Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Tampak panik


__ADS_3

Di sudut kota kembang, tengah duduk Seno dan Leon disalah satu rumah sakit daerah karena sudah tidak mampu untuk melakukan pengobatan di rumah sakit bertaraf internasional dengan alasan tidak memiliki uang lagi.


Ada setitik kerinduan Leon terhadap Arlan, karena tidak pernah memperlakukannya seperti ini dan selalu diberikan hidup yang layak oleh pria gagah dan mapan itu sejak lahir.


Kini hidupnya sangat pas-pasan, hanya mengandalkan jaminan kesehatan serta asuransi milik Leon, yang telah dicairkan beberapa oleh mereka karena keluarga dan sang kekasih telah pergi meninggalkannya.


Akan tetapi, Leon merasa menyesal telah memutuskan untuk meninggalkan Shinta hanya demi Cua hanya karena dendam dan akhirnya harus menerima kenyataan pahit seperti saat ini, hidup bersama Seno di kota kembang bersama pria yang mengaku sebagai Ayah biologisnya.


Kedua-nya masih terduduk di ruang tunggu untuk pengambilan obat-obatan, setelah melakukan pemeriksaan rutin sebelum melakukan tindakan cuci darah pasca pencangkokan ginjal yang akan dilakukan minggu depan berdasarkan antrian, miris ... sangat miris.


Leon menoleh kearah Seno yang duduk disampingnya hanya untuk sekedar bertanya, "Dad ... Mama Lily jadi kesini? Karena minggu depan Leon sudah cuci darah, dan itu sakit banget. Leon butuh Mama ataupun Shinta saat ini ..." tunduknya dengan mata berkaca-kaca.


Sejujurnya Seno mendengus dingin, pria itu sama sekali tidak menyukai dengan rengekan Leon, yang menurutnya terlalu manja bahkan sangat mengganggu gendang telinganya.


"Lagian kamu ngapain pake tidur sama Cua segala, sih? Sampai-sampai ketahuan sama Arlan dan Shinta. Seharusnya kamu, itu dirawat mereka, bukan Daddy!" umpatnya karena kesal.


Leon yang sudah sering mendengar umpatan Seno seperti itu, hanya bisa mengurut dada, dan mengalihkan pandangannya kearah lain, karena tidak ingin berdebat lagi. Ada rasa benci bercampur sakit yang terdalam dihati Leon untuk Seno.


Semua itu tampak jelas, ketika melihat dua insan muda tengah memeriksakan kondisi mereka, tapi didampingi oleh orang terkasihnya selayaknya Shinta yang dulu merawatnya dengan penuh kasih sayang.


Leon tertunduk, hatinya kembali merasakan sakit. Ingin rasanya dia mengadukan nasibnya kepada Arlan, karena Seno tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Tapi bagaimana mungkin ia akan melakukan semuanya, karena pria muda muda itu harus menunggu jadwal pengambilan obat generik untuk bertahan hidup satu minggu membuat dirinya hanya bisa menangis meratapi nasib buruk yang tak pernah terbayangkan akan terjadi seperti ini.


Tak lama Leon hanya berdiam diri, terasa handphone miliknya bergetar, bergegas dia meraih telepon pipih itu dari saku celana, melihat layar untuk memastikan siapa yang menghubunginya.


"Private number ..."

__ADS_1


Leon menautkan kedua alisnya, karena enggan berurusan dengan debkolektor yang terus mengancamnya, karena Raline memberikan nomor sang keponakan pada salah satu penagih hutang tersebut.


Tanpa menunggu lama, Leon menjawab panggilan telepon tersebut dengan nada dingin dan sangat pelan.


Leon : "Ya halo ..."


Arlan : "How are you, boy? Apakah kamu baik-baik saja?"


Leon tersentak seketika mendengar suara Arlan yang sangat ia rindukan. Sudah lebih dari tiga tahun mereka tidak pernah saling berkomunikasi lagi, hanya karena Papi tercinta merebut Shinta darinya.


Leon : "Pa-pa-pi ... Le-le-leon ka-ka-kangen ..."


Kata-kata yang keluar dari bibir Leon membuat hati Arlan terasa dilanda perasaan sedih juga remuk. 20 tahun mereka hidup bersama dalam kemewahan, dan mengurus anaknya dengan sangat baik, sehingga ia melupakan bagaimana rasanya menjadi seorang pria normal.


Arlan : "Hmm, Papi sudah mendengar kondisi terakhir mu. Seseorang akan menjemput mu untuk keluar dari rumah sakit keparat itu! Jangan bicara apapun pada Seno, karena aku akan melindungi mu! Menoleh kearah kanan, dan wanita akan menghampiri mu! Ikuti langkah wanita itu, dan kamu akan di bawa ke rumah sakit Mount Elizabeth, now!"


Leon : "Ba-ba-baik Pi ..."


Dengan langkah kaki yang bergetar bahkan terasa sangat berat, karena telah mengalami pembengkakan setelah terjadi penyumbatan pada ginjal hasil pencangkokan nya beberapa waktu lalu, membuat ia harus berusaha untuk pergi tanpa berpamitan dengan Seno.


Kedua kaki Leon yang benar-benar terlihat tidak seperti biasanya, membuat Arlan yang masih mengawasi sang putra dari kejauhan, menangis dalam kepiluan.


"Bangsaat sekali kau, Sen! Kau sibuk menghubungi orang lain, tanpa mau melihat kondisi Leon. Memang orang tua tidak beradab kau! Aku akan memiskinkan kehidupan kalian, sehingga kau merasakan apa yang aku rasakan selama ini ...!"


Arlan mengepal kuat tangannya, ketika melihat Leon sudah mendekati wanita yang ia maksud untuk membawa putranya itu menuju mobil ke parkiran, tentu setelah mengatur strategi dengan Lily untuk membawa Leon tanpa memberitahukan pada Seno, agar Arlan bisa memberi pelajaran dengan caranya.

__ADS_1


Dengan cepat Arlan menghubungi Lily, hanya untuk meminta wanita itu tutup mulut jika Seno bertanya padanya.


Arlan : "Lakukan sesuai rencana kita, Li! Cepat bawa Leon, tapi jika dia bertanya tentang aku ataupun Shinta, alihkan pikirannya. Aku sudah menyediakan dokter terbaik di sana!"


Lily : "Baik Mas. Terimakasih yah. Aku janji akan merawat Leon dengan baik!"


Arlan : "Ya, terimakasih! Aku percaya padamu!"


Arlan mengusap lembut kepalanya. Terpancar kerinduan dalam benaknya untuk Leon, tapi dia tidak akan pernah menemui pria muda itu, sebelum Shinta mau menerima mantan suaminya menjadi anak tiri mereka.


Ya, permintaan Arlan yang ingin kembali merawat Leon, ditolak oleh sang istri hanya karena tidak mau merusak kebahagiaan rumah tangga mereka berdua.


Katakanlah Shinta sangat egois atau tidak tahu diri, karena menolak keinginan Arlan. Dengan tegas wanita itu mengatakan ...


"Jangan pernah membawa perusak keluarga Bibi dulu, masuk ke rumah kita. Aku tidak setuju, karena aku tidak ingin kehilangan, Bibi!" tegasnya tanpa mau mendengar penjelasan dari Arlan.


Mau tidak mau, suka ataupun tidak suka, Arlan melakukan dengan cara lain. Dengan menerima tawaran Lily untuk mendatangi Leon ke kota kembang, dan membuat perhitungan dengan pria laknat yang pernah menjadi sahabatnya.


Arlan menyesiasati sekelilingnya, setelah berhasil melarikan Leon dengan caranya. Dadanya seketika bergemuruh, ketika melihat dari kejauhan pria laknat itu di hampiri seorang gadis muda dan langsung memeluk tubuh ramping tersebut, tanpa memikirkan dimana putra biologisnya tersebut.


Tampak Arlan menyunggingkan senyumannya yang menyeringai, menantikan apa yang akan dilakukan Seno.


"Ternyata ini yang kau lakukan sejak dulu, Sen! Pantas saja, kau selalu menertawakan kehidupan ku setelah Yasmin meninggalkan aku. Rupanya, kau tidak lebih dari binatang yang suka bergonta-ganti pasangan. Hmm aku yakin, kau akan memiliki riwayat penyakit jantung, kelamin, bahkan mati dalam penderitaan ..."


Cukup lama Arlan menantikan reaksi Seno yang belum menyadari bahwa Leon sudah pergi. Tidak lama kemudian dirinya benar-benar tampak khawatir karena kehilangan Leon.

__ADS_1


Bagaimana tidak khawatir, Leon masih memiliki satu polis asuransi yang akan cair dalam beberapa hari lagi, dan bernilai fantastis. Tentu saja Seno tidak ingin terus hidup dalam kemiskinan, karena dia memang tidak bisa melakukan apapun saat ini.


"Le! Leon! Kamu dimana Leon!" Seno tampak panik, meninggalkan gadis muda itu, "Sial ... apa yang harus aku lakukan, jika penagih hutang Raline datang menemui aku, karena aku menjanjikannya empat hari lagi," umpatnya, kemudian berteriak keras memanggil nama, "Leon!"


__ADS_2