya hanya kutukan yang menggerogoti Kamila.


Ia tak mau lagi. Ia sudah lelah dan tak mau lagi.


Kenapa ia harus lahir di keluarga yang memiliki segunung permata namun bahkan tak bisa melihat matahari secara bebas?!


"Aku membencimu!" Kamila menjerit keras agar Iaros di atas sana mendengarnya. "Aku akan membencimu seumur hidup, dasar binatang! Aku membencimu! Aku membencimu, pembohong!"


Meski hanya keheningan yang menjawabnya, Kamila terus berteriak.


"Aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Iaros! Tidak akan! Tidak akan pernah!"


*

__ADS_1


__ADS_2