
Mendengar ucapan Liberti, seketika dada Shinta seperti akan meledakan satu kemarahan, tapi pada siapa ... "Tidak-tidak-tidak ... Tidak mungkin Papi akan menikahi wanita lain ...!"
Leon tersenyum sumringah, menatap Liberti yang menyambut didepan pintu kamar pribadi, dengan memapah sebelah tangannya.
Sementara Raline berdiri di sisi lain menyambut tangan keponakannya.
Shinta menatap kearah dua manusia yang selalu dikatakan Arlan sebagai keluarga tidak berarti apa-apa bagi kehidupan mereka. Namun semua kepura-puraan itu semakin terlihat jelas, bahkan Leon tampak berpihak pada kedua wanita yang memapahnya.
"Sa-sa-sa-sayang ... Sebentar lagi jadwal cuci darah kamu. Jadi lebih baik aku mempersiapkan semua kebutuhan kamu, sebelum aku berangkat ke rumah sakit untuk mengurus pekerjaan ku," jelasnya.
Leon mengangguk setuju, lagi-lagi Liberti lah yang memanjakan sang cucu tanpa memperdulikan Shinta yang di buatnya seperti pembantu, dengan seenaknya memberi perintah, dan menunjuk menggunakan tangan kiri.
"Kamu bisa pergi, biar kami yang merawat Leon hari ini, karena aku sudah menghubungi Arlan, untuk menikahi Raline nanti malam!" senyumnya menyeringai lebar, menyiratkan bahwa pernikahan kedua insan itu sudah terencana dengan sangat baik.
Shinta masih menegang, wajahnya tampak tidak senang, ingin sekali dia melemparkan satu gelas ke wajah Liberti, karena merasa kesal akan ucapan wanita paruh baya tersebut.
Leon tampak seperti pria yang manut, bahkan tidak ada pembelaan yang keluar dari bibir pria muda itu, karena mendapatkan pernyataan dari Liberti.
"Baguslah jika Papi menikah dengan Tante Raline, jadi Papi tidak perlu mengganggu pikiran ku, juga rumah tangga ku ..." sesalnya dalam hati, membuka mulut lebar menerima suapan dari Liberti.
Shinta menggelengkan kepalanya, ia beranjak menuju kamar, untuk menghubungi Arlan, mengambil tas kecilnya, dan berlalu tanpa menghiraukan Leon yang masih menikmati keindahan bersama Keluarga almarhum Yasmin.
Shinta memacu kecepatan mobil yang diberikan Leon padanya, menuju hotel tempat dirinya janjian dengan Arlan, sesuai share lokasi di aplikasi. Benar saja, Shinta melihat mobil pria itu dengan dada berdebar-debar, bahkan terasa sangat sesak.
Bagaimana mungkin kehamilannya sudah semakin terlihat, kini harus menelan pil pahit tentang pernikahan Arlan dan Tante Leon, yang selama ini selalu menyatakan dirinya seorang jallang.
"Apa jadinya jika Papi menikahi wanita itu? Berarti status ku semakin tidak jelas, dengan keluarga itu. Aku membutuhkan kejelasan untuk anak ku, bukan seperti ini ..." tangisnya pecah saat memarkirkan mobil di parkiran yang tersedia.
__ADS_1
Secepat kilat, Shinta keluar dari mobil, melangkahkan kakinya dengan cepat, menuju kamar yang di tuliskan Arlan, "8058 ..."
Kini Shinta sudah berdiri didepan pintu kamar tersebut, berkali-kali dia menelan ludahnya, karena ragu untuk menyalakan bel. Perasaan takut, bahkan sangat kesal karena penuturan yang ia dengar saat di mansion.
Shinta menekan bel dua kali, tak lama ia mengalihkan pandangannya kearah lain, pintu kamar terbuka lebar.
Seketika kedua bola mata dua insan itu bertemu dan saling menatap, Shinta langsung berhambur memeluk tubuh kekar Arlan. Air matanya mengalir deras begitu saja, karena tak kuasa menahan kerinduan yang teramat sangat terhadap pria paruh baya itu.
"Shinta kangen, Papi ..." tangisnya semakin keras, membuat Arlan langsung menutup pintu kamar hotel yang mewah itu dengan gerakan cepat.
Arlan menarik nafas dalam-dalam, dia juga merasakan hal yang sama terhadap Shinta, apapun yang mereka rasakan, karena adanya benih cinta yang saat ini tengah berkembang di rahim wanita itu.
Berkali-kali Arlan mengecup lembut kepala Shinta, menangkup wajah cantik itu dengan penuh kerinduan yang bercampur gairah yang semakin menggila.
"Kenapa kamu menangis hmm? Bukankah kita akan bertemu? Apakah dokter pribadi Leon sudah datang?"
"Tadi ada Tante Raline dan Oma Liberti. Dia mengata-ngatai aku, Pi. Mereka mengatakan bahwa aku jallang, dan Oma mengatakan bahwa Papi akan menikah dengan Tante Raline. Apakah benar begitu?" sungutnya masih menangis.
Arlan mendongakkan kepalanya, dengan wajah garang. Rahangnya seketika mengeras jika teringat tentang Liberti yang tidak pernah berhenti untuk menjodohkannya dengan Raline.
"Sial ... Masih saja mereka mengganggu anak menantu ku ...!" geramnya dalam hati.
Arlan berusaha mengalihkan pikirannya, kali ini iya hanya ingin menikmati keindahan surga dunia bersama Shinta, tanpa memikirkan dosa ataupun yang akan menghujat mereka suatu saat nanti.
Arlan meletakkan tas milik Shinta diatas meja, menggendong tubuh wanita yang tengah mengandung benih darinya, dengan penuh perasaan sayang dan bahagia ...
"Setelah aku membahagiakan mu, kamu tinggal disini dulu sebentar yah? Kamu istirahat saja, karena aku akan menyelesaikan semua urusan ku dengan mereka!" tegasnya.
__ADS_1
Shinta menganggukkan kepalanya, menatap lekat mata elang seorang Arlan, menanti bibir itu mellumat bibir basahnya dengan penuh perasaan bahagia.
Namun, apalah daya, Arlan lebih membutuhkan wanita itu untuk pelampiasan sesaat yang selama ini terbendung, karena dia bukanlah tipe pria yang dengan mudah untuk membuka hati, dengan beberapa wanita yang kini mulai sering menggodanya.
Keduanya saling berpelukan dalam kerinduan yang teramat sangat, Shinta benar-benar menikmati ciuman indah bersama Arlan, tanpa memikirkan Leon yang tengah berjuang bersama dokter pribadinya untuk melakukan tindakan cuci darah.
Tubuh Shinta menerima pasrah, saat benda itu melesat masuk kedalam milik Shinta, siap untuk memberikan kebahagiaan untuk seorang Arlan.
Benar saja, kali ini Arlan sangat buas melakukan hal itu bersama Shinta, lebih dari satu jam dengan berbagai macam keindahan dalam penyatuan mereka, tanpa menghiraukan rintihan Shinta yang memohon kepada pria kehausan tersebut.
"Papihh ... Stophh Pihh ..."
Arlan tak menghiraukan, baginya rintihan Shinta kali ini, benar-benar sangat telah menjadi candu baginya. Ia menghentakkan pinggulnya, tanpa mau melepaskan keinginan akan itu lebih cepat.
"Ahh ..." Terdengar suara errangan dan dessahan panjang Arlan, saat mencapai pelepasannya, ketika tubuhnya berada dibelakang Shinta, meremas kuat sprei kamar yang tak berbentuk.
Berkali-kali Arlan mengecup punggung telanjang Shinta, tanpa mau melepas penyatuan mereka yang masih melekat.
"Terimakasih sayang ... Kamu benar-benar memabukkan aku! Aku sangat merindukan kamu," jelasnya dengan mata terpejam.
Sementara Shinta yang merasakan ngilu di semua bagian intinya, membuat tubuh ramping itu hanya bisa tersenyum lirih, menahan rasa yang bercampur aduk walau berkali-kali mencapai kebahagiaannya.
Tak lama mereka saling bercerita sesaat, Arlan menyelimutkan tubuh Shinta, mengecup lembut bibir yang menjadi candunya selama beberapa waktu selama ini.
"Aku pergi dulu, istirahatlah, jika kamu ingin memesan makanan, pesan saja. Jaga kesehatan kamu, nanti malam kamu menginap disini, karena aku masih menginginkan mu Shinta," kecupnya pada punuk kenyal sang kekasih pujaan hati.
Saat Arlan meninggalkannya sendirian didalam kamar, Shinta menangis sejadi-jadinya ... "Kenapa Papi berubah? Kenapa dia tidak sehangat dulu ..."
__ADS_1