
Malam yang dingin, Arlan tengah sibuk mengurus Baby Sandy juga Shinta. Entahlah, kebahagiaan pria mapan itu semakin terasa setelah ia melihat wajah putra kesayangan lebih mirip dengannya.
Saat Arlan tengah bernyanyi kecil, seketika ia di kejutkan dengan suara bel apartemen yang berbunyi.
"Sayang ... Aku keluar dulu, yah. Kamu istirahat saja. Jangan terlalu sering bergadang, wanita yang baru melahirkan tidak boleh tidur terlalu larut malam," titahnya mengusap dan mengecup lembut kening Shinta.
Shinta mengangguk patuh, ia beringsut perlahan untuk naik keatas ranjang, sambil mengusap lembut kepala putra kesayangannya.
Rambut halus Baby Sandy, membuat Shinta terkenang dengan anak-anak panti tempat ia di besarkan.
Arlan yang sudah meninggalkan Shinta, menuju ruang tamu hanya untuk melihat siapa tamu malam ini. Betapa terkejutnya pria itu, saat matanya tertuju pada sosok Raline dan Liberti yang sudah di bukakan pintu oleh asisten rumah tangganya.
Dengan wajah berang Arlan menghardik dua wanita yang berani datang ke kediamannya.
"Mau apa kalian datang ke kediamanku? Bukankah aku telah melepaskan semua saham ku di rumah sakit? Aku sudah tidak peduli dengan bisnis atau apapun yang berada di Jakarta saat ini!"
Liberti menghampiri Arlan, mengusap lembut punggung menantu yang pernah ia penjarakan, bahkan di injak-injak bak seorang pria yang tidak memiliki harga diri ...
"Maafkan Mama, Nak! Mama tidak mengetahui tentang Yasmin dan Seno. Tolong jangan seperti ini Arlan. Bagaimanapun, kamu adalah menantu terbaik Mama, Arlan," pujuknya lembut penuh kepalsuan.
Arlan menyeringai lebar, menoleh kearah Liberti yang berdiri di sampingnya, "Kenapa? Apakah Seno yang meminta kalian untuk datang menemui aku? Maaf, aku tidak ada waktu untuk melayani kalian. Karena aku baru memiliki anak dari darah daging ku sendiri!" tegasnya dengan bangga.
Raline yang mendengar penuturan Arlan seketika murka, karena perasaan cemburu, "Apa maksudmu, Lan!?"
__ADS_1
Dengan nada keras Arlan kembali menegaskan dihadapan kedua wanita itu, "Hmm apa kalian tidak mendengar tentang kelahiran pewaris tunggal tahta kekayaan ku? Baby Sandy Alendra, darah daging Arlan Alendra, dan aku sudah meminta pengacara untuk mengurus semua legalitas Leon, yang merupakan anak dari Seno! Kalian menyembunyikan semua ini dari aku! Kalian pengkhianat, bahkan membiarkan aku hidup dalam kepalsuan selama 20 tahun ini!!"
Liberti dan Raline saling menatap, mulut mereka ternganga lebar.
"Ternyata benar bahwa Arlan tergoda hasrat menantu nya, menantu jallang yang tega mengkhianati suami sendiri! Kau kejam Arlan! Kau kejam!!" teriak Raline merasa frustasi, atas ucapan Arlan dihadapan mertuanya.
Arlan meremas kuat lengan Raline yang akan berlari mencari keberadaan Shinta, "Sekali lagi aku tegaskan pada mu, silahkan tinggalkan kediaman ku! Karena aku tidak ada urusan dengan kalian! Apapun keputusan ku saat ini, sudah menjadi resiko ku! Aku hanya menunggu Leon kembali," jelasnya melebarkan kedua bola matanya.
Raline menelan ludahnya susah payah, bagaimana mungkin seorang Arlan yang selama ini diharapkannya, harus kembali menelan kekecewaan.
"Ta-ta-tapi Lan ... Aku sangat mencintaimu! Tolong jangan kecewakan aku dengan pernyataan mu," ucapnya terlontar begitu saja.
Arlan tersenyum lirih, mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak, "Apakah kau yang meminta Seno untuk mendekati Yasmin kala itu? Karena setahu ku, sejak dulu, kau lebih dekat dengan pria laknat itu daripada aku!"
Dengan cepat Liberti menarik lengan Raline, yang tampak kaku, karena tuduhan Arlan padanya. Membuat keyakinan pria mapan itu semakin besar bahwa Liberti lah dalang dari semua ini.
"Pantas saja, sejak dulu hidup Seno selalu berkecukupan, ternyata mereka benar-benar berniat menyakiti aku dan Yasmin ...!" gumamnya dalam hati, saat melihat kedua insan itu berlalu meninggalkan apartemennya begitu saja.
Liberti yang merasa kesal dengan kebodohan Raline, meremas kuat lengan putri pertamanya yang tampak bodoh mengakui tentang cintanya pada Arlan.
"Apa yang kamu lakukan, Raline! Sudah berapa kali Mama bilang, jaga ucapan mu jika berhadapan dengan Arlan. Karena laki-laki itu bukan orang bodoh! Dia sangat pintar, bahkan memiliki otak yang cerdas," geramnya saat kembali menuju mobil, yang terparkir di loby apartemen.
"Ta-ta-tapi Ma, aku memang mencintai Arlan. Aku berharap sejak dulu, jika Yasmin meninggal akulah yang menjadi Nyonya Arlan, Ma ..." sungutnya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Liberti menyela celotehan Raline yang tidak masuk akal, "Jangan ceroboh karena perasaan mu. Untuk menaklukkan hati Arlan itu tidak mudah, anak bodoh!" geramnya.
.
Sangat berbeda yang dilakukan Arlan, ketika dua wanita iblis itu meninggalkan apartemennya. Pria mapan serta tampan itu justru tengah mempersiapkan asupan untuk Shinta, jika merasa kelaparan saat malam, setelah menyusui Baby Sandy.
Beberapa roti yang di beli oleh asisten rumah tangganya, serta segelas susu untuk Shinta yang akan ia letakkan di penghangat.
Saat Arlan membuka pintu kamar, membawa nampan berisikan stock makanan untuk Shinta, seketika matanya mengarah pada wanita cantik itu tengah menangis terisak-isak di bibir ranjang peraduan kamar mereka.
Dengan cepat Arlan meletakkan makanan yang ada di tangannya diatas meja, melangkah cepat mendekati Shinta ...
"Sayang kamu kenapa? Apa yang menggangu pikiran mu?" peluknya pada tubuh wanita-nya.
Shinta hanya menangis tersedu-sedu, saat kepalanya berada didada bidang Arlan, sambil berkata ...
"Shinta mendengar semua perdebatan Bibi sama keluarga Leon. Kenapa mereka mengatakan bahwa Shinta ini jallang? Shinta tidak pernah melakukan hal itu atau apapun dengan orang lain selain Papi."
Arlan menepuk bahu Shinta, mengecup lembut puncak kepala wanitanya, "Tenanglah ... Mereka hanya tidak bisa kehilangan aku, sayang. Mereka ingin memiliki semua harta kekayaan ku! Aku tidak ingin berurusan dengan mereka, makanya aku melepaskan rumah sakit dan fokus pada bisnis kita yang ada di sini. Untuk saat ini, tenanglah sayang. Kamu tidak boleh banyak pikiran, dan menangis ..."
Shinta mengangguk, setidaknya ia merasa lega, karena Arlan tidak akan pernah melepaskannya karena kehadiran Baby Sandy.
"Syukurlah ... Setidaknya Tuan Arlan, sangat menyayangi aku, tulus selama ini ..."
__ADS_1