
Kediaman mewah milik Arlan tampak hening sejenak, hanya karena melihat kehadiran pria mapan itu yang semakin tampak gagah semenjak kepergian dan kesuksesannya di Singapura ditambah kebahagiaan yang terpancar jelas dari raut wajahnya semenjak kehadiran Baby Sandy.
Leon yang merasakan kerinduan luar biasa pada Arlan, langsung berhambur memeluk pria yang sangat ia sayangi, sejak kecil.
"Papi ..."
"Leon ..."
Kedua-nya benar-benar terlarut dalam air mata kerinduan. Arlan mendekap tubuh Leon, dengan perasaan sayang, karena melihat tubuh gagah itu kini tampak lebih segar dan tampan. Kulit putih, lebih mirip pria oriental yang sangat berbeda dari beberapa bulan lalu.
Arlan melepaskan dekapannya, memuji penampilan putranya yang benar-benar gagah, bahkan terlihat sangat jelas bahwa kini dia lebih sehat.
"Bagaimana boy! Sudah siap berlari kencang bersama ku?" godanya, dengan tangan mengepal kuat di hadapannya.
Leon tertawa terbahak-bahak, "Mau lari berapa putaran, Pi? Aku siap!" tegasnya.
Arlan tak mengacuhkan kehadiran Seno juga Raline. Baginya, hari ini merupakan kado terindah untuk mereka berdua, setelah sekian lama tidak bertemu. Tentu untuk melepaskan kerinduan sebagai dua insan anak dan ayah.
Arlan justru tanpa sungkan, mengajak Leon untuk menunju ke lapangan golf, melakukan latihan ringan, sebagai pertemuan pertama kali mereka sebagai penghangat tubuh, membuat Seno semakin geram, karena tak di acuhkan oleh sahabatnya.
Akan tetapi, Seno juga Raline, malah memilih untuk tetap menunggu kedua ayah dan anak yang tengah bermain-main tersebut.
Raline berbisik kearah Seno, "Sampai kapan kita akan menunggu mereka berdua? Aku pikir Arlan akan langsung menyerang Leon, ternyata dia benar-benar sangat pintar dan semakin menarik perhatian ku!"
Seno menghela nafas panjang, hanya bisa menjawab, "Aku akan pulang ke rumah! Karena aku sudah mengetahui bagaimana sifat Arlan. Dia lebih menikmati masa indahnya, karena kerinduan selalu mengalahkan logika. Aku permisi ...!"
__ADS_1
Seno berlalu meninggalkan mansion Arlan, sementara Raline berpikir, "Lebih baik aku menemui wanita jallang itu, dan membuat perhitungan dengannya, agar mau kembali ke pelukan Leon, dan menyerahkan Arlan pada ku ..." tawanya menyeringai kecil.
Benar saja, Raline berlalu meninggalkan mansion, menuju apartemen Arlan, tanpa harus menunggu ataupun berpamitan pada pemilik rumah ...
Arlan yang mengetahui para pembelot sudah meninggalkan kediamannya, menyunggingkan senyuman tipis. Ia sengaja melakukan aktivitas seakrab itu, karena tidak ingin langsung menyakiti Leon. Bagaimanapun sejak baby, Leon selalu bersamanya.
Tidaklah mudah bagi Arlan untuk menyakiti Leon saat ini di tambah, pria muda nan gagah itu telah dinyatakan sehat, selayaknya pria muda lainnya.
Arlan bertanya seakan-akan mereka tidak memiliki masalah apapun juga, "Bagaimana Leon? Apakah kamu merasa nyaman selama di Cina?"
Leon menganggukkan kepalanya, "Aku bahagia, Pi. Disana sangat menyenangkan. Aku minta maaf sama Papi, karena tidak menunggu Papi kembali. Papi tahu, aku sama sekali tidak bisa berjalan jauh. Untung Dokter Iman meyakinkan aku, tentang kesempatan untuk sembuh sangat besar. Ternyata aku mendapatkan donor hati dan ginjal, dari seorang yang sangat baik, Pi," jelasnya.
Arlan mengangguk, lebih dari dua kali dia menepuk-nepuk pundak Leon.
Leon menghempaskan tubuhnya di tempat duduk yang berada di pinggiran kolam, membuka sarung tangan golfnya, kemudian menoleh kearah Arlan. Mengerenyit keningnya, kembali bertanya karena penasaran ...
"Maksudnya Pi? Tentang Mami?"
Arlan menghela nafas panjang, "Yah ... Ternyata Mami mengkhianati Papi bersama hmm eee ... Entahlah Leon. Rasanya sulit sekali untuk mengatakannya pada mu. Aku hanya bisa melihat mu bahagia, karena aku ingin kamu selalu bersama ku. Tapi mungkin takdir berkata lain."
Dengan mudahnya Arlan mengetikkan jarinya sebagai perintah pada pelayan, agar membawakan tas ranselnya yang berada di ruang keluarga.
Tak menunggu lama, Arlan menerima tas ransel kemudian meletakkan di kursi yang bersebelahan dengan putranya.
Entah mengapa perasaan Leon tampak salah tingkah, dengan kening yang mengerenyit masam. Dalam benaknya, Arlan akan mengeluarkan berkas, bergumam dalam hati, "Apakah setelah kelahiran baby boy, Papi meminta aku untuk menceraikan Shinta ...?"
__ADS_1
Akan tetapi, Arlan memberikan satu berkas yang berisikan semua identitas Leon juga Seno yang memiliki kesamaan dalam test DNA mereka berdua beberapa waktu lalu.
Jantung kedua-nya berdegup kencang, bahkan membuat Leon tampak mengeluarkan keringat dingin, yang terlihat mengucur deras dari kepalanya.
Leon membaca beberapa file, yang menunjukkan bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Arlan. Semua bukti indentik secara tertulis, sah menyatakan bahwa Leon merupakan anak biologis dari Seno dan Yasmin.
Ingin rasanya Leon merobek semua berkas yang ada dihadapannya, ingin sekali ia mencaci-maki bahkan menghajar orang-orang yang ada didekatnya kali ini. Tapi apalah daya, Leon masih tidak ada kuasa untuk melakukan tindakan apapun, karena separuh nafasnya seakan terlepas dari raga yang baru sembuh dari sakitnya.
Air mata yang hampir jatuh, cepat Leon usap kasar, karena tidak ingin berdebat dengan Arlan.
Leon hanya bisa menahan amarahnya dengan bergumam dalam hati, "Tuhan ... Kenapa orang dewasa begitu egois? Tidak pernah jujur, bahkan tulus menyayangi aku ...? Apakah aku harus pergi, membawa Shinta? Karena aku benar-benar jatuh hati pada kebaikannya ...? Tapi apakah Shinta, mau hidup dengan ku, apakah dia membenciku, karena sama sekali aku tidak pernah memberikan kabar padanya ..."
Leon menyandarkan kepalanya disandaran kursi, mendongakkan kepalanya menatap langit, tersenyum lebar untuk melepaskan semua beban pikirannya, sambil bertanya ...
"Apa maksud Papi mengatakan semua ini padaku? Apakah Papi ingin menikah dengan Shinta secara resmi?"
Arlan menghela nafas berat, dia mengalihkan pandangannya jauh kedepan, menatap rerumputan hijau yang terhampar luas dihadapannya.
"Papi baru tahu semua ini setelah kepergian mu. Ternyata aku di khianati oleh Mami dan Seno yang telah aku anggap sebagai sahabat. Awalnya, aku tidak ingin merebut istri mu. Tapi bagaimana lagi ... Aku sudah tergoda, tergoda oleh menantu ku sendiri. Bagaimana dengan mu? Apakah kamu akan menceraikan Shinta? Aku ingin kita sama-sama terbuka, karena aku tidak ingin memaksa orang lain untuk hidup bersama ku! Karena kamu suami Shinta. Jujur setelah kamu pergi, aku tidak pernah menyentuhnya, hingga persalinan. Aku berusaha membahagiakan nya, karena Shinta mengandung anak ku," jelasnya panjang lebar.
Leon hanya bisa mendengarkan perkataan Arlan dengan memberikan pertanyaan, "Kenapa Mami mengkhianati Papi? Apakah kalian memiliki masalah? Atau mungkin Papi tidak bisa membahagiakan Mami? Aku rasa kita sudah sama-sama dewasa, aku sudah menikah, dan aku mengerti apa yang menjadi kebutuhan dalam rumah tangga, apakah Papi berada dalam kategori pria yang tidak mampu memberikan kepuasan pada seorang istri? Atau jangan-jangan pria yang merebut hati Mami sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Papi? Bukankah Papi yang mengatakan padaku, jangan percaya, pada semua orang, apalagi seorang pengkhianat? Apakah Papi termasuk di dalamnya?"
Arlan terdiam sejenak, matanya berembun mendengar ucapan Leon ...
"Tinggalkan Shinta, karena dia milikku, Leon!"
__ADS_1