Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Jangan tinggalkan Shinta


__ADS_3

Kasih sayang, hanya itulah yang terus Arlan berikan untuk pria muda yang masih terbaring menggunakan alat bantu pernafasan, serta pendeteksi jantung yang masih melemah.


Sudah lebih dari satu minggu Leon berada antara hidup dan mati, sehingga membuat pihak rumah sakit hanya memberi semangat pada Lily selaku orang kepercayaan Arlan untuk menjaganya.


Shinta, hanya nama itu yang selalu ada di tiap dengkuran kecil yang terdengar dari ujung tenggorokannya.


Lily masih meringkuk disamping Leon, sambil menggenggam erat jemari tangan pria muda yang sudah terasa sangat sejuk.


Entahlah, hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaan Lily saat ini, ketika tidak mendapatkan kabar sedikitpun dari Arlan ataupun Shinta.


Lagi dan lagi, Lily mendengar nama Shinta yang ada di ujung bibir Leon. Dengan penuh keyakinan, wanita dewasa itu langsung menghubungi Arlan, karena tidak ingin terjadi sesuatu hal yang sangat menyakitkan nantinya jika Leon telah pergi menghadap Yang Maha Kuasa.


Dengan wajah sedikit panik, Lily menunggu jawaban dari Arlan, yang sama sekali belum ia dapatkan.


"Mas Arlan, angkat telepon Lily ..." geramnya meremas kuat rambutnya.


Tidak lama Lily menunggu, akhirnya Arlan menjawab panggilan telepon dari wanita tersebut.


Arlan : "Sorry Li. Aku masih di Jakarta. Belum kembali ke Singapura. Mungkin hari ini aku akan terbang, karena aku belum mendapatkan dimana keberadaan Raline ..."


Lily mendengus dingin, jika mendengar nama wanita dewasa yang sejak dulu mengganggu ketenangan rumah tangganya bersama Seno ...


Lily : "Mas, bisa minta tolong agar Shinta mau ke rumah sakit? Leon masih terus menyebut namanya, tolong Mas. Sekali ini saja, Leon membutuhkan Shinta. Sejak operasi, dia masih dalam keadaan koma, dan kini detak jantungnya semakin menurun ..."


Mendengar penjelasan dari Lily, terdengar suara kekesalan Arlan di seberang sana.


Arlan : "Baik, aku akan mencoba menghubungi Shinta. Tapi aku tidak yakin istriku akan datang. Jangan berharap, karena aku akan kembali sebentar lagi. Tolong aku Tuhan ..."


Kedua-nya tampak panik, kemudian mengakhiri panggilan telepon mereka tanpa mengucapkan salam atau apapun sebagai akhir pembicaraan kedua insan dewasa itu.


Arlan menyandarkan tubuhnya di jok belakang penumpang ditengah kendaraan yang melaju kencang menuju bandara, sambil meremas kuat handphone yang berada dalam genggamannya.


Tersirat raut penyesalan di wajahnya yang semakin menggeram kesal, karena keputusan yang salah dia ambil beberapa waktu lalu.


"Kenapa aku harus menikahkan Shinta dan Leon? Kenapa bukan aku saja yang menikah dengan Shinta! Agar aku bisa merawat anak itu. Tuhan ... jangan Kau ambil anak ku! Leon anak ku, Tuhan. Dia nyawaku, 20 tahun aku merawatnya, membesarkannya dengan kasih sayang, jangan Kau ambil dengan cara seperti ini. Aku sangat mencintai anak ku juga istriku Shinta ..."

__ADS_1


Air mata kesedihan Arlan yang selama ini terpendam akhirnya mengalir deras, membuat bahunya bergetar, sehingga dua pengawalnya menoleh kearah majikannya, hanya untuk memastikan bahwa pria gagah itu baik-baik saja.


Abigail langsung bertanya pada Arlan, "Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?"


Arlan memberikan handphone miliknya pada Abigail, agar pria itu menghubungi Shinta, untuk menjenguk Leon. "Hubungi Shinta, sekarang! Katakan padanya, kita akan bertemu di rumah sakit Mount Elizabeth!"


Tanpa menunggu lama, Abigail langsung mengangguk mengerti, hanya menjawab singkat, "Baik Tuan!"


Dengan cepat, Abigail menghubungi Shinta, karena tidak ingin sang majikan mengamuk, karena pria itu telah melihat rahang Arlan yang semakin mengeras.


Abigail : "Selamat siang Nyonya!"


Shinta : "Ya, ada apa. Mana Bibi?"


Abigail seketika terlihat gugup, karena melirik Arlan yang masih mengepal kuat tangannya, sambil menutup wajahnya dengan tangan sebelah kiri.


Abigail : "Hmm, i-i-ini Nyonya. Eee, bi-bi-bisakah Nyonya menjenguk Mas Leon di rumah sakit? Ka-karena beliau dalam keadaan koma, Nyonya ..."


Mendengar pernyataan Abigail, seketika suasana di seberang sana terasa sangat hening.


Ya, Leon merupakan suami kontrak baginya, tapi telah banyak hal yang terjadi antara mereka sehingga terpisah seperti saat ini.


Kembali Shinta tersadar, bahwa Abigail masih menunggu jawabannya diseberang sana.


Shinta : "Apakah itu harus? Bisakah aku bicara pada Bibi? Karena aku tidak ingin melihat suami ku marah se-- ..."


Dengan adanya perdebatan panjang yang sudah dapat dibayangkan oleh Arlan, pria itu langsung merampas handphone dari tangan Abigail hanya untuk sekedar menegaskan.


Arlan : "Tidak ada kata-kata cemburu saat ini sayang. Karena aku ingin kita bertemu di rumah sakit. Aku percaya padamu, karena aku tidak ingin kehilanganmu juga Leon. Kalian hidup ku, Shinta. Kalian berdua nafas ku! Tolong hargai aku kali ini saja. Ini permintaan ku yang terakhir pada mu untuk Leon!"


Arlan mengakhiri panggilan telepon mereka, karena tidak ingin mendengarkan alasan Shinta seperti beberapa waktu lalu.


.


Setelah mendengar ucapan Arlan seperti itu, Shinta terdiam. Wajah cantik itu seketika terbayang kenangan bersama Leon. Tidak banyak, tapi terasa sangat indah. Kebersamaan yang hanya berjalan selama delapan bulan, membuat mereka benar-benar berpisah setelah Leon melayangkan gugatan cerai kepada istrinya yang telah mengkhianati ketulusan cintanya kala itu.

__ADS_1


Status menikah dengan Leon, tetapi hamil anak Arlan. Bahkan semua mata tertuju padanya, bahwa semua itu kesalahan Shinta karena telah mengecewakan suami sendiri.


Bisa dibayangkan, berapa besar sakitnya Leon karena perbuatan mereka berdua. Leon yang tidak tahu akan permasalahan Papi juga Mami Yasmin, tapi harus menderita di akhir hayatnya yang mungkin akan tinggal beberapa detik saja.


"Maafkan aku, Leon ..." tangis Shinta, berhambur mengambil semua perlengkapannya, dan menyerahkan Baby Sandy kepada baby sitter mereka.


Shinta menoleh kearah baby sitternya, hanya untuk berpesan, "Jangan pernah terima tamu, siapapun! Ingat ... siapapun!"


Baby sitter dan tiga orang pelayannya mengangguk patuh kemudian menjawab, "Baik Nyonya!"


"Oke! Beritahu pada sopir saya akan ke Mount Elizabeth! Saya bersiap-siap dulu!"


Tidak menunggu lama, salah satu dari pelayan langsung memberi perintah bahwa Nyonya Besar akan meninggalkan kediamannya menuju Mount Elizabeth.


Tentu saja, dengan memberi kabar kepada Arlan, karena tidak ingin mendapatkan makian dari sang crazy rich telah membiarkan Nyonya mereka pergi tanpa izin.


Setelah menjalani beberapa peraturan yang berada di kediaman mewah itu, Shinta masuk kedalam mobil menuju rumah sakit tempat ia pertama kali bertemu dengan Arlan juga Leon.


Rumah sakit yang sangat menyenangkan, bahkan membuatnya bertahan di negara itu, sejak lahir hingga kini menikah dengan duda kaya yang berhati malaikat.


Langkah Shinta terhenti di depan pintu ruang ICU rumah sakit, sesuai petunjuk pihak resepsionis yang mengarahkannya ketika bertanya dimana kamar Leon.


Seketika Shinta terkenang akan kamar itu, kamar yang merawat Leon ketika mengalami muntah darah hingga koma selama tiga minggu.


Susah payah, Shinta mengatur nafasnya, menggenggam erat jemari tangan yang terasa sangat dingin. Kematian ... hanya itu yang ada dalam benaknya ketika melihat pintu ruangan itu.


Perlahan Shinta mendekati pintu, sedikit melongokkan wajahnya, hanya untuk memastikan siapa yang berada didalam ruangan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat, Dokter Salim tengah memompa dada Leon yang sudah hampir menarik nafas terakhirnya.


Air mata penyesalan kembali pecah, membuat Shinta menghampiri tubuh yang tidak bergerak lagi, detak jantung tak terdengar lagi, karena hanya terdengar ...


Tiiit ...


Tangan yang membawa satu keranjang buah kesukaan Leon, terhempas dilantai ruang ICU, membuat Lily langsung menoleh kearah Shinta yang berhamburan mendekati tubuh Leon.


Wajah cantik itu terlihat sangat panik, dan frustasi ketika menyaksikan mata pria muda itu akan tertutup rapat, ia berteriak histeris, "Le-le-leon! Leon jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan Shinta ..."

__ADS_1


__ADS_2