
Shinta bersusah payah untuk menenangkan milik Arlan dengan mengompres benda keras itu menggunakan air hangat, tapi pria mapan itu masih terus mengeerang agar istrinya membantunya karena tidak mungkin akan keluar kamar dalam kondisi berdiri tegap seperti tengah menunggu seorang untuk pelampiasan.
Bersusah payah Shinta menstabilkan kondisi emosinya, yang masih membayangkan Raline duduk menikmati milik Arlan, dan kini ia dihadapkan dengan benda yang enggan tertidur tersebut.
Dengan demikian, Shinta harus memegang kendali agar Arlan tidak meringis ataupun merasa teraniaya karena mengharapkan sesuatu pelepasan ataupun kepuasan dengan cara yang lebih ekstrim.
Shinta menoleh kearah dispenser, dan melihat kearah kopi ataupun susu, agar tidak menjadi bulan-bulanan Arlan yang akan menghajar tubuhnya hingga babak belur nantinya, bertanya dengan nada pelan, "Sayang ... bagaimana jika aku membuatkan kamu kopi, atau memberikan susu agar dia tertidur?"
Arlan menggeleng, ia justru menaikkan tubuh Shinta agar mau menenangkan miliknya, bergumam dalam hati, "Tidak ada pilihan lagi, aku harus melakukannya, walau nanti pasti aku yang akan kalah ..."
Tidak ada menang ataupun kalah kali ini. Shinta harus melakukannya, agar suami tercinta dapat mengingat semua kejadian yang sangat mengejutkan bagi mereka berdua.
Tanpa pikir panjang, Shinta membuka semua pakaiannya, kemudian duduk diatas Arlan dengan penuh perasaan takut walau sesungguhnya ia sangat menginginkan hal itu.
Benar saja, Arlan langsung berhambur memeluk tubuh sintal istrinya, mellumat bibir manis itu tanpa perasaan bersalah ataupun sungkan. Ia memberi permainan dulu agar Shinta merasa nyaman, dan tidak sakit nantinya.
"Bi, aku takut!" Shinta benar-benar tampak seperti orang ketakutan, karena tidak pernah berhadapan dengan kondisi Arlan yang seperti itu.
Benda itu sungguh sangat tidak biasa, namun kali ini Shinta harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya dalam kondisi tidak normal seperti saat ini.
Arlan menggeleng, dia tidak memikirkan bagaimana perasaan Shinta, kali ini dia harus melepaskan semua perasaannya yang bercampur aduk kali ini.
Mungkin satu penyesalan bagi Raline telah meracuni Arlan, sehingga tidak pernah sampai berhasil wanita itu menikmati tubuh pria yang sangat ia rindukan sejak dulu. Ada kepuasan dalam benak wanita jahanam itu, ketika pihak apartemen membawanya kembali ke kantor polisi, karena telah berani menyusup kekediaman Arlan dan berani menyekap para pelayan di dalam kamar mandi yang hanya berukuran tiga kali tiga tersebut.
BRAK ...!
__ADS_1
Suami baru Raline menghempaskan meja, ketika mendengar istrinya dibawa ke kantor polisi dan di tuntut telah menyusup masuk ke apartemen milik Arlan tanpa sepengetahuannya.
"Siapa yang membantu istri baru ku itu untuk bertemu dengan Arlan Alendra? Aku sudah mengatakan pada kalian, tolong awasi wanita itu, karena dia masih dalam pengawasan hukum!" bentaknya pada salah satu orang kepercayaannya.
"Maaf Tuan, kami tidak tahu bahwa Nyonya Raline akan menyekap empat orang didalam kamar mandi. Kami hanya membantu Nyonya atas perintahnya, karena dia mengancam akan memecat kami! Jadi mau tidak mau kami harus melakukannya, karena tidak ada pilihan, Tuan!" Jelas orang kepercayaan suami baru Raline yang bernama Stefan.
Stefan memijat pelipisnya, dia membayangkan bakal ada tuntutan dari Arlan, dan menuntutnya hingga membuka tabir kepalsuan kerja sama mereka selama ini.
Setelah berdiskusi dengan Brian melalui panggilan telepon, Stefan kembali menoleh kearah orang kepercayaannya, "Sial! Katakan pada pihak berwajib, aku akan datang bersama Brian dan tolong bebaskan Raline. Mungkin aku akan menyekap wanita itu, jika masih mengganggu kenyamanan partner bisnis ku yang sangat menguntungkan selama beberapa tahun ini!"
"Baik Tuan. Saya akan langsung menghubungi pihak kepolisian!"
Perlahan Stefan mengusap wajahnya kasar, bagaimanapun dia tidak mengindahkan ucapan menantu kesayangannya untuk membebaskan Raline beberapa waktu lalu, setelah mendapatkan kabar dari Brian bahwa wanita yang sangat ia cintai itu masuk penjara, karena pertikaiannya dengan Arlan.
Tentu saja tawaran untuk menjadi istri keempat diterima oleh Raline, agar bisa bertemu dengan Arlan, walau ia harus menerima penolak dan penghinaan dari pria mapan tersebut.
Pertemuan tidak sengaja Raline dan Arlan di restoran, membuat wanita jahanam itu melakukan hal diluar dugaan orang kepercayaan Stefan.
Stefan yang mendengar penjelasan dari pihak kepolisian melalui panggilan telepon, membuat ia mendengus dingin.
Stefan : "Apa? Istri ku telah melakukan pelecehan pada, Tuan Arlan? Lelucon seperti apa ini?"
Ia menghardik polisi yang masih memberikan laporan itu dengan nada keras.
Polisi : "Benar Tuan Stef, Nyonya Raline telah meracuni Tuan Arlan, dan kini mereka masih merawat pria itu. Semoga saja tidak ada tuntutan yang akan dilayangkan oleh Tuan Arlan, karena kami masih menerima laporan dari Abigail dan Nyonya Lily. Jika Tuan Arlan menuntut, maka dengan sangat berat hati kami harus tetap menjalankan proses ini hingga ke pengadilan."
__ADS_1
Stefan terhenyak, dia menggelengkan kepalanya. Bergegas ia mengakhiri panggilan teleponnya, dan mengajukan surat permohonan maaf secara tertulis kepada Arlan dan keluarga. Bagaimanapun, sikap Raline kepada Keluarga Arlan, akan mencoreng reputasi nama baik serta putra kesayangannya.
"Tuhan, kenapa aku harus dihadapkan dengan wanita yang tidak tahu diri seperti Raline. Aku menjadikannya sebagai istri keempat itu hanya untuk sekedar memberikan satu bisnis padanya. Karena aku mengetahui, jika orang yang tumbuh di tangan orang hebat, maka dia akan menjadi wanita luar biasa. Tapi kenapa dia justru mencoreng nama baikku juga Brian anak ku? Kenapa aku tidak mengindahkan ucapan Cua? Sial, aku harus segera meluruskan masalah ini, dan mengirimkan Raline kembali ke Jakarta, agar dia kembali menjadi sampah ...!"
.
Di tempat yang berbeda, Arlan tengah mengeerang ketika berada dibawah Shinta yang sudah menjerit tidak kuat untuk melayani hasrat gila seorang suami yang tidak normal.
Sudah hampir tiga jam, Shinta melayani gairah Arlan membuat ia benar-benar meminta ampun, karena sudah merasakan perih yang teramat sangat dibagian intinya.
Ingin rasanya Arlan berteriak frustasi, karena tidak bisa menghentikan aktivitas ranjangnya yang ternyata sangat menyiksa istri tercinta.
"Bi, kaki Shinta sudah tidak kuat ..." rengeknya perlahan, ketika dihujami dari belakang oleh sang suami.
Benar saja, Arlan melihat tubuh wanita itu bergetar hebat, walau pada awalnya sangat menikmati, tapi lagi-lagi barang milik suaminya itu enggan untuk tertidur.
Dengan langkah gontai dan tertatih, Shinta berusaha untuk melangkah menuju kulkas agar memberikan satu penawar lagi yang harus di konsumsi Arlan.
Shinta mengeluarkan suaranya dengan nafas tersengal-sengal, "Bibi, jika ini tidak berhasil membawa kamu tertidur, aku benar-benar tidak ingin melanjutkan permainan ini. Ini benar-benar gila dan sangat menyiksaku! Apakah ini satu rencana Bibi untuk melakukan hal keji itu padaku?"
Arlan menatap Shinta dengan tatapan memohon maaf, "Sama sekali aku tidak akan menyangka akan terjadi seperti ini, sayang. Maafkan aku. Jika kali ini tidak berhasil, aku rela di suntik mati daripada aku harus menyiksa mu seperti saat ini!"
Ada perasaan tidak tega dihati Shinta, ingin sekali dia mengucapkan terimakasih pada Raline karena telah meracuni Arlan, tapi ada raut wajah frustasi yang tersirat diraut wajah cantik wanita itu.
"Jangan Bi. Jika penawar ini tidak berhasil juga, maka kita terus melakukannya lagi. Hingga mati bersama ...!"
__ADS_1