Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Mencarikan wanita lebih baik dari Shinta ...


__ADS_3

Sementara di tempat yang berbeda, Leon tengah menikmati segelas jus buah yang selalu di persiapkan oleh pelayan mansion milik Arlan.


Walau Leon sudah di nyatakan sembuh oleh dokter yang menanganinya, ia sebagai manusia biasa, selalu berjaga-jaga untuk kesehatannya. Ia tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu, membuatnya harus merasakan sakitnya cuci darah dan duduk di kursi roda.


Malam semakin larut, tanpa Leon sadari Seno datang menghampirinya di kediaman Arlan setelah beberapa hari menunggu kabar tentang putra kandungnya, yang selama ini ia tutupi dari semua pihak.


Leon hanya tersenyum tipis, melihat Seno telah berdiri di depan pintu kamarnya, saat bersama Shinta.


"How are you boy? Paman pikir, kamu sudah berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studi mu di sana?" tawanya menggoda Leon tanpa perasaan sungkan.


Leon mendengus dingin, dia memilih untuk menghampiri Seno, karena tidak ingin laki-laki mapan itu masuk kedalam kamar pribadinya.


"Bisa kita bicara di luar saja, Paman?" ajaknya, sambil menutup pintu kamar pribadinya.


Seno tidak banyak bicara, ia hanya mengikuti langkah kaki Leon menuju kolam renang, namun seketika ...


BHUUG ...!


BHUUG ...!


BHUUG ...!


Leon mengarahkan satu bogeman mentah ke wajah Seno, karena merasa kecewa dan berang.


BRAAK ...!


Tubuh Seno jatuh di lantai, dengan bersimbah darah dari hidung mancungnya, yang baru mendapatkan perawatan operasi beberapa bulan lalu, karena tidak mampu menerima pukulan yang secara tiba-tiba di hujamkan oleh Leon. 


"A-a-a-apa yang kau lakukan pada ku, Leon! Ke-ke-kenapa kau memukul ku?" sesalnya tak kuasa menahan rasa sakit yang teramat sangat.


Leon mendengus dingin, bibir itu menyunggingkan senyuman tipis, kemudian menjongkok di hadapan Seno dengan sangat angkuh ...


"Masih bertanya aku kenapa hmm? Apa yang kau lakukan beberapa tahun lalu, sehingga mengorbankan pernikahan ku! Aku pikir kau orang yang dapat dipercaya, ternyata kau tidak lebih dari seorang pecundang! Kau katakan pada dunia, bahwa aku merupakan darah daging mu! Tapi selama ini aku tidak pernah merasakan kasih sayang mu! Kau pengkhianat, Paman. Kau laki-laki pengecut yang pernah aku temuin dan tidak lebih dari seorang pecundang. Saat ini, istri ku dalam dua pilihan. Dan apa tanggung jawab mu pada ku hmm?" tawanya menyeringai kecil.

__ADS_1


Seno masih meringis kesakitan, mengusap darah yang mengucur deras membasahi baju kaos miliknya, membuat para pengawal mansion berusaha melerai pertikaian kedua pria tersebut.


Leon mengangkat tangannya tinggi, sebagai isyarat, bahwa ia tidak membutuhkan bantuan siapapun saat ini.


"Biarkan laki-laki ini bersimbah darah, karena dia dengan sengaja telah menghancurkan kebahagiaan keluarga ku!" tegasnya lantang kepada para pengawal yang mendekat.


Kedua pengawal hanya bisa menelan ludah mereka sendiri, tanpa mau mendekat pada kedua insan yang masih saling menantang tersebut. Seketika mendengar Leon kembali berkata lantang ...


"Aku menghargai mu sebagai orang yang sangat aku kagumi, bersama Papi. Ternyata kau tidak lebih dari seorang pecundang, bahkan sangat menjijikkan karena pernah tidur dengan Ibu ku, sehingga melahirkan aku, laki-laki brengsek!!!"


BHUUG ...!


BHUUG ...!


BHUUG ...!


Leon menghujamkan tendangan keras pada tubuh Seno, membuat laki-laki yang masih meringkuk menahan sakit itu kembali tersungkur ...


"Tuhan ... Kenapa Mami yang Kau ambil dari ku! Kenapa bukan laki-laki ini yang mati lebih dulu! Karena aku tidak akan pernah bisa memaafkan semua perbuatannya kepada Papi. Aku sangat mencintai Papi, tapi dia merebut istriku Tuhan ... Kembalikan Shinta padaku, aku sangat mencintai dia!"   


Air mata para pengawal tak terasa ikut mengalir, mendengar ratapan hati seorang Leon. Pria muda yang sangat baik bahkan ceria, namun harus mengalami hal pelik dalam kehidupan rumah tangganya.


Entah apa yang ada dalam benak Leon saat ini, ia hanya menginginkan Shinta, karena baginya kasih sayang wanita itu sangat tulus padanya.


Air matanya mengalir deras, membasahi wajahnya yang memang sangat tampan. Leon tampak sangat terpukul karena harus menghadapi kenyataan yang sangat menyakitkan di usia 20 tahun.


Seno masih meringis, dengan bersusah payah dia mendongakkan kepalanya, untuk memanggil nama putra kesayangannya ...


"Maafkan aku, Leon! Aku tidak pernah menyangka bahwa semua ini akan menjadi seperti ini. Sama sekali aku tidak menyangka, Nak! Aku mohon, jangan membenci ku seperti ini. Bagi ku semua kesalahanku akan aku tebus, a-a-a-aku berjanji pada mu. Tapi aku mohon, jangan pernah membenci ku, karena aku sangat menyayangi mu!"


BHUUG ...!


"Aaagh ..."

__ADS_1


Leon menyela ucapan Seno dengan pukulan tangannya, karena tidak ingin mendengar kata-kata manis dari pecundang seperti pria itu ...


"Jangan pernah kau merayu aku, dengan semua janji manis mu! Apa kau bisa membawa Shinta di hadapan ku? Jika tidak, lebih baik kau diam brengsek!!"


Leon kembali menjongkok dihadapan Seno, kemudian meremas kepala pria itu dengan sangat kasar, mengeluarkan kata-kata yang sangat menghujam perasaan Seno sebagai seorang pria dewasa ...


"Aku tidak membenci Papi Arlan, karena telah tergoda dengan istri ku! Tapi aku menyalahkan kau, karena telah tergoda dengan istri sahabat mu sendiri, sehingga aku terlahir dari benih mu yang sangat menjijikkan itu. Aku pikir selama ini, aku merupakan anak yang tumbuh dari benih seorang Arlan Alendra, ternyata aku berasal dari benih pecundang seperti mu Seno Prayoga Anggoro! Sampai kapanpun aku tidak akan sudi menggunakan nama mu! Nama keluarga mu, walaupun saat ini Papi telah mencabut semua aset, dan nama belakangnya dari ku secara hukum! Aku malu Seno! Aku malu dihadapan orang-orang yang mengenal ku sebagai Leon Alendra! Kini hanya APA! Apa yang bisa kau katakan pada ku! APA!!!" teriaknya semakin lantang, sehingga terlihat urat leher yang menggeram berang.


Seno hanya bisa menahan rasa sakit yang teramat sangat, sehingga membuat tubuhnya hanya pasrah diperlakukan seperti itu oleh Leon.


Dengan wajah lebam, Seno berusaha menggapai tangan Leon yang masih berada di kepalanya, namun genggaman pria muda itu, semakin keras menarik kuat rambutnya ...


Seketika ...


"Leon! Leon! Stop it! Are you crazy, honey?"


Terdengar suara langkah kaki wanita, yang bergegas melepaskan tangan Leon dari kepala Seno.


Dengan nafas tersengal-sengal, Raline berusaha menenangkan keponakannya, yang masih di landa perasaan amarah.


Raline menoleh kearah Leon, menatap nanar kedua bola mata keponakannya, sambil bertanya, "Apa yang kamu lakukan? Semua orang pernah melakukan kesalahan, tapi jangan siksa Daddy kamu seperti ini, Leon. Dia sangat menyayangi kamu ... Daddy Seno yang selama ini berjasa dalam kesembuhan mu, honey ... Please ... Jangan pernah melupakan kebaikan orang lain ..."


Raline mencoba mengusap lembut kepala Leon, agar tetap tenang dalam menghadapi semua persoalan dan polemik rumah tangga ...


Leon menyunggingkan senyumannya, menggelengkan kepalanya angkuh ...


"Tinggalkan aku, Tante! Karena aku tidak ingin bertemu dengan kalian! Biarkan aku menghadapi semua permasalahan ku, karena aku akan pergi merebut Shinta dari tangan Papi!!" tegasnya ...


Raline menggeleng, dia tidak ingin melihat Arlan dan Leon memperebutkan satu wanita ...


"Tante bisa mencarikan kamu, wanita lebih baik dari Shinta ... Kamu jangan merebut wanita itu dari Arlan! Karena pria itu sangat mencintai istri mu!!" ucapnya dengan nada bergetar dan tangis yang tertahan ...


"Tapi ... Aku mencintai Shinta ... Aku mencintai Shinta, Tante!!!" teriak Leon frustasi ...

__ADS_1


__ADS_2