
Tidak ada yang mengetahui bagaimana perasaan Alexa saat ini. Gadis muda itu hanya meringkuk di pundak kokoh Brian, selama di pesawat pribadi milik Stefan.
Sementara Sandy yang melihat kemesraan adik angkat kesayangannya meringkuk dipundak Brian tanpa mau menoleh kearahnya hanya mendengus kesal, karena ulah Janet yang selalu mengalungkan tangannya selayaknya pasangan kekasih selama berada di bandara internasional Changi Singapura.
Entahlah, Brian dapat merasakan kesedihan Alexa kali ini, walaupun gadis itu selalu menggelengkan kepala ketika pria dewasa itu menanyakan perasaan kekasih belianya.
"Apa kamu cemburu melihat kedekatan Sandy dengan Janet, baby?"
Terasa kepala itu menggeleng, akan tetapi Alexa menyembunyikan wajahnya dipunggung Brian karena tidak ingin kekasihnya itu melihat dirinya tengah dirundung kesedihan.
Dapat dibayangkan, bagaimana perasaan Alexa saat ini. Sandy yang mengatakan bahwa dirinyalah cinta sejati untuk seorang gadis belia yang tumbuh ceria akan tetapi memiliki luka yang tersirat namun bibir tak mampu untuk berucap. Alexa hanya mengumpat dalam hati, "Ternyata tadi pagi Sandy hanya ingin mempermainkan perasaan ku saja ..."
Kembali ia terkenang akan masa kecil yang selalu diperhatikan oleh Sandy. Sejujurnya Alexa juga sangat mengagumi sosok abang angkatnya tersebut. Akan tetapi, mereka harus berpisah karena pria muda nan tampan itu harus menyelesaikan sekolahnya di salah satu universitas ternama di kota London yang menjadi pilihan Shinta.
Tentu saja dengan berbagai macam drama yang dilakukan Alexa, membuat mereka berdua harus terpisah hingga lima tahun lamanya.
Kini kedua-nya telah tumbuh dewasa, walau sesungguhnya Alexa hanya gadis muda yang tidak diperbolehkan oleh Arlan untuk melakukan hal-hal yang membebani pikiran putri kesayangannya, karena riwayat kenker hati yang dideritanya sejak usia tiga tahun. Membuat pria paruh baya itu menuruti semua keinginan putri angkatnya termasuk bekerja di perusahaan Brian atas izin Stefan.
.
.
Ditempat yang berbeda, Dokter Salim yang sudah tidak lagi muda. Kini telah duduk dikediaman Arlan membawa satu berkas yang tampak usang dengan raut wajah sedikit tegang.
Bagaimana tidak, Salim membawa serta Albert selaku kerabat mereka yang ternyata pria mapan itu jugalah akhirnya mendapatkan data yang memiliki kesamaan dengan semua riwayat Bianca Alexa.
__ADS_1
Kedua bola mata Arlan membulat sempurna, ketika membuka lembar demi lembar riwayat Cua yang dinyatakan lumpuh, serta Leon putra kesayangannya yang telah tiada.
Tangan Arlan bergetar hebat, sama halnya saat dirinya mendapatkan surat dari almarhum istrinya Yasmin, yang mengatakan bahwa Leon bukan darah dagingnya.
Diusia Arlan yang sudah tidak muda lagi, seakan-akan kembali tertampar oleh semua keadaan yang sangat memilukan sehingga melibatkan buah hati angkat mereka.
Perlahan Arlan menggelengkan kepalanya seraya berkata dengan nada berat, "I-i-ini tidak mungkin. Alexa bukan darah daging Leon! Leon tidak mungkin bisa memberikan keturunan. Karena kondisi kesehatannya baru dinyatakan sembuh kala itu! A-a-a-aku yakin, ini ada kesalahan dalam data, atau mungkin hanya kebetulan. Tidak! Ini tidak mungkin!"
Salim menoleh kearah Albert, untuk meyakinkan bahwa semua data yang ada di rumah sakit Mount Elizabeth tidak pernah salah.
Bergegas Albert mengeluarkan data Cua yang ia dapatkan dari seorang dokter yang menangani kondisi wanita oriental itu, meletakkan diatas meja. "Dari darah, semua sama. Kita bisa melakukan test DNA pada Alexa. Karena sudah beberapa kali Keluarga Cua menceritakan kepada Dokter Arlen. Tidak mungkin ini satu kebetulan, bukan? Dengan test DNA semua akan dapat kita ketahui kebenarannya. Lagian, Leon juga sering melakukan pengobatan beberapa kali di Mount Elizabeth. Jadi kita tidak bisa mengelak dari data yang tertera, Tuan Arlan."
Sumpah demi apapun, Arlan yang awalnya tampak tenang. Kini terlihat gelisah dengan keringat dingin membasahi wajahnya. Membuat dirinya memanggil Shinta yang tak kunjung datang hanya untuk sekedar menyiapkan minuman segar dan beberapa makanan kecil.
Bergegas Shinta berlari kecil mendekati Arlan, dengan disusul asisten rumah tangga mereka dari belakang, yang langsung menghampiri suami tercintanya.
Melihat wajah Arlan yang sudah berkeringat pucat, Shinta menoleh kearah kedua dokter keluarganya hanya untuk bertanya, "Ada apa dok? Kenapa suami ku tampak pucat seperti ini?"
Dengan cepat Salim membantu Arlan yang hampir tumbang kearah kiri Shinta, kemudian merebahkan tubuh yang tidak muda tersebut disamping sang istri, yang langsung disambut bantal kecil untuk menumpu kepala Arlan.
Shinta memberi perintah kepada salah satu pelayan mereka, karena kondisi Arlan lagi-lagi sulit untuk bernafas, "Cepat ambil jarum dikamar ku!" teriaknya tampak sedikit panik.
Akan tetapi, Dokter Salim lebih dulu melakukan pertolongan pertama bagi orang yang akan mengalami stroke ringan seperti yang dialami Arlan.
Wajah Shinta tampak cemas, memilih menjauh dari tubuh suaminya, karena masih mendapatkan pertolongan pertama dari dokter kepercayaan keluarganya sambil menoleh kearah Albert seraya bertanya, karena tidak biasanya Arlan mengalami hal ini.
__ADS_1
Shinta sedikit berbisik ketelinga Albert yang berdiri tidak jauh darinya, "Bisa jelaskan, ada apa? Karena tadi pagi kami baru saja bahagia melepaskan anak-anak menuju Roma, siang ini harus mendapatkan situasi seperti saat ini. Pasti Bibi tengah terguncang karena terakhir kali dia mengalami shock ini ketika mengetahui tentang Leon yang bukan darah dagingnya."
Tanpa ingin menyembunyikan semua yang mereka bahas dihadapan Arlan. Albert mengambil beberapa berkas yang ada diatas meja, kemudian memperlihatkan kepada Shinta.
Sontak tubuh Shinta seketika melemah. Kakinya seakan tidak bertulang. Bagaimana mungkin, bahwa semua data yang ada ditangannya kini, memiliki keabsahan yang sama persis dengan pria yang tertera namanya disudut kanan atas.
Leon Alendra, yang telah meninggal ketika Sandy masih berusia tiga tahun. Merupakan mantan suami pertama Shinta kala itu. Membuat wanita yang sudah dewasa tersebut hanya bisa menahan rasa yang bercampur aduk.
"Ke-ke-kenapa tidak ada yang memberitahukan bahwa Leon memiliki anak dengan Cua? Kenapa aku harus menemukan Alexa dia panti asuhan milik Nyonya Rabeca? Siapa yang membawa Alexa kesana? Ogh Tuhan ... mimpi apa aku semalam. Bagaimanapun Leon merupakan mantan suamiku. Anak yang diakui oleh Bibi. Ta-ta-tapi kenapa baru tahu sekarang ...?" usap Shinta pada wajah mulusnya.
Air mata Shinta jatuh tak tertahankan. Memory masa lalu kembali terlintas dalam benaknya. Penghinaan, pengkhianatan yang terjadi kala itu sangat menyakitkan dan masih membekas di hati Shinta sebagai seorang menantu sekaligus istri dari Leon.
Bibir itu kini tak mampu berkata-kata, dengan linangan air mata Shinta masih menatap kearah suami tercinta, hanya untuk menguatkan Arlan yang masih tampak shock dengan air mata lolos begitu saja dari sudut mata elangnya.
Shinta menoleh kearah Albert, "Kenapa baru sekarang kalian memberitahu kami tentang hal ini? Apakah Cua dalam keadaan sekarat?"
Dengan cepat Albert meletakkan file yang ada dalam genggamannya, kemudian duduk dihadapan Shinta hanya untuk menenangkan pikiran istri rekan bisnis sekaligus pasien lamanya tersebut.
"Dengar Shinta. Semua ini karena Cua baru melakukan therapi kemaren siang dirumah sakit. Jadi Dokter Arlen, membawa semua dokumen tentang Cua keruangan ku, hanya untuk memastikan bahwa penciutan otak yang dideritanya itu tidak dapat disembuhkan. Dan dia menyarankan untuk melakukan pengobatan ke Jepang, serta melakukan pencangkokan di sana. Brian sama sekali belum mengetahui tentang ini, tapi kami akan menunggu setelah kepulangan mereka dari Roma. Tapi ada satu data yang aku baca, ternyata memiliki kesamaan dengan Alexa dari golongan darahnya. Aku mencari semua data pasien yang kita tangani, ternyata Dokter Salim menemukan beberapa kesamaan dengan riwayat Leon. Ingat Shinta, Leon meninggal karena sel kanker yang terlambat diketahui. Jadi ada kesamaan dengan riwayat Alexa," jelas Albert panjang lebar.
Mendengar penjelasan dari Albert, kepala Shinta seakan mau meledak. Bagaimana tidak, ternyata putri yang mereka asuh selama ini merupakan putri dari Cua dan Leon.
Shinta memberanikan diri untuk bertanya lagi, "Apakah kamu yakin bahwa Alexa putri dari Cua? Mengapa Brian selama ini tidak mengetahui tentang masa lalu istrinya yang memiliki anak? Ogh Tuhan ..."
Mendengar pertanyaan Shinta, Albert hanya tersenyum lirih seraya menjawab dengan suara lembut, "Entahlah ..."
__ADS_1