
Hati istri mana yang tidak mendidih jika mendengar suaminya menjanjikan satu pernikahan dengan wanita lain. Apalagi wanita itu terus mencari cara untuk memisahkan pasangan suami-istri yang tengah berbahagia tersebut. Wanita bernama Raline itulah biang sesungguhnya, yang dengan berani melakukan apapun untuk merebut Arlan dari Shinta.
Kedua bola mata Shinta masih menatap nyalang kearah Raline, darahnya benar-benar menggelegak panas karena mendengar ucapan 'menikah' dari bibir wanita jallang yang sudah tampak membaik.
Shinta yang tengah menggenggam botol minuman. Yang ia bawa dari restoran ketika akan menuju toko permen seperti yang diucapkan Lala padanya, saat menyatakan Arlan dihadang oleh seorang wanita berwajah barbie. Seketika otaknya teringat akan Raline yang benar-benar terlihat semakin cantik.
Kali ini Shinta tak menghiraukan dimana dia akan menghabisi Raline, langkah kakinya seketika bergerak begitu saja, mengikuti alur hatinya demi mempertahankan seorang suami.
Tanpa memperdulikan Arlan yang sejak tadi menahan lengannya, namun dengan cepat ditepis oleh Shinta karena dia tidak ingin siapapun merebut kebahagiaannya.
Prang ...
Prak ...
Tangan kiri Shinta mengarak rak yang berisikan permen mengarahkan ketubuh Raline, kemudian melempar botol minuman itu ke wajah wanita gila itu.
Thang ...
"Agh!" Raline terpekik, berusaha menjauh dari Shinta untuk mencari perlindungan, ia menoleh kearah Arlan yang ternyata mengawasi dibelakang Shinta agar tidak terjadi sesuatu pada dua wanita itu.
Wajah Shinta tampak seperti malaikat pencabut nyawa yang akan menjemput roh dari tubuh Raline dengan cepat. Tangan kanannya meraih rambut panjang berwarna emas itu dengan sangat kasar, mendongakkan kepala Raline agar menatap kedua bola matanya ...
Tampak tubuh Raline bergetar hebat, karena masih trauma karena serangan tongkat baseball, dan tidak ingin tubuh indahnya mengalami kerusakan lagi, karena akan mendapatkan ancaman dari Stefan.
Shinta mengembangkan senyuman lebar, menantang kedua bola mata Raline yang basah menatapnya, sambil berkata dengan nada menggeram, "Masih mau bermain-main dengan ku, jallang? Apakah kau masih memiliki nyawa lebih karena terus menggoda suami ku, hmm!?"
Raline menahan tangan Shinta, agar tidak menarik rambutnya lebih kencang, "Le-le-lepaskan tangan mu, Shinta. Aku akan menuntut mu!"
"Tuntut aku sekarang! Aku akan melawan mu, dan mengirim mu keneraka jahanam, atau bahkan akan aku kirim kau ke penjara, atas kasus percobaan pembunuhan. Ogh, aku baru ingat ... kenapa kau masih mengharapkan suami ku, karena kau yang berencana ingin membunuh ku waktu itu, kan Raline!" teriaknya membuat para pengunjung yang lain berusaha melerai.
Akan tetapi Shinta benar-benar menggila, dengan menghujamkan satu tendangan didada Raline. Ketika wanita itu meremas kuat tangan Shinta sehingga menorehkan luka disebabkan kuku panjang wanita gila tersebut.
BHUG ...
BRAK ...
__ADS_1
"Agh! Dada ku!" teriaknya semakin frustasi mencari keberadaan Sakira yang belum menampakkan puncak hidungnya untuk menyelamatkannya sebagai madu.
"Beraninya kau mencakar ku, jallang!" teriak Shinta berusaha meraih tubuh Raline, tapi ditarik dengan cepat oleh Arlan.
Arlan memeluk tubuh Shinta, agar menjauh dari Raline, "Sayang stop! Kita ini pendatang!"
"Lepaskan aku, Bi! Dia itu wanita jallang, yang akan terus menggoda Bibi agar mendapatkan kamu sampai kapanpun!" umpat Shinta semakin tak tertahankan.
Namun, Raline berusaha berdiri karena dibantu oleh pelayan toko, kemudian berkata raut wajah mengejek, "Apa? Aku yang menggoda? Arlan yang datang pada ku anak kecil! Kau hanya dijadikan wanita untuk menanamkan benih keturunannya saja! Tapi sesungguhnya dia sangat menyukai sentuhan ku! Kau tanya padanya, berapa kali dia menyemburkan lahar panasnya di mulut ku, sebelum kau datang! Kau itu hanya menantu yang tidak tahu di untung, Shinta!"
Mendengar pernyataan Raline seperti itu, Shinta melepaskan dirinya dari dekapan Arlan, kembali menghampiri Raline, karena berjarak hanya beberapa meter, kemudian melayangkan tiga kali tamparan diwajah wanita laknat itu ...
PLAK ...
PLAK ...
PLAK ...
"Jangan membuat fitnah, karena aku lebih percaya pada suami ku! Kau menyatakan ini karena kau berniat untuk merebut Arlan dari ku, jallang!" Pekik Shinta semakin menjadi.
Terdengar suara bariton Arlan, yang langsung menyangkal ucapan Raline, "Cukup Raline! Cukup!"
Disaat-saat suasana semakin tidak kondusif, Shinta yang benar-benar tersulut amarah, bahkan ingin merobek mulut Raline yang masih mencoba berlindung di balik tubuh pelayan, akhirnya Sakira datang untuk melindungi madunya tersebut.
"Stop! Apa-apaan kamu, Raline? Ada apa ini?" Sakira menoleh kearah Shinta, yang tampak nyalang menatap penuh dendam kearah Raline.
Raline yang merasa mendapatkan perlindungan dari Sakira, langsung berhambur memeluk tubuh madunya itu menunjuk kearah Shinta, "Wanita ini menyakiti aku! Dia menendang, menampar bahkan menjambak rambutku!" isaknya.
Sementara Shinta mencoba kembali mendekati Raline untuk memberikan pelajaran yang terakhir kalinya, "Kau yang memulai! Kau yang menggangu suami ku, jallang!" kembali terdengar suara Shinta dengan sangat lantang.
Arlan yang tidak suka berurusan dengan wanita seperti ini, hanya bicara kepada Sakira, "Maaf Nyonya, aku akan membawa istriku! Dan aku harap kau bawa wanita ini meninggalkan desa ini, biar aku yang menyelesaikan semua kerugian di toko ini!"
Dengan cepat Arlan menarik tangan Shinta, agar tidak berlarut-larut menjadi tontonan para pengunjung serta mendatangkan pihak kepolisian, dan membawa masalah baru untuk mereka sebagai pengunjung wisata.
Shinta berusaha untuk tetap waras. Akan tetapi kata-kata Raline terus terngiang-ngiang di telinganya. Ketika berjalan dengan cepat agar tiba di penginapannya.
__ADS_1
Tidak ada kata-kata manis yang akan menjadi obat bagi Shinta, selain kejujuran yang harus diucapkan Arlan walau sangat menyakitkan.
Kini nafas Shinta benar-benar terasa sangat sesak, memilih kembali ke vila. Tanpa mau mendengarkan ucapan Arlan yang mencoba untuk menenangkannya.
"Sayang, dengarkan aku! Jaga sikapmu, karena kita berada di negara orang! Kita masih berlibur, sayang. Tolong kendalikan amarah mu!"
Shinta membalikkan tubuhnya, ketika menyadari pintu kamar mereka tertutup dengan rapat. Menatap lekat iris mata Arlan untuk mencari satu kejujuran, "Kenapa Bibi membohongi aku?"
Sulit rasanya Arlan untuk menjawab, setelah melihat istrinya seperti singa betina yang tengah kelaparan untuk mematikan musuhnya. Ia berusaha meraih tubuh Shinta yang masih enggan untuk menerima tangannya menyentuh kulit halus itu.
Kembali Shinta berteriak keras dihadapan Arlan, "Answer me, why you lied to me!"
(Jawab aku, kenapa kamu berbohong padaku ...)
"Aku tidak berbohong sayang," Arlan mencoba untuk tetap tenang menghadapi Shinta.
Shinta mendengus dingin, "Katakan padaku sekarang! Sebelum aku yang mencari tahu dengan cara ku!"
Arlan menggelengkan kepalanya, tidak ingin mengingat semua kejadian bersama Raline, "Itu tidak benar sayang! Raline berbohong, aku tidak mungkin melakukan itu semua. Karena aku mencintaimu!"
Lagi-lagi Shinta hanya tersenyum dingin, menatap nanar kedua bola mata suaminya menelan ludahnya, hanya untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang mengering sejak tadi, "Bibi berbohong pada ku! Bibi telah mengkhianati aku! Kenapa Yasmin yang jahat, aku yang kalian hukum!? Apa salah ku pada kalian? Jawab aku, Arlan Alendra!" teriaknya dengan nada bergetar.
Tak ingin melihat istrinya menangis, Arlan justru berhambur memeluk erat tubuh Shinta. Walau wanita itu terus berontak, tapi tenaga seorang pria sangatlah kuat untuk menjadi air agar dapat membasahi bara api yang masih menyala.
"Maafkan aku, sayang. Aku sangat mencintaimu! Maafkan aku, karena aku telah mengecewakan mu!"
____
Hai hai hai ...
Author hanya ingin menyapa. Jangan lupa untuk terus like and komentar ya. Kasih give spesial dong. Buat semangat update minimal dua chapter sehari ... setidaknya kita saling memberi dan menerima karena akan ada give dari author buat para reader tersayang.
Ingat yah, tidak author umumkan melainkan langsung chat bagi lima yang mendapatkan hadiah dari author Tya Calysta.
Hayo ... mumpung lagi baik, jadi kita sama-sama saling mensuport untuk semua karya Tya Calysta. Ingat yah ... like and komentar ...
__ADS_1
Terimakasih, sehat untuk kita semua.