
Kedua netra itu saling berpandangan. Entah mengapa, setelah bertemu kembali dengan Shinta ada secercah harapan membahagiakan pada raut wajah Arlan untuk terus hidup bersama pria dewasa tersebut.
Begitu juga sebaliknya, Shinta memikirkan hal yang sama untuk tetap hidup bersama Arlan dalam ikatan yang berbeda, yaitu pernikahan.
"Bi!" sapa Shinta dengan suara perlahan.
Arlan langsung menuju sofa, kemudian mengecup lembut kepala wanita oriental tersebut dengan penuh perasaan cinta dan sayang.
Arlan bertanya dengan nada lembut, "Hmm, kenapa belum tidur? Apakah kamu tidak ingin istirahat?" ia meletakkan mangkuk salad yang masih berada di pelukan Shinta diatas meja.
Tanpa pikir panjang, setelah pria itu berbalik menatapnya, Shinta langsung mengalungkan tangannya keleher tegap Arlan untuk memberikan satu kebahagiaan yang terpendam selama ini.
"Shinta kangen, Bi ..."
Arlan yang mendengar penuturan sang pujaan hati, langsung menggendong tubuh ramping wanitanya untuk memberikan satu kebahagiaan tersendiri untuk merayakan pertemuan mereka kembali.
"Sama, aku juga sangat merindukan mu. Tapi apa kamu yakin akan melakukan malam ini hmm? Bagaimana jika aku akan menyakiti tubuh mu, yang masih ada beberapa bekas luka. Aku takut, sayang ..."
Shinta merebahkan kepalanya di dada Arlan, ketika pria mapan itu akan meletakkannya di ranjang peraduan mereka.
"Ta-ta-tapi, Shinta kangen sama Bibi. Shinta pengen banget," rengeknya semakin mendekap tubuh Arlan agar tidak melepaskan.
Arlan yang telah terbiasa dengan bahasa tubuh wanita, langsung mengerti dengan permintaan Shinta. Ia merasa nyaman dengan kehadiran Shinta kembali dalam hidupnya.
Jujur, Arlan merasakan satu getaran yang berbeda. Getaran cinta yang semakin lama semakin membuat dirinya sendiri tidak ingin mengecewakan Shinta kembali, dengan pertikaian keluarga yang mungkin akan terjadi suatu saat nanti, ketika pria dewasa itu benar-benar menikahinya. Kedua netra indah itu saling bicara, kembali saling menatap tanpa bicara.
"Sayang, jangan pergi lagi. Aku akan selalu menjaga mu, hingga Baby Sandy beranjak dewasa. Aku akan menikahi mu, Shinta ..."
__ADS_1
Mendengar pernyataan Arlan, Shinta langsung menyapa bibir pria yang selama ini ia rindukan. Bibir tipis, yang masih terasa sangat hangat karena wangi tegas seorang pria gagah itu sejak awal tanpa mau permisi lagi.
Arlan menyambut baik bibir mungil wanita cantik itu. Kali ini dalam benaknya, tidak akan pernah melepaskan Shinta.
Kedua-nya terlarut dalam suasana hati yang penuh kerinduan. Saling bertukar saliva, mellumat penuh hasrat gairah semakin membuncah, dengan perasaan saling memiliki lebih mendalam.
Perlahan Arlan merebahkan tubuh wanita itu, membuka kancing baju piyama Shinta satu persatu, hanya untuk sekedar meraba bagian kenyal yang sangat ia rindukan.
"Sayang, aku tidak akan pernah bisa menahan jika sudah berada didekat mu. Aku sangat menginginkan mu, Shinta ..." kecupnya lembut, pada leher indah yang sudah terlihat lebih bersih dari awal ia kembali.
Perlahan tapi pasti, Arlan terus memberikan satu kebahagiaan bagi Shinta, membuka wanitanya hanya bisa pasrah ketika merasakan glenyar yang berbeda ketika pria dewasa itu memperlakukan tubuhnya dengan sangat lembut.
"Ahh bibihh ..."Shinta terus menggeliat lembut, sehingga tubuhnya meminta agar Arlan tidak berhenti ketika pria itu semakin menuntut.
Bibir Arlan tersenyum manis, ketika kedua bola mata indah mereka kembali bertemu, "Aku merindukan mu, sayang ...," usapnya pada kepala Shinta, kemudian menghentakkan pinggulnya dibawah sana, ketika merasakan kehangatan milik wanitanya, untuk memberikan satu kebahagiaan pada tubuh yang sangat ia harapkan sejak pertama bertemu lagi.
"Kamu suka sayang. Maafkan aku, Shinta. Setelah ini kita akan terus bersama. Ahh, ternyata milik mu, masih membuat aku candu, sayang ..."
Arlan meracau ketika merasakan kehangatan yang semakin lama, semakin membuat miliknya ingin melepaskan semua kerinduannya yang selama ini terpendam.
"Ahh sayang, aku tidak kuat. Punya mu semakin mengigit milik ku ..."
"Hmm bibihh, a-a-a-akuhh ..."
Arlan yang merasakan miliknya semakin di jepit kuat, membuat ia menambah kecepatan ritme permainannya, untuk segera menjemput impian mereka secara bersamaan.
Tidak ada pikiran dosa lagi dalam benak Arlan, tidak ada pikiran bahwa yang mereka lakukan itu salah. Kali ini semua telah terjadi begitu saja, dan Arlan akan mempertahankan wanita cantik yang dulu pernah menjadi menantunya tersebut.
__ADS_1
Akan tetapi, saat ini status itu telah berubah. Shinta akan menjadi milik Arlan, setelah Leon mencampakkan istrinya sendiri, hanya karena seorang gadis kecil seperti Cua.
Sejak dulu Arlan sudah berusaha untuk mengalah demi Leon, tapi karena darah daging Seno itu tidak pernah membalas kebaikan orang lain seperti Shinta, membuat Arlan harus merebut kembali kebahagiaannya.
"Ahh sayang ..." Arlan menghentakkan pinggulnya dua kali, ketika merasakan kedutan dari milik Shinta semakin mencengkram kuat miliknya, sehingga dapat memberikan kehangatan yang selama ini mereka pendam.
Nafas kedua-nya semakin memburu, Shinta menangis haru, ketika merasakan tubuhnya seperti melayang terbang, ketika mencapai pelepasannya.
"Shinta sayang bibi. Jangan pernah tinggalkan aku, Bi ..." Ia mengusap lembut punggung Arlan, yang masih berada diatasnya.
Tangan kekar Arlan mengusap lembut kepala wanitanya, menyeka keringat yang mengucur deras di kening Shinta, sambil mengecup lembut bibir indah yang tak pernah berhenti meracau ketika mereka saling bercerita dengan cara yang berbeda.
"Aku berjanji padamu, tidak akan meninggal mu. Jangan pergi lagi hanya untuk pria lain, Shinta. Aku tidak ingin melihat mu menderita di luar sana," kecupnya lembut pada bibir basah Shinta, kemudian langsung merebahkan tubuhnya disamping wanitanya setelah melepaskan penyatuan mereka.
Shinta langsung memeluk tubuh Arlan, memilih tidur di dadanya, hanya untuk memastikan ucapan pria dewasa seperti Arlan.
"Kenapa Bibi masih mau menerima, aku? Bukankah kita pernah saling menyakiti? Shinta pernah pergi meninggalkan Bibi, dan kita hmm ..."
Arlan yang masih mengusap lembut punggung telanjang Shinta, hanya menjawab singkat, "Kemaren aku juga tidak yakin ingin melanjutkan hubungan kita, sayang. Tetapi, kamu merupakan ibu dari anak ku, Sandy. Aku tidak ingin melihat pertumbuhan Sandy besar tanpa kamu. Ditambah kamu sangat pintar menjaga kehormatan mu hanya untukku. Setialah dengan ku, Shinta. Karena aku akan membahagiakan mu dengan caraku. Kita sudah merintis bisnis baru, dan kita sudah memiliki Sandy. Mungkin aku ingin menuntut satu anak lagi pada mu, jika kita sudah menikah. Aku sangat mencintaimu, Shinta."
Sontak permintaan Arlan yang menginginkan anak lagi darinya, membuat milik Shinta semakin mengkedut. Ia membayangkan bagaimana rasanya memiliki anak lebih dari satu, sementara Sandy masih berusia delapan bulan.
"Bi, bagaimana jika aku hamil lagi? Sementara kita belum menikah? Please Bi, jangan hamilin Shinta lagi sebelum halal," rengeknya manja.
Arlan yang dapat merasakan sentuhan seorang wanita itu semakin berbeda, dengan penuh perasaan cinta langsung meminta Shinta agar duduk diatasnya.
"Jangan bicara seperti itu. Karena aku ingin kita terus bersama. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan sayang, bahagialah bersama ku dan sayang ..."
__ADS_1
"Ahh bibihh, a-a-a-akuhh ..."