
Di ruangan yang sejuk, Alexa masih di sibukkan dengan beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan begitu tiba di kantor mereka, karena akan terbang menuju Roma besok pagi.
Sementara Brian tengah sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk sehingga ia memijat perlahan pelipisnya kemudian melirik kearah Alexa yang duduk tidak jauh dari mejanya.
Sejak kejadian tadi pagi, ada perasaan penasaran menyelimuti benak Brian. Ada penyesalan telah berbuat tidak baik pada gadis belia itu, ada juga rasa senang karena diperlakukan agresif oleh gadis muda tersebut.
Kembali ia terkenang ketika pertama kali menikah dengan Cua. Gadis muda yang masih berusia 21 tahun, tapi tidak pernah menceritakan semua tentang masa lalunya kepada Brian.
Sebagai seorang pria bule yang sudah dewasa kala itu, Brian memilih tidak mempermasalahkan tentang keperawanan seorang wanita. Baginya, Cua sangat baik juga setia dan mau menjadi pendamping hidup selama pernikahan mereka.
Siapa sangka, Tuhan memberi cobaan pada Brian yang sangat sulit di pahami oleh pihak medis, tentang penyebab penciutan otak yang dialami oleh Cua. Menurut pihak rumah sakit, penyakit istrinya bisa dialami oleh satu atau bahkan tiga dari seribu wanita di dunia yang berstatuskan 'ibu'.
"Agh, penyakit apa yang dideritanya? ... Andaikan saja aku bertanya pada Cua tentang masa lalunya sejak menikah, mungkin kami akan melakukan apapun untuk mendapatkan keturunan. Tapi aku tidak akan pernah menyesali semua yang terjadi, Cua merupakan istri terbaik dalam hidupku ..." tuturnya ketika merebahkan tubuh disandaran kursi kebanggaannya.
Seketika kedua mata itu kembali saling beradu tatap. Brian tersenyum kepada Alexa, kemudian berkata, "Bagaimana? Apakah kamu mau pulang lebih dulu? Karena aku tidak jadi membawa istri ku ke rumah sakit. Karena ibu mertua ku yang akan melakukannya, Lex."
Mendengar penuturan Brian, rona senyuman dari bibir Alexa tampak mengembang manis, bahkan sangat manis dari buah cherry. Gadis itu benar-benar tampak lebih anggun juga dewasa. Perawatan tubuh selalu dilakukannya demi menjaga kesehatan pada masa pertumbuhan yang selalu dilakukannya bersama Shinta, membuat pria mapan itu semakin terpesona dengan kecantikan Alexa.
__ADS_1
Tak ingin menjawab pertanyaan Brian, Alexa berdiri mendekati pria tersebut, hanya untuk memberikan semua jadwal mereka besok.
Alexa meletakkan beberapa lembar file yang telah ia print diatas meja Brian, kemudian duduk di kursi yang ada dihadapan pria gagah itu, dengan menyilangkan kakinya. Sehingga memperlihatkan betapa mulus kulit paha yang membuat tatapan mata Brian semakin tak berkedip.
Sumpah demi apapun, jakun Brian sebagai seorang pria normal turun naik, dengan bayangan ada tangan yang melambai-lambai dari paha mulus seorang gadis muda yang duduk dihadapannya.
Brian tersenyum sumringah, ia tampak lebih salah tingkah. Berkali-kali berusaha mengalihkan pandangannya, akan tetapi pesona kulit halus itu semakin membuat tubuhnya merasakan hawa panas tidak karuan.
"Bisakah kamu tidak menyilangkan kaki jenjang mu itu, baby! Sepertinya kamu sengaja saja membuat aku jadi salah tingkah. Ingat Alexa, kamu masih dalam masa pertumbuhan. Jangan pernah memancing gairah seorang pria mapan seperti ku," tawanya menggoda Alexa, kemudian mengalihkan pandangannya ke atas lembaran kertas yang sudah ada diatas meja.
Alexa justru menggigit bibir bawahnya secara sensual. Dada yang memang memiliki ukuran cukup, justru dipangku oleh kedua tangan yang memeluk tubuhnya sendiri sambil berkata, "Kenapa baru sekarang kamu menjadi salah tingkah Mr. Baby? Apakah kamu tertarik?"
Perlahan Brian menghela nafasnya dalam-dalam, kemudian menatap kearah Alexa yang selalu memberikan gerakan sensual dihadapannya, "Apa kamu ingin berpetualang dengan ku, hmm? Apakah kamu tidak memikirkan perasaan Mama dan Papa mu, yang akan membunuh ku, jika mengetahui anak gadis mereka melakukan hal gila?"
Dengan gampangnya, Alexa hanya menjawab, "Why not. Aku sangat mengagumi sosok pria dewasa seperti mu Mr. Baby. Sudah lebih dari enam bulan aku bekerja dengan mu, tidak seorangpun wanita yang berani mendatangi mu. Apakah kamu tidak normal sebagai pria yang sudah dewasa?"
Brian mengangguk membenarkan, "Why should it be me? Kenapa mesti aku, Bianca Alexa? Bukankah kamu tahu aku seorang pria beristri dari Cua? Apalagi kamu sangat mengenal keluarga ku, dan kita bukan orang yang kekurangan kasih sayang ataupun uang. Kamu tumbuh dari tangan hangat seorang pria sukses seperti Arlan, juga kasih sayang Shinta yang sangat baik memperlakukan mu sebagai anak angkat mereka."
__ADS_1
Wajah Alexa tampak menutupi rasa sedihnya, kembali ia hanya tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya ke satu titik menyiratkan satu kekecewaan.
"Ada hal yang tidak bisa aku ceritakan pada mereka. Hingga saat ini, mereka tidak pernah menjawab siapa orang tua kandung ku, baby. Sejujurnya, jika mereka mencari keberadaan orang tuaku, mungkin aku bisa merasakan kehangatan sentuhan ibu kandung yang melahirkan aku. Bully-an para teman seusia ku, selalu memberikan rasa trauma dihati ku, sehingga aku memutuskan untuk bekerja dengan mu," jelasnya panjang lebar.
Brian tersenyum tipis menatap iris mata indah milik Alexa yang sangat menyejukkan relung jiwanya. Ia beranjak dari duduknya, mengambilkan satu kaleng minuman soda dari dalam kulkas, kemudian mendekati gadis yang masih duduk termenung di kursi ruangan kerjanya.
Tanpa basa-basi, Brian lalu bersimpuh sambil memberikan minuman soda itu ketangan Alexa seraya bertanya, "Apa yang harus aku lakukan untuk membantu mu, baby?"
Tangan kanan Alexa menerima minuman kaleng pemberian Brian, akan tetapi tangan kirinya mengusap lembut wajah pria yang masih berjongkok dihadapannya. Kemudian bertanya dengan senyuman manis sambil menatap iris mata kebiruan itu, "Maukah kamu menjadi kekasih ku, Mr Baby?"
Mendengar pertanyaan Alexa, wajah Brian menekuk sesaat, kemudian menatap kembali wajah cantik alami itu hanya untuk memberi kepastian, "Oke ... tapi tidak untuk serius. Aku tidak ingin melihat mu menyimpan semua kesedihan yang tak mampu kamu ucapkan kepada keluargamu. Kita menjalin hubungan selayaknya anak muda, seperti kamu masih sekolah. Karena aku tidak ingin merusak masa depan mu, Alexa."
Entah mengapa, setelah mendengar ucapan Brian, Alexa terlonjak bahagia, ia berdiri dan melompat-lompat selayaknya gadis kecil yang di berikan mainan baru oleh sang papa. Kali ini ia merasakan bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, "Benarkah? Berarti mulai saat ini kita jadian? Hmm!"
Brian yang melihat perubahan pada Alexa melompat bahagia, ia hanya berdiri, sambil menggelengkan kepalanya, kemudian memilih untuk pindah ke kursinya.
Akan demikian, Alexa justru memeluk tubuh gagah Brian dari arah belakang, membuat langkah kakinya lagi-lagi terkunci.
__ADS_1
Perlahan Brian mencoba untuk membalikkan badannya, hanya untuk melihat wajah cantik Alexa, akan tetapi ada satu getaran yang ia rasakan ketika menatap lekat netra kecoklatan itu dari jarak dekat.
"Kenapa perasaanku seperti terkunci, ketika melihat wajah gadis belia ini? Kenapa aku seperti melihat sosok Cua dari tatapan mata Alexa? Ogh ... apakah aku juga diam-diam menyimpan rasa cinta dengan putri angkat Arlan? Apa yang akan mereka katakan, jika aku menjalin hubungan terlarang dengan Alexa ...?!"