Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Rambut sudah mulai memutih


__ADS_3

Cinta yang semakin bersemayam dihati Arlan untuk Shinta, terlihat nyata ketika ia benar-benar enggan melepaskan genggaman tangannya dari pinggang sang istri saat mereka memasuki tempat yang sudah dipersiapkan oleh secretarisnya. Mereka menghabiskan waktu di sebuah villa yang ditata oleh Abigail, sejak satu hari sebelum keberangkatan, karena memang sudah memasuki masa ramai kunjungan wisata.


Benar saja, Arlan membawa Shinta mengisi masa liburan disebuah desa di Italia yang menawarkan suasana romantis di sana. Desa tersebut bernama Santo Stefano, sebuah desa yang berada di ketinggian dan selama ini terkenal dengan hotel-hotel yang kamarnya dihiasi suasana sangat glamor.


Kawasan pedesaan di sana masih masuk wilayah Taman Nasional Gran Sasso e Monti della Laga dengan pemandangan yang indah. Di desa itu hanya ada sekitar 115 penduduk. Sedangkan, kurang dari dua puluh orang di sana berusia di bawah 13 tahun.


Oleh karena itu, dewan kota mengambil tindakan dengan membuka penawaran mengenai siapa yang ingin tinggal. Setidaknya mereka yang berpindah ke desa itu akan di berikan biaya bulanan selama tiga tahun dengan nilai maksimal 8.000 Euro atau sekitar 135 juta per tahunnya jika dirupiahkan.


Dewan kota juga akan memberikan uang kontribusi sekali senilai 20.000 Euro atau sekitar 337 juta jika di rupiahkan untuk memulai berwirausaha di desa tersebut.


Tapi Arlan membawa Shinta kesana bukan untuk menetap, melainkan ingin menghabiskan malam-malam liburan bersama sang istri.


Terdengar sayup sayup dessahan pasangan romantis itu, menggema didinding kamar mereka. Shinta tersenyum geli, tapi tidak pernah merasakan kesepian karena kehadiran Arlan selalu membuat harinya lebih sempurna.


"Bihh ... le-le-lebihh cepathh ...!" Errangan Shinta semakin terdengar karena merasakan sesuatu kehangatan yang akan meledak karena hentakan Arlan semakin cepat ketika memompanya dari arah belakang.


Senyuman Arlan mengembang lebar, ketika mendengar dessahan Shinta yang sangat ia rindukan, setelah menghabiskan waktu selama satu minggu membawa Sandy berjalan-jalan mengelilingi bangunan klasik di Roma.


Kini setelah masa periode wanita itu berakhir, Arlan benar-benar membalaskan dendamnya untuk segera memuaskan hasratnya, juga memberikan kebahagiaan kepada Shinta agar mendapatkan seorang baby mungil untuk Sandy.


"Aku akan terus melakukannya, hingga kamu hamil sayang! Ahh ... milik mu masih sangat memabukkan, sayang. Kamu tidak ingin aku benar-benar berhenti, kan?" racaunya ketika terus memompa membuat Shinta kembali mengejang, dengan tangannya meremas kuat seprei yang sudah semakin berantakan.


Melihat istrinya kembali mendapatkan pelepasannya, Arlan membalikkan tubuh Shinta, kembali meletakkan wajah tampannya dipermukaan inti milik istri tercinta, tanpa perasaan bosan.


Kepala Shinta kembali mendongak keatas, tubuhnya benar-benar kembali mengejang hebat, bibirnya tak mampu menahan rasa bahagia yang sungguh dahsyat. Pandangannya terus berkabut, bahkan ia seakan terbang melayang karena perlakuan lidah seorang Arlan yang semakin menggila.


"Bibihh ... please ..." Rintihan Shinta tak dihiraukan oleh Arlan, baginya pesona wanita yang ia nikahi beberapa tahun lalu tak pernah pudar, bahkan semakin membuat gejolak gairahnya tak dapat terbendung lagi.

__ADS_1


"Sudah hampir hampir enam bulan aku tidak pernah melakukan hal ini padamu, sayang. Saat ini aku akan memberikan semua kebahagiaan yang sangat indah untuk kita."


Kembali Arlan memposisikan tubuhnya, mengangkat satu kaki Shinta di bahunya, kemudian mendorong kembali miliknya untuk kembali membawa wanitanya menuju nirwana.


Entahlah, Shinta hanya bisa tersenyum bahagia, menikmati permainan Arlan yang patut diacungi jempol bagi wanita muda seusianya.


Cukup lama Arlan benar-benar mendominasi permainan mereka, dengan segala rintihan manja Shinta yang benar-benar sangat menggemaskan pendengaran pria mapan itu.


Tubuh Arlan akhirnya ambruk ketika mencapai puncak kenikmatan yang ia sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti ini terhadap Shinta. Tampak buliran bening dari wajah kedua-nya, ketika mendengar deru nafas yang masih saling memburu berbalut peluh.


Shinta tersenyum sumringah, berkata lembut sambil mengusap dada berbulu Arlan sebagai tanda kekuatan pria itu, "Bibi hebat sekali. Aku sangat menyukainya, sepertinya kita benar-benar menikmati indahnya pernikahan kita, Bi. Tanpa perasaan bersalah ataupun takut seperti dulu."


Mata Arlan yang masih terpejam sambil mengatur deru nafasnya, hanya bisa menjawab dengan suara khas pria yang mendapatkan kepuasan sempurna sebagai laki-laki perkasa hanya menjawab sedikit, "Aku beri kamu istirahat satu jam, setelah itu jangan salahkan aku terus memakan mu, sayang."


Tentu Shinta bergidik ngeri, bisa dibayangkan dia akan melakukannya lagi, setelah satu jam beristirahat. "Ogh Bibi. Biarkan aku mengenakan underwear ku!" rengeknya membuat Arlan menyunggingkan senyuman kecil.


"Tidurlah. Jika kamu bergerak maka dia akan terjaga dan akan terus memakan mu!"


Tak ingin istrinya terkena dehidrasi atau busung lapar karena kelakuannya, Arlan meraih selimut tipis untuk menutupi bagian bawahnya, kemudian beranjak dari ranjang peraduan mereka, hanya untuk mengambilkan air mineral dan memberikan pada Shinta.


"Terimakasih Bibi!"


"Hmm ..."


Arlan mencari makanan kecil yang disediakan didalam kamar mereka, membuka kemudian menyuapkan kemulut mungil sang istri.


Senyuman lagi-lagi mengembang lebar di bibir Shinta. Ia tidak menyangka akan mendapatkan perhatian yang sangat baik dari seorang suami, "Terimakasih Bi. Bibi sangat nyata menyayangi aku. Aku benar-benar menjadi wanita beruntung di dunia, setelah menghadapi berbagai rintangan dalam hubungan kita. Kini aku dapat merasakan kalau cinta Bibi sangat tulus padaku, bahkan Bibi semakin terlihat muda."

__ADS_1


Tawa Arlan terdengar terbahak, ia tidak menyangka bahwa Shinta akan memperhatikan raut wajahnya. Dengan santai Arlan menghempaskan tubuhnya disamping Shinta, hanya untuk bermanja-manja selayaknya insan yang tengah berbahagia.


"Apa kamu tidak salah lihat? Rambut ku sudah mulai memutih sayang, bahkan raut wajah ku sudah ada yang mengkerut," jawaban Arlan membuat Shinta merebahkan tubuh sang suami, setelah menghabiskan makanan ringannya.


Dengan gaya genit dan menggoda, Shinta mengusap lembut area tubuh Arlan dengan sangat lembut, "Bagian mana yang mengkerut itu, katakan padaku, Bi. Maka aku akan menarik dan membuatnya tampak muda kembali."


"Ahh ... sayang. Aku tidak bisa menahan perasaan ku, jika tangan mu sudah bekerja sangat aktif di situ," tunjuknya pada milik yang masih setengah terjaga kini berada dalam genggaman kemudian akan dicumbui oleh bibir mungil Shinta.


Dengan tatapan menggoda, Shinta justru melakukan tugasnya dengan sangat baik, membuat Arlan kembali mendessah hebat dengan bola mata yang seakan mebeliak tak karuan, "Ahh ... aku sangat merindukan belaian mu seperti ini sayang. Ya, begitu ... teruskan sayang."


Entah sejak kapan, tangan Arlan juga ikut bekerja sama meremas kuat rambut panjang Shinta yang semakin tampak mempesona.


Kini dalam benak Shinta, ia akan melakukan apapun untuk membahagiakan Arlan, seperti pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.


Senyuman Shinta menyeringai lebar, ketika matanya tertuju pada wajah Arlan yang betul-betul lupa diri, jika wanita itu memperlakukannya seperti saat ini, kembali ia bergumam dalam hati, "Aku akan terus belajar memberikan kebahagiaan pada mu, Bibi ... hingga kamu benar-benar tidak bisa jauh dari ku ..."


.


.


Di Roma, Raline justru akan melakukan menuju tempat wisata yang ditunjuk oleh salah satu pemandu wisata untuk berkunjung ke Santo Stefano. Hanya perlu waktu beberapa jam saja menggunakan kreta, maka kita akan tiba di desa yang indah itu. Kalimat itu yang selalu terngiang di telinga dua wanita dewasa berpenampilan glamor tersebut.


Sakira yang menjadi istri kedua Stefan bertanya kepada Raline, "Bagaimana Raline? Apakah wajahmu baik-baik saja?"


Raline menatap wajahnya di cermin, senyumannya mengembang lebar. Setelah satu minggu lebih menjalani operasi plastik dengan obat-obatan kelas satu, membuat kesembuhannya dapat dikatakan berhasil juga cepat. Tentu bukan nilai yang sedikit Stefan berikan kepada wanita itu, hanya karena perasaan cinta dan janji pria tua itu kepada Liberti.


Raline berdecak kagum kepada hasil yang ia dapatkan, "Wajahku semakin cantik. Aku yakin, Arlan pasti akan terpesona jika bertemu dengan ku. Apalagi silikon yang aku pasang, sangat berbeda. Aku juga telah melakukan perawatan pada bagian inti ku, agar suami kita semakin bahagia," ucapnya tanpa perasaan malu kepada Sakira.

__ADS_1


Sejujurnya Sakira hanya mendengus dingin, ia tidak yakin Stefan akan menyukai penampilan Raline yang merombak bagian dada serta intinya. Tapi sebagai istri kedua, ia hanya menuruti kemauan Raline, agar tidak dianggap persaingan dalam meraih perhatian suami mereka.


"Perempuan bodoh! Pak tua itu hanya menyukai yang asli. Aku yakin, dia akan kecewa dengan semua kepalsuan mu, Raline ..."


__ADS_2