
Seno yang melihat dari kejauhan Raline tengah bersimpuh dan menangis kencang, membuat ia menghampiri wanita yang pernah mengisi hari-harinya beberapa waktu lalu.
Perasaan Seno tak dapat di bohongi. Sejujurnya, ia masih mengharapkan gadis yang tengah meringkuk di rooftop gedung rumah sakit, ditambah setelah perceraiannya dengan Lily.
Seno bertanya dengan nada pelan, ketika mendekati gadis cantik itu, "Ra-li-ne ... apa yang kamu lakukan di sini? A-a-a-ada apa dengan mu? Kenapa kamu berantakan sekali?"
Raline yang mendengar suara Seno mendekatinya, mendelik tajam ketika bersitatap dengan pria pembohong seperti laki-laki yang berdiri dihadapannya itu.
Dengan nafas yang masih terasa sangat berat, Raline menoleh dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Puas kau memberikan harapan palsu pada ku, Sen! Aku serahkan seluruh hidup ku pada mu, hanya untuk merebut hati Arlan, tapi apa? Apa yang kau lakukan pada ku? Kau dengan tega, menyakiti dan membohongiku, Sen!" hardiknya lantang, mencoba untuk berdiri menantang Seno.
Seno menghela nafasnya berat, sesungguhnya ini waktu yang tepat untuk mengatakan yang sejujurnya pada wanita dewasa itu.
"Ma-ma-maafkan aku, Raline. Aku tidak ingin kita berada dalam kondisi seperti ini. Berkali-kali aku meminta Arlan untuk menikah dengan mu, tapi masih saja tidak berhasil. Aku pikir, ketika Leon menemukan keberadaan testpack milik Shinta, Arlan akan menerima semua keputusan ku. Tapi ternyata aku salah, mereka semakin memperlihatkan kegilaan hubungan terlarang itu. Aku kalah, Raline. Aku akan bertanggung jawab atas hidup mu ..." jelasnya pelan.
Mendengar penuturan Seno ingin bertanggung jawab atas dirinya, membuat Raline tertawa terbahak-bahak, "Apa yang akan kau berikan padaku? Sementara semua harta kekayaan yang kau miliki atas nama Lily. Hmm jangan mimpi, Sen! Karena selama ini yang memiliki relasi hebat itu, Arlan. Bukan kau! Kau hanya seorang pecundang yang tidak memiliki apapun. Sehingga kau melupakan bagaimana perasaan Arlan dan aku karena kesibukan mu melayani Yasmin. Apa kau lupa, berapa banyak waktu mu terbuang untuk Yasmin dibandingkan aku hmm?"
Wajah Seno menggeram bahkan terlihat sangat kesal, karena Raline terus mengingatkan kenangan pria mapan itu pada cinta terlarangnya beberapa tahun lalu.
"Please Raline, aku tidak pernah ingin menyakiti mu! Kau yang selalu mengingat Yasmin, aku benar-benar ingin bertanggung jawab atas dirimu! Tapi sampai saat ini, kau terus mengatakan bahwa aku tidak serius dengan mu!"
Raline menggeleng, kedua bola matanya mendelik tajam menatap nanar mata Seno, "Kita melakukannya atas dasar suka sama suka tanpa perasaan cinta, Sen! Tidak ada yang harus dipertahankan pada hubungan yang menjijikkan ini!"
__ADS_1
Seno menghela nafas berat, seketika tangannya meraih lengan Raline yang akan berlalu meninggalkannya.
"Aku sudah bercerai dari Lily. Aku harap menikahlah dengan ku, karena aku ingin menebus semua kesalahanku untuk mu juga Leon. Jangan hukum aku terlalu lama, Raline!"
Senyuman Raline mengembang lebar, menjawab ketus pernyataan Seno, "Jangan mimpi kamu untuk menjadi suami ku! Kamu hanya pantas menjadi pelampiasan, bukan suami!"
Raline menghentakkan lengannya, agar terlepas dari genggaman pria yang ada didekatnya, berlalu meninggalkan Seno di rooftop gedung rumah sakit.
Lagi-lagi Seno berteriak menahan wanita cantik yang masih menangis, "Jangan pernah berharap apapun dari Arlan, Raline. Karena dia tidak pernah mencintai mu! Dia mencintai menantunya, bukan kau!"
Langkah kakinya terhenti, "Diam kau! Ingat satu hal Seno!" Raline kembali menoleh kearah Seno, melanjutkan ucapannya, "Sebelum Arlan mati, aku akan terus mencintainya bahkan merebutnya dari wanita manapun, karena aku rela menjadi budak nafsunya daripada harus bersama mu, Seno!"
Sontak pernyataan Raline membuat Seno tersentak, karena sampai kapanpun wanita itu akan selalu berjuang sesuai yang pernah ia utarakan padanya beberapa waktu lalu.
"Jangan pergi, aku butuh kamu!" Peluknya pada tubuh Raline dari belakang, akan tetapi wanita yang masih berstatuskan single itu menolak pria yang terus mencoba untuk meraih hatinya sejak kepergian Yasmin.
PLAK ...!
Raline melayangkan satu tamparan keras ke wajah Seno ketika membalikkan tubuhnya, karena sudah merasa muak dengan semua drama yang diciptakannya selama ini.
"Simpan semua harapan mu, Sen! Aku tidak pernah mencintai mu, karena kau terus menerus membandingkan aku dengan Yasmin ataupun Lily. Sementara Arlan, tidak pernah membahas siapapun jika dia sedang bersama seseorang yang ia cintai. Kau dan Arlan sangat berbeda! Aku permisi ..."
Raline pergi meninggalkan Seno, karena sudah habis masanya untuk bermanis-manis ataupun bermanja-manja dengannya. Kali ini ia sudah tidak ingin dirayu lagi oleh pria brengsek itu, walaupun Seno orang pertama yang terlah merenggut kehormatannya.
__ADS_1
Ketika tiba dilantai dasar rumah sakit, mata Raline tertuju pada dua pengawal orang suruhannya kala itu. Dua pria berotot besi, kini menggunakan kursi roda dengan wajah mengalami luka-luka.
Raline mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak kemudian menghampiri dua pria yang didampingi oleh istrinya, hanya untuk sekedar memastikan keberadaan Shinta.
"Hai, ada apa dengan kalian? Apa yang terjadi?"
Wanita yang tengah mendorong kursi roda suaminya dengan perlahan, setelah mengambil obat di apotek menoleh kearah Raline sambil tersenyum.
"Eh, ada Mba Raline. Ini Mba, Mas Anto dan Mas Katno dihabisi oleh satu wanita yang baru keluar dari penjara. Menurut warga, wanita itu bukan warga Jakarta. Kami sudah melaporkan ke polisi, karena residivis kembali melakukan kejahatan sehingga melukai suami ku, dan suami adik sepupuku."
Raline ternganga, bibirnya terkunci rapat. Ia tidak menyangka bahwa Shinta berhasil selamat dan kini dua pengawalnya babak belur. Ia kembali menoleh kearah Katno, karena dengan pria itulah Raline berurusan.
"Dimana wanita itu, Bang? Kenapa kalian bisa jadi babak belur begini? Aku minta hmm eee. Sudahlah, aku akan mengurus wanita itu!" geramnya dan berlalu meninggalkan loby rumah sakit, untuk mencari keberadaan Shinta.
"Bu, Bu Raline!" Katno memanggil wanita yang selama ini percaya padanya, akan tetapi tidak di indahkan oleh Raline.
Raline bergumam sendiri, ketika meninggalkan loby menuju parkiran mobilnya, "Hmm aku harus mencari keberadaan wanita brengsek itu. Apapun alasannya, Arlan tidak boleh sampai menikah dengan Shinta. Aku harus kembali ke rumah, dan membujuk Leon agar mau kembali kepelukan istrinya. Benar kata Arlan, Cua itu tidak bisa apa-apa. Dia tidak bisa merawat Leon, kali ini aku harus bergerak cepat sebelum Arlan menemukan wanita jallang itu ...!"
Secepat kilat Raline memasuki mobil, dan menekan pedal gas, langsung melajukan kendaraannya menuju kediaman orangtuanya.
Sepanjang perjalanan Raline terus mengingat kenangannya memperkosa pria yang sangat dicintainya itu.
"Hmm, milikmu sangat nikmat Arlan, sangat berbeda dari milik Seno. Pantas saja wanita yang sudah merasakan kenikmatan bersama mu, tidak akan pernah melepaskan mu. Termasuk aku, aku tidak akan pernah melepaskan mu, Arlan. Aku mencintaimu, sangat mencintai mu ... Aku akan menemukan keberadaan Shinta dan aku akan mengirim jenazahnya padamu, sesuai permintaan mu ...!"
__ADS_1