Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Tidak mampu bertanggung jawab


__ADS_3

Malam berkabut kelam, Arlan tiba di kediamannya, langsung mencari keberadaan Leon di kamar yang berada lantai yang sama dengan ruang kerjanya. Ia datang membawa Raline di mobil yang sama, karena tidak ingin meninggalkan wanita itu di apartemen miliknya.


Benar saja, ketika ia tengah membuka pintu kamar Leon, Arlan di kejutkan dengan pemandangan yang sangat menjijikkan.


BRAK ...!


"Ogh my God! Leon! What the hell!? Ogh shiiit!" teriaknya lantang.


Bagaimana tidak, Leon tengah asik bermadu kasih dengan Cua, di dalam kamar, tanpa mengunci pintu kamar pribadinya, terlonjak seketika.


Leon menoleh kearah Arlan, bergegas mengambil pakaiannya, untuk menutupi tubuh sang kekasih, sementara Cua langsung berhamburan masuk kedalam kamar mandi.


PLAK ...!


Dengan sigap Arlan mendekati pria muda itu, melayangkan satu tamparan keras pada tubuh Leon, membuat pria muda tersebut terjerembab di lantai kamar.


"Apa yang kau lakukan di rumah ku! Ini rumah ku, Leon! Kau tidak berhak melakukan apapun, karena ini rumah ku!" hardiknya dengan tatapan penuh amarah.


Leon mencoba untuk melawan, namun seketika tangannya langsung di injak oleh Arlan, "Augh Pi, sakit!" ringisnya.


Arlan mendengus dingin, "Kau tidak berhak melakukan apapun di kediaman ku!" tegasnya.


"Ta-ta-tapi, Papi melakukan hal itu pada Shinta! Pada wanita yang telah menjadi istri ku!"


"Ogh! Itu karena aku tidak mengetahui bahwa kau merupakan anak dari Seno! Tapi kali ini, kau bukan anak ku, jadi kau tidak berhak untuk melakukan apapun di kediaman ku! Shinta yang datang kepada ku, Leon! Dia membutuhkan aku, bukan kau! Tapi aku yang salah, telah menikahkan nya dengan mu! Kau benar-benar anak yang tidak tahu berterima kasih! Jawab aku, siapa yang membiayai pengobatan mu! Karena aku sudah membawa semua berkas yang ada di dalam berangkas peninggalan Yasmin. Ternyata kau bukan anak yang jujur, Leon! Kau hanya anak yang tidak tahu diri dalam membalas kebaikan orang lain! Sekarang, aku memutuskan untuk tetap membuang mu, dan mengembalikan kau ke pangkuan Seno! Pengacara ku tetap akan melanjutkan proses legalitas mu! Dan satu lagi, kau tidak akan mendapatkan apapun dari penjualan kediaman ku! Kau dengar itu!"

__ADS_1


Leon terhenyak seketika, mendengar ucapan Arlan yang benar-benar telah membuangnya. Dia meringkuk di kaki Arlan, tanpa mengenakan sehelai benangpun ...


"Pi, jangan lakukan itu pada ku! Aku berjanji akan mengikuti semua aturan mu! Aku mohon jangan campakkan aku, Pi! Aku mencintai Cua, dan aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatan ku!" isaknya meremas kuat kaki Arlan.


Arlan menggeleng, dia menghindari dekapan tangan Leon di kakinya, untuk menarik Cua agar keluar dari kamar mandi.


"Kau mau menikah dengan wanita itu? Dia yang tidak pernah peduli dengan mu! Dia datang pada mu, di saat kau telah sembuh dari sakit mu! Ketika kau masih berada di kursi roda, siapa yang merawat mu Leon! Empat tahun aku merawat mu, merawat Yasmin, hingga aku melupakan hasrat ku! Selama bertahun-tahun lamanya! Aku tahan demi merawat mu! Tapi apa! Apa yang kau lakukan hah? Kau masukkan Shinta ke penjara, dan kau biarkan wanita itu hidup dalam kesengsaraan di dalam sana! Di mana otak mu!!!"


Leon kembali menangis sejadi-jadinya, dia tidak menyangka bahwa Arlan akan mengetahui apa yang dilakukannya terhadap Shinta, hanya untuk membela seorang Cua. Gadis manja, yang tidak dapat melakukan apapun, jika tidak di bantu oleh kedua orangtuanya.


"Papi, ta-ta-tapi Shinta telah meninggalkan aku! Dia tidak pernah serius pada ku!"


PLAK ...!


Arlan menggeram, semakin berang, dan melayangkan tamparan keras di wajah Leon.


Leon melakukan semua perintah Arlan, tanpa mau menjawab lagi. Karena jika dia menjawab, Arlan sudah mempersiapkan semua jawaban yang sangat menusuk jantungnya.


Entahlah, kali ini Leon terperangkap pada cinta muda yang tidak pernah mendapatkan restu dari Arlan. Dia harus kehilangan Cua, jika masih berharap menjadi anak Arlan Alendra.


Tapi tidaklah mudah, untuk meraih kepercayaan pria dewasa itu, karena begitu banyak pengkhianatan yang dilakukan orang-orang terdekatnya selama ini, termasuk Raline yang masih tak bergeming di depan pintu kamar Leon, menyaksikan kemurkaan Arlan.


Arlan mengetuk pintu kamar mandi, agar Cua segera membukanya, "Hei Cua! Keluarlah, aku tidak akan memarahi mu! Silahkan tinggalkan kediaman ku, karena sopir pribadi ku yang akan mengantarkan mu pulang ke rumah!"


Terdengar suara Cua menjawab, dengan suara bergetar ketakutan, "I-i-iya Pi. Ma-ma-maafkan Cua."

__ADS_1


Cua membuka pintu kamar mandi, kemudian menekukkan wajahnya, karena tidak berani menatap wajah Arlan yang ternyata tidak pernah berubah padanya.


Sementara Arlan hanya menggelengkan kepalanya, menghela nafas panjang, kemudian berkata pelan, "Leon akan menemui mu, setelah urusannya selesai dengan ku! Jadi aku harap, kamu tidak usah kembali kesini, karena kediaman ini akan aku kunci! Apakah kamu mengerti?"


Cua mengerjabkan matanya perlahan, melirik kearah Leon, sambil menahan air matanya. Bibirnya hanya bisa menjawab pertanyaan Arlan dengan suara berat, "Ba-ba-baik Pi ..."


Arlan mengusap lembut kepala gadis muda itu, menjentikkan jarinya, agar pengawal membawa Cua kembali ke kediamannya, "Antarkan gadis ini kembali ke rumahnya. Biar Seno yang mengurus semua masalah yang di buat oleh putranya. Karena aku tidak akan pernah mengurus semua permasalahan yang sangat menjijikkan ini!"


Pengawal mengangguk hormat, "Baik Pak!"


Bergegas pengawal membawa Cua, meninggalkan kediaman mewahnya, dengan wajah yang masih menggeram kesal.


Leon masih mengenakan pakaiannya, wajahnya tampak lusuh, bahkan tidak mampu berkata-kata, karena merasa keputusan Arlan telah bulat untuk membuangnya.


Lagi-lagi Leon mendekati Arlan, agar mau memaafkannya, "Pi, jangan lakukan ini pada ku! Aku minta maaf, dan aku tidak ingin di campakkan begitu saja. Leon tidak salah Pi! Leon tidak mau tinggal bersama Paman Seno! Karena Leon tidak mengenal dia ..."


Arlan menepis tangan Leon yang akan menyentuh lengannya, kemudian langsung beranjak menuju ruang keluarga. Ia menoleh kearah Raline, yang masih terdiam membisu ...


"Telepon Mama Liberti! Aku harap, kalian bisa membawa Leon kekediaman kalian! Karena aku akan menggembok mansion ini. Aku sudah menghubungi salah satu rekan ku! Semua pelayan dan pengawal yang ada di sini, masih tetap tinggal untuk merawat semua ini!"


Raline mencoba untuk menenangkan Arlan, "Lan, jangan lakukan ini! Karena Leon tidak bersalah. Aku mohon Arlan!"


Dengan sigap Arlan menoleh kearah Raline, kemudian berkata, "Jadi aku harus bagaimana hmm? Aku harus membawa anak hasil perselingkuhan, dan membiarkan Seno tanpa beban?" Ia tertawa terbahak-bahak, kemudian melanjutkan ucapannya, "Enak sekali Seno, punya anak tapi tidak mampu untuk bertanggung jawab! Selama ini, aku yang telah mati-matian berjuang membiayai pengobatan semuanya. Hingga aku di fitnah, bahkan disakiti! Apa kau bisa mendengarkan aku, Raline Utama!"


Raline terdiam, dadanya semakin terasa sesak, karena Arlan benar-benar telah mengetahui tentang semua penggelapan dana milik Yasmin, yang di kirim ke rekening Seno, bergumam dalam hati ...

__ADS_1


"Agh, habislah semuanya. Aku harus terus membujuk Arlan, agar tetap merawat Leon ..."


__ADS_2