
Di keheningan ruangan mewah yang berada di lantai sembilan itu, Arlan masih membiarkan Seno dengan pikirannya sendiri, sambil menikmati hidangan makan siang mereka berdua.
Seketika Arlan teringat akan Liberti yang menunggunya di restoran ...
"Aaagh ... Sial!" umpatnya.
Seno terhenyak seketika, "Why?"
Arlan memukul meja yang ada dihadapannya, setelah menyantap lahap makan siang yang tidak senikmat hidangan pelayan mansion mewahnya.
"Mama mertua ku ada di restoran. Entah ada urusan apa dia menemui aku. Aku sama sekali sudah muak dengan keluarga almarhum Yasmin. Lebih baik aku menghindar. Pasti yang mereka bahas, Raline, Raline, dan Raline. Wanita itu memang benar-benar mengganggu aku sejak dulu hingga kini. Dari Yasmin masih hidup, sampai dia tidak ada. Aku jadi seperti terganggu dengan wanita paruh baya itu! Ingin rasanya aku memaki Mama Liberti, membalikkan semua kata-kata penghinaan yang dia katakan padaku. Tapi aku masih belum bisa, karena aku masih sangat menghargai dia sebagai orang tua," jelasnya panjang lebar.
Seno tersenyum sumringah, dia menghela nafas panjang, hanya bisa berkata, "Syukurlah mertua ku sudah lama tidak ada. Jadi kami aman. Ditambah Lily hanya anak tunggal," tawanya.
"Sialan ..." sesal Arlan.
Seno yang sangat memahami bagaimana sifat Arlan, jika tidak menyukai, hingga mati sahabatnya itu memang tidak menyukai. Namun jika dia sedang menyukai sesuatu, selamanya pria itu akan memperjuangkan hingga mendapatkan semua yang diinginkannya.
Akan tetapi, saat ini ... Arlan juga menginginkan Shinta, dan Leon sudah menikah dengan gadis cantik itu.
Arlan yang masih suka mempertimbangkan semua yang akan ia lakukan, sehingga masih bisa berpikir waras, tapi tidak menutup keinginannya untuk melakukan hal gila, bahkan berpikir untuk merebut Shinta dari Leon.
Perlahan Arlan mendekatkan wajahnya kearah Seno, berbisik pelan ketelinga sahabatnya itu ... "Bagaimana jika aku merebut Shinta dari Leon? Hmm maksud ku, menceraikannya ..."
PLAAK ...!
Seno menampar wajah Arlan dengan sangat keras, menoleh kearah sahabatnya itu dengan wajah garang.
"Jika kau tidak menyayangi Yasmin, dan ingin Leon mati lebih cepat silahkan! Lebih baik kamu terima tawaran Raline, menikah dengannya. Ini yang katamu sayang pada Leon! Jangan sakiti Leon, Lan. Tutup mata mu rapat-rapat untuk berpikir menceraikan mereka berdua. Hentikan perbuatan gila mu!" tegasnya.
__ADS_1
Arlan mengusap pipinya yang terasa sangat panas, "Kenapa kamu menampar aku! Bukankah kamu meminta aku untuk menikahi nya? Sial ..."
Seno menepuk pundak Arlan, "Aku meminta mu untuk menikahinya, Lan! Bukan menceraikan gadis itu dari Leon. Are you understand!"
"Sama saja brengsek!"
Seno tertawa terbahak-bahak, melihat Arlan serba salah dan salah tingkah. Setidaknya dia sebagai sahabat telah mengingatkan, selanjutnya terserah pada duda beranak satu itu. Baginya, apapun kehidupan Arlan saat ini, merupakan pilihan yang selalu ia tempuh dengan penuh keyakinan dan percaya diri. Apapun selalu dapat ia selesaikan, dan benar-benar memperjuangkan.
Akan tetapi untuk Shinta, Arlan benar-benar gila oleh godaan menantunya itu.
Arlan menoleh kearah Seno, "Kamu pimpin rapat. Aku mau menemui Mama Liberti dibawah. Nanti dia kira aku sombong, tolong kirimkan semua laporan hasil meeting ke email ku. Mungkin aku harus menyelesaikan pekerjaan ku di rumah, tanpa harus bertemu dengan siapapun saat ini! Termasuk diri mu!"
Arlan meninggalkan ruangannya, tanpa menoleh lagi kearah Seno yang masih tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan sahabatnya.
Seumur hidup Seno, baru dua kali dia melihat Arlan gila karena pesona perempuan. Pertama Yasmin, kedua Shinta. "Aaaagh ... Terserah mu lah sahabat!" tawanya berlalu meninggalkan ruangan Arlan.
Sementara ditempat yang berbeda, Shinta dan Leon tengah menikmati indahnya kebersamaan sebagai pasangan suami istri.
"Kamu kenapa sayang? Apakah kamu bahagia bisa menghabiskan waktu bersama ku di tempat seperti ini? Kita seperti pasangan muda yang tidak bisa memiliki anak, tapi sayang aku tidak bisa melakukannya sampai kapanpun ..." rundungnya menekukkan wajah pucat itu.
Shinta menyentuh tangan Leon, mengusap lembut punggung tangan suami kontraknya, mengalihkan pikiran suami tercinta, "Aku bahagia bisa membuat mu bahagia. Kamu mau makan lagi? Aku suapkan?"
Leon tersenyum sumringah, dia hanya mengusap lembut kepala istrinya, dan sesekali membuka mulut menerima suapan dari Shinta.
"Sepertinya malam ini aku akan tidur lebih awal. Karena merasa tubuh ku sedikit lelah. Oya jadwal cuci darahku kapan, sayang?"
Shinta melihat jadwal cuci darah Leon di handphone miliknya, yang sudah ia catat ... "Hmm dua hari lagi, sayang. Jadwal kamu Rabu dan Minggu. Dokter akan datang jika kita membutuhkan mereka."
Leon mengangguk mengerti, kembali menatap iris mata Shinta yang sangat menyejukkan, bertanya hanya sekedar ingin tahu, "Dimana keluarga mu, sayang?"
__ADS_1
Shinta menundukkan wajahnya, menghela nafas panjang, "Kedua orang tua ku meninggal karena kecelakaan, dan aku dibesarkan di panti asuhan yang ada di Singapura. Sampai saat ini, aku tidak pernah bertemu dengan keluarga besar kedua orangtuaku. Aku rasa mereka sudah melupakan aku!" tawanya.
Leon yang mendengar cerita Shinta ikut tertawa, "Sama seperti Mami ku, dibuang karena menikahi Papi. Keluarga itu ada jika kita sukses, kalau kita tidak ada apa-apanya mereka tidak akan pernah mengingat kita," jelasnya.
Shinta mengangguk membenarkan, sambil menyuapkan ice cream rendah gula kemulut suaminya.
Setelah menghabiskan makanan mereka di restoran vegetarian, Shinta bertanya, sambil mencium punggung tangan Leon, "Kita mau kemana lagi?"
Leon berpikir sejenak, menjawab pertanyaan istrinya, "Bagaimana kalau kita pulang, dan menghabiskan waktu berenang sambil bermain golf. Apa kamu bisa melakukannya?"
Shinta tersenyum sumringah, "Of course ... Aku bisa melakukan apapun untuk menemani mu, dan membuat kamu tertawa bahagia. Apa kamu mau membungkus makanan di sini? Semuanya sangat cocok untuk kamu, sayang."
Leon menggelengkan kepalanya, dia lebih menyukai makanan yang tinggi akan protein, namun dilarang keras oleh Shinta, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada suaminya.
Mereka meninggalkan restoran, berjalan santai menuju parkiran, setelah menghabiskan waktu lebih dari lima jam di pusat perbelanjaan.
Mata Leon seketika tertuju pada mantan kekasih masa sekolahnya beberapa tahun silam. Beberapa kali Leon menepuk punggung tangan Shinta agar menghentikan kursi roda yang dari awal didorong oleh istri terbaiknya.
"Stop sayang!" Leon memanggil gadis yang tengah bergandengan tangan dengan pria yang merupakan teman sekolahnya juga, "Cua!"
Cua menoleh kearah Leon yang duduk di kursi roda, menerka-nerka siapa pria yang memanggilnya tersebut. Karena perubahan wajah Leon sangat jauh berbeda, saat masa sekolah hingga saat ini ...
Cua menghampiri Leon, dan melirik kearah Shinta, "Ma-ma-maaf, si-siapa yah?"
Shinta tersenyum, menjawab pertanyaan Cua dengan baik, "Leon, Leon Alendra Arlan ..."
Cua menutup bibir mungil itu dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat seperti sangat terkejut, bahkan pria yang ada disamping wanita itu hanya bisa tersenyum lirih.
Shinta melihat kedua sahabat Leon tidak bersahabat, dia langsung berkata, "Maaf Nona, Leon harus pulang. Saya permisi ..."
__ADS_1
Cua masih belum percaya akan apa yang ia lihat, sesekali menoleh kearah pria yang kini menjadi kekasihnya.
"Kok beda Leon yang dulu dan sekarang? Apakah sakitnya membuat wajahnya berubah seperti mayat hidup. Siapa wanita itu? Apakah dia baby sitter Leon? Pasti dia dekat sama Leon ada maksud tertentu, makanya tidak memberi ruang bagi kita untuk berbicara dengan, Leon ..." sungutnya, dapat didengar oleh pria yang masih termangu tak bergeming.