Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Aku benci Bibi


__ADS_3

Raline masih menekan lututnya di punggung tangan Arlan, sambil mellumat bibir duda beranak dua itu. Tubuhnya seakan bernafsu ketika mencium aroma wangi maskulin pria dewasa yang berada dalam kungkungan tubuh indahnya.


"Balas ciuman ku, Arlan. Aku sangat mencintaimu. Sejak dulu aku sangat menginginkan mu. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya ..." ucapnya pelan ketika melepas ciuman panas mereka.


Arlan menggeram, rahangnya semakin mengeras. Sejujurnya ia terpancing oleh sentuhan Raline, tapi ia tak mampu untuk membalas perlakuan wanita liar yang sengaja membangunkan naga yang berada di tubuhnya.


Dengan nafas panjang, Arlan memejamkan matanya, hanya untuk mengendalikan emosi dan hasrat yang semakin membuncah dikepalanya sebagai seorang pria normal.


Seketika Arlan teringat akan Shinta, gadis yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.


Arlan membuka matanya perlahan, menatap pias wanita dewasa yang masih berada di pangkuannya, sambil berkata geram, "Lepaskan tangan ku wanita jallang! Kau bisa mendapatkan kepuasan dari laki-laki lain! Jangan dengan ku, karena aku tidak menginginkan tubuh mu!"


Raline menggeleng, tangannya menyelusup ke bagian perut sispack milik Arlan, menyentuh satu titik milik pria mapan yang telah berdiri tegak karena ulahnya.


Dengan senyuman kemenangan, Raline menciumi leher Arlan, "Kau mengatakan tidak tertarik dengan ku, tapi aku dapat merasakan hangatnya milikmu, Arlan Alendra!"


Entah mengapa, Arlan benar-benar tidak dapat bergerak oleh wanita laknat itu. Raline mampu mengeluarkan benda panjang milik Arlan dari sarangnya, kemudian membuka underwear miliknya, tanpa mau bernegosiasi, dengan gerakan cepat, terlihat sangat terlatih. Raline berhasil memaksa milik Arlan masuk ke lembah miliknya.


Arlan menutup matanya, kali ini dadanya berpacu dengan sangat cepat, dan tak kuasa menahan rasa yang bercampur aduk, karena ulah gila seorang Raline yang memaksanya.


"Ahh sial! Wanita sialan kau, jallang!"


Raline yang merasakan sesuatu menyesakkan di bawah sana, semakin bergerak lincah, sengaja membuka pakaiannya untuk memberikan satu kebahagiaan tersendiri bagi mereka berdua.


Murahan, jallang, apapun yang di keluarkan dari bibir Arlan, membuat gadis itu benar-benar semakin bersemangat untuk terus memompa diatas pangkuan seorang crazy rich tersebut.


"Aku rela menjadi jallang untuk mu, Arlan. Milik mu sangat pas di dalam sini, aku sungguh tak kuasa menahan rasa cinta dan nikmat ini," bisik Raline bercampur dessahan dan errangan yang membuat tubuh Arlan semakin menggila.

__ADS_1


"Lepashh kan aku! Kau menjebak ku, wanita sampahh ahh ..." Arlan tak kuasa menahan desahannya, membuat Raline bergerak lebih aktif, sehingga tubuhnya ikut merasakan sesuatu yang akan meledak dibawah sana.


"Ahh lepaskan tangan ku, Raline! Aku tidak ingin melanjutkan permainan yang menjijikkan ini, ahh ..." Arlan berhasil melepaskan tangannya, ketika melihat Raline akan mencapai satu titik pelepasannya, saat merasakan kedutan yang semakin lama semakin mencengkram kuat milik pria mapan itu, seketika ...


BHUG ...!


BRAK ...!


Raline terjungkal ke lantai apartemen, karena Arlan mendorong tubuh wanita jallang itu dengan nafas tersengal-sengal, dan hasrat yang semakin membuat kepalanya terasa sangat pening, karena tertahan ketika akan mencapai pelepasannya.


Sementara Raline yang akan mencapai satu titik kebahagiaannya, meringis kesakitan, karena tubuhnya terjerembab di lantai ruang keluarga apartemen, hanya mengenakan bra berwarna hitam.


"Keluar dari rumah ku!" bentak Arlan, kembali merapikan celananya, karena tidak menyangka akan di perkosa oleh kakak iparnya sendiri.


Raline menggeleng, pandangannya pias seketika, matanya berembun, kepalanya terasa sangat berdenyut hebat, bahkan ia sangat kecewa, karena berharap Arlan akan menyemburkan lahar panasnya didalam rahim wanita itu.


Arlan mendengus kesal, ia semakin berang karena perlakuan Raline terhadapnya.


Kembali Arlan menjongkok dihadapan Raline, mengambil baju yang tergeletak di lantai, dengan berkata ...


"Pergilah Raline Utama! Aku tidak ingin melihat mu lagi. Menikahlah dengan Seno, karena kau pantas hidup bersamanya. Dihati ku, hanya ada Shinta dan selamanya untuk wanita itu!" tegasnya.


"Tapi dia sudah mati Arlan. Aku sudah meminta orang untuk menghabisi nyawanya! Dia sudah mati dan tidak akan pernah kembali ke pelukan mu!" teriaknya lantang semakin frustasi, sehingga menggema di seluruh ruangan apartemen.


Membuat Shinta yang berada didalam kamar tersentak mendengar perdebatan dua orang dewasa tersebut.


Shinta mendekatkan wajahnya di pintu kamar karena rasa penasaran, kemudian membuka perlahan pintu kamar itu sambil menundukkan tubuhnya agar tidak terlihat oleh Raline ataupun Arlan.

__ADS_1


Shinta mendengar suara bariton Arlan, menegaskan bahwa ...


"Hmm mungkin kau meminta orang lain untuk membunuh Shinta. Kau menganggap wanita ku sudah mati, tapi Shinta tidak akan pernah mati dalam hati ku, Raline!"


"Tapi kau menikmati permainan kita Arlan! Aku dapat melihat wajahmu, tolong aku, jangan campakkan aku seperti ini," isaknya.


Arlan tersenyum sumringah, menatap nanar mata wanita laknat itu, "Kau yang memancingnya Raline, bukan aku yang menginginkan mu! Sekarang pakai baju mu, dan tinggalkan apartemen ku! Satu hal lagi, jika benar Shinta sudah mati, katakan pada mayatnya suruh kembali, karena aku menunggu jenazahnya! Kau dengarkan aku, aku menunggu jenazahnya, Raline Utama!" geramnya dengan rahang mengeras, dan mata berkaca-kaca.


Shinta langsung menutup mulutnya, ia tidak menyangka bahwa Arlan telah melakukan hubungan intim dengan Raline. Tubuhnya bergetar seketika, ketika menyaksikan bahwa Raline tengah mengenakan pakaiannya dihadapan Arlan.


"Ogh Tuhan, kenapa Bibi melakukan hal itu pada wanita itu! Bukankah Bibi akan menikahi aku!? Kenapa Bibi tega mengkhianati aku ...!?" tangis Shinta, dengan hati tersayat-sayat bahkan hancur sehingga air mata mengalir deras membasahi wajahnya.


Shinta langsung berhambur masuk kedalam kamar mandi, untuk melampiaskan rasa kecewanya terhadap Arlan yang telah tega mengkhianati cintanya selama ini.


BRAK ...!


Baby Sandy yang tengah tertidur tersentak ketika mendengar suara bantingan pintu kamar mandi, membuat ia langsung menangis. Sementara baby sitter yang ikut terlelap di samping Baby Sandy ikut terlonjak kaget, karena mendengar suara bantingan barang-barang dari dalam kamar mandi.


PRANG ...!


PRANG ...!


"Bibi jahat! Bibi mengkhianati aku! Bibi bilang tidak mencintai Raline, tapi Bibi bermesraan dengan dia, tanpa memikirkan bagaimana perasaan aku di dalam kamar! Aku benci Bibi, Bibi sudah tidak setia! Apa salah Shinta, Bi!"


Shinta meraung keras, karena perasaan kecewanya. Jika ini hukuman untuknya selama menikah dengan Leon, rasanya tidak adil. Karena ia tidak pernah sedikitpun melakukan hubungan sejauh itu dengan pria sakit tersebut, walau sudah berstatuskan suaminya kala itu.


"Tuhan! Ambil saja nafas ku, aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini. Ternyata sakit mengharapkan cinta dari seorang pria dewasa. Tidak mudah untuk ku terus berada di sini. Sementara Bibi selalu di ganggu oleh keluarga almarhum istrinya. Aku benci Bibi, Tuhan! Aku benci ...!"

__ADS_1


__ADS_2