Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Leon bukan anak ku ...


__ADS_3

Tidak menunggu lama setelah berbincang ringan bersama Mia, Shinta terlelap dalam tidurnya, tanpa di sadari bahwa Arlan kembali dan masuk ke dalam kamar peraduan mereka, setelah berdebat panjang dengan Leon.


Arlan menatap wajah cantik wanita kesayangan, yang semakin memiliki tubuh ideal pasca melahirkan.


"Aku mencintaimu, Shinta," kecup Arlan pada buah kenyal milik Shinta yang sangat ia rindukan.


Shinta menggeliatkan tubuhnya, mengerjabkan mata perlahan, mengusap wajah pria yang sudah berada diatasnya dengan sangat lembut.


"Bibihh ..." kecupnya manja, pada punggung tangan Arlan.


Arlan memiringkan tubuhnya, mendekatkan wajah mereka yang selama ini sangat ia rindukan.


"Maafkan aku, Shinta. Aku sangat menyayangi mu. Kita akan kembali ke Singapura besok, Leon lebih memilih tinggal disini, karena ingin bertemu dengan Seno dan Lily," Arlan mengecup lembut kening Shinta.


Shinta mengangguk setuju, memeluk erat tubuh kekar Arlan, entah apa yang dia rasakan saat sudah berada dalam pelukan pria mapan yang selalu baik padanya.


Jika ditanyakan, cinta itu buta, ya... saat ini Arlan dan Shinta mengalami akan hal itu. Cinta, nyaman, perasaan sayang yang tumbuh sejak mereka sering bersama, sehingga menjadi pertimbangan Arlan untuk segera memiliki Shinta secara utuh, tanpa perasaan takut atau berdosa.


Arlan yang semakin tergoda saat melihat bagian kenyal Shinta yang tampak semakin memabukkan, membuat imannya semakin tidak tenang. Terbayang akan tingkah laku manja seorang Shinta saat berada diatasnya.


Pria mapan nan tampan rupawan itu, mengecup bibir Shinta perlahan. Setelah memberikan beberapa cemilan kepada Ibu dari putra kesayangannya. Mengikuti semua keinginan sang Shinta pada malam yang diterangi lampu kecil sangat romantis.


Shinta duduk dipangkuan Arlan, menyuapkan salad buah dan jus mangga kesukaan wanita itu akhir-akhir ini.


"Bibi, tadi Raline kesini, dia menampar ku, marah-marah, bahkan dia seperti ingin membunuh ku. Aku hanya ingin berada di dekat mu, Bi ... Jangan tinggalkan aku," rengeknya manja memeluk Arlan.


Kaki jenjangnya yang mulus melilit di pinggang Arlan, hingga merasakan benda yang selama ini ia rindukan.

__ADS_1


Arlan menangkup wajah cantik Shinta, "Dengarkan aku, jika mereka datang bertemu dengan mu, lawan saja. Aku yakin kamu bisa untuk melakukannya. Karena mereka sedang mencari cara untuk memisahkan kita, Shinta. Aku tidak ingin melihat mu diperlakukan buruk oleh mereka ..."


Wajah Shinta tersenyum sumringah, dia merasa Arlan akan selalu ada bersamanya, "Shinta mencintai Bibi. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Leon. Selama ini kita sudah bahagia, dan aku tidak ingin melihat Leon lagi. Aku ingin menikah sama Bibi?"


Arlan menarik nafas panjang, tersenyum tipis, menatap mata indah berwarna coklat itu dengan seksama.


"Jika kamu tidak ingin hidup bersama Leon, kita akan menikah tanpa sepengetahuan mereka. Apa kamu setuju, sayang?" kecup Arlan pada bibir basah Shinta.


Shinta berfikir sejenak, meletakkan jari halusnya di dagu, "Apa yang akan dilakukan Leon, jika Arlan menikahi aku? Apakah dia akan merebut ku dari pria yang bukan Ayah kandungnya ...?"


Senyuman picik Shinta, membuat rasa penasaran Arlan yang masih menatap wajah oriental wanitanya.


Arlan menautkan kedua alisnya, kembali bertanya, "Apa yang kamu pikirkan, sayang? Apakah kamu akan menyakiti Leon?"


Shinta menggeleng, "Hmm tidak Bi. Shinta hanya ingin melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius, dan membesarkan Sandy bersama-sama."


Arlan yang mendengar penuturan Shinta merasa bahagia, dia menggelitik tubuh wanitanya, hingga kembali menautkan bibir basah mereka.


Cinta yang tumbuh dihati Shinta, hanya untuk menjadi Nyonya Arlan, bukan Nyonya Leon, kembali terlintas dalam benaknya ... "Jika aku menjadi Nyonya Leon, otomatis Sandy akan di rebut oleh Bibi, tapi jika aku masih bersamanya, kamu akan hidup bersama dengan penuh cinta dan sukacita ..."


Keduanya terlarut dalam perasaan sayang, erangan Shinta terdengar sangat indah ditelinga Arlan, saat untuk kesekian kalinya pria yang memiliki benda keras dan panjang itu, menjelajahi lembah gelap nan dialiri air cinta dari milik Shinta.


Pilihan berdiri yang menjadi hal baru bagi gadis berwajah cantik rupawan itu, menjadi kejutan luar biasa bagi Shinta, saat milik Arlan memasuki lembah gelap yang sudah lama tidak tersentuh.


Shinta sedikit menjerit, merasakan sesuatu yang berbeda, rasa berbeda, bahkan sangat mencengkram erat, membuat tubuhnya melemah saat hantaman itu di hentakan berkali kali oleh Arlan.


"Bibihh ..."

__ADS_1


Shinta mendesssah hebat, remasan jemari tangannya, melukai tubuh Arlan.


Arlan, yang memiliki tubuh gagah, karena selalu menjaga pola makan dan hidup sehat serta bahagia, bergerak lincah untuk memberi kebahagiaan pada Shinta, yang selalu tampak semakin menggoda.


"Ahh, baby I love this so much!" mohon Arlan pada Shinta.


Shinta hanya bisa menikmati keindahan, saat Arlan tampak berbeda, bahkan sangat menyenangkan dalam penyatuan cinta mereka malam ini. Betapa bahagianya, cinta yang tumbuh secara alami, dapat memberikan kenikmatan yang tiada tara.


Arlan menggendong tubuh ramping Shinta, melihat wajah lelah wanita cantik itu karena tidak kuasa menahan rasa nikmat yang ia berikan, membawanya kembali keranjang peraduan, dengan cara yang berbeda.


Shinta kembali menelungkup, Arlan mengusap lembut bagian indah di bawah sana, hingga membuat ia mengeerang karena merasakan sesuatu yang sangat indah di sana.


"Ahh ..."


Tentu ini menjadi malam yang menarik bagi Arlan, gairahnya semakin menggebu, bahkan dia tidak ingin menghentikan permainan, sebelum Shinta memintanya untuk berhenti.


Keringat yang mengucur deras, membuat Arlan benar-benar menikmati setiap inci permainannya, membuat Shinta semakin merintih manja, saat kegelian dibawah sana mencapai pada puncak kebahagiannya.


Beberapa kali Arlan membuat tubuh Shinta menegang, dan bergetar hebat. Sehingga mereka benar-benar tertidur dalam keindahan malam.


Dua insan, yang memiliki perasaan cinta terlarang, namun enggan untuk mengakhiri kegilaan mereka berdua.


"Good night Shinta ... I love you ..."


Shinta terlelap dalam tidurnya, sementara Arlan lebih memilih menemani Baby Sandy yang masih terlelap di ranjang yang berbeda dengan bertelanjang dada.


"Tidurlah Nak ... Mama sedang beristirahat, malam ini Papa yang akan menjagamu ... Cepat besar, karena aku ingin membawa mu berkeliling dunia ..." senyumnya mengembang lebar saat membayangkan, akan berjalan bersama dengan buah hati yang merupakan darah dagingnya.

__ADS_1


Anak biologis yang selama ini ia harapkan dari Leon, ternyata selama ini Arlan salah ...


"Leon bukan anak ku ..."


__ADS_2