Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Tidak tergoda


__ADS_3

Matahari bersinar semakin tinggi, Arlan telah berhasil mengusir wanita laknat itu dari apartemen miliknya. Wajah tampan itu terlihat memerah, karena masih menahan rasa sakit kepala yang semakin lama semakin terasa akan meledak. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa, kemudian merentangkan kedua tangannya.


"Kenapa wanita gila itu seperti akan memakan ku! Ada apa dengannya? Kenapa dia sangat penasaran, bahkan merendahkan dirinya sendiri hanya untuk menjadi seorang Nyonya Arlan. Bukankah Raline tahu, bahwa aku tidak pernah tergoda olehnya ..." geramnya meremas kuat rambut sendiri.


Seketika perasaan Arlan berkecamuk, ia tidak ingin melampiaskan amarahnya kepada siapapun saat ini, tapi lagi-lagi wanita paruh baya yang mengasuh Baby Sandy, keluar dari kamar dengan tergopoh-gopoh, mendekati Arlan.


"Pak Arlan, i-i-itu, hmm Nona Shinta mengamuk di kamar mandi. Dia membanting semua barang-barang yang ada di dalam kamar mandi, Pak ..." ucapnya terbata-bata.


Arlan mengehela nafas dalam-dalam, ia yakin bahwa Shinta menyaksikan kejadian yang tidak sepantasnya ia lihat ...


"Sial! Pasti dia agh!" geram Arlan semakin kesal.


Bergegas Arlan menuju kamarnya, menerobos masuk, kemudian mendobrak pintu kamar mandi.


BRAK ...!


Seketika matanya tertuju pada sosok Shinta yang menangis tersedu-sedu di bawah guyuran shower, membuat hatinya semakin merasa bersalah dan iba.


Tanpa pikir panjang, Arlan mendekati wanita yang ia cintai, langsung mematikan keran air, dan membawa Shinta dalam dekapannya.


"Apa yang kamu lakukan, sayang? Aku minta maaf, Shinta!" ucapnya pelan, tapi Shinta berkali-kali memberontak karena tidak ingin bersentuhan langsung dengan kulit Arlan.


Arlan mengambil handuk, menutup tubuh wanitanya, menggendong Shinta, membawanya kedalam kamar peraduan mereka.


"Bibi jahat! Bibi bilang tidak mencintai wanita itu, tapi kalian bermesraan. Bukankah kita baru melakukannya tadi malam, bahkan hingga tadi pagi! Aku melihatnya, kalian sangat menjijikkan!" tepuknya pada dada bidang Arlan.

__ADS_1


Seketika Arlan menggelengkan kepalanya, menolak semua yang dituduhkan Shinta padanya.


"Tenanglah. Aku tidak melakukan apapun padanya, sayang. Aku bersumpah pada mu! Aku tidak melakukannya. Aku di perkosa oleh Raline, Shinta! Bukan mau ku," ucapnya dengan wajah semakin mengeras karena kesal.


Shinta menggelengkan kepalanya, dia meremas kuat baju yang Arlan kenakan, karena tidak sanggup membayangkan Raline yang hanya mengenakan bra berwarna hitam, dengan rok mininya naik keatas sehingga mempertontonkan bagian perut wanita itu.


"Aku melihatnya, Bi! Aku ini tidak buta, dia bertelanjang dihadapan Bibi. Apa yang kalian lakukan! Tidak mungkin seorang wanita telah memperkosa pria! Itu tidak mungkin, aku bukan anak kecil lagi, Bibi!" hardiknya dengan lantang tepat di wajah Arlan.


Arlan yang sejak tadi menahan amarah bercampur hasrat yang belum tersalurkan, langsung menatap tajam kearah Shinta ...


"Dengar sayang! Dia itu wanita gila, bahkan dia yang membuka sendiri pakaiannya, dia yang, agh!! Jika kamu tidak percaya padaku, terserah! Terserah apa mau mu, Shinta! Aku tidak pernah menyukainya, bahkan aku tidak merasakan apa-apa dari hubungan itu!" bentaknya.


Shinta yang mendengar bentakan Arlan, langsung berdiri, kemudian menantang kedua bola mata pria mapan tersebut, "Ogh, Bibi membentak aku hanya untuk Raline? Wanita yang baru Bibi cumbu dan sekarang bilang dihadapan aku, bahwa bibi tidak merasakan apa-apa! Ternyata Bibi tidak lebih dari pria hidung belang di luar sana! Bibi yang pergi, jangan pernah memperlihatkan wajah Bibi lagi dihadapan Shinta! Karena aku sangat membenci Bibi!!"


Sama halnya ketika Shinta melihat Leon tengah mencumbu tubuh Cua. Semua pengkhianatan itu terus saja membayanginya walau ia sudah melupakan kejadian yang sangat menjijikkan tersebut.


Arlan yang tidak terima dengan tuduhan Shinta, langsung menarik lengan wanita cantik itu untuk mendekap tubuh mungil itu lebih erat.


Entah mengapa, Arlan tampak semakin takut jika Shinta pergi meninggalkannya. Dengan penuh kelembutan ia merendam amarahnya, hanya untuk menenangkan wanita yang sangat ia cintai.


"Aku mencintai mu, Shinta. Jujur, aku tidak menyangka bahwa Raline seberani itu padaku. Aku mohon, jangan memojokkan aku seperti ini. Percayalah padaku, karena aku sangat mencintaimu."


Hati wanita mana yang tidak akan luluh lantak dengan pengakuan cinta seorang pria dewasa, mapan juga tampan. Shinta menggelengkan kepalanya tapi tangannya mendekap erat tubuh Arlan. Air mata kembali mengalir deras membasahi wajah cantiknya karena mesti dihadapkan dengan permasalahan pelik seperti ini.


"Aku enggak kuat, Bi. Kalau Raline masih terus menggoda Bibi. Sekuat-kuatnya iman Bibi, pasti suatu saat nanti akan tergoda oleh pesonanya. Aku takut, Bi! Aku takut, semua itu akan terjadi lagi, karena dia telah mengetahui kelemahan Bibi!"

__ADS_1


Arlan memejamkan matanya, sejenak ia berpikir membenarkan ucapan wanita yang ada dalam dekapan. Akan tetapi, sejak ia menikah dengan Yasmin, Raline selalu saja menggodanya dengan berbagai macam cara dan alasan.


Namun, tidak pernah Arlan tergoda oleh pesona seorang Raline, karena ia sangat mengetahui bagaimana sepak terjang seorang Raline sejak dulu.


Raline yang biasa hidup bergonta-ganti kekasih, membuat Arlan memilih membungkam mulutnya karena tidak ingin terlibat dalam cinta gila wanita itu. Tapi kali ini ia benar-benar terjebak, dan untung tidak sampai menyemburkan benih yang akan di tuntut oleh wanita laknat itu suatu hari nanti.


Perlahan Arlan, menangkup wajah cantik Shinta, mengecup lembut bibir wanita yang masih menangis tersedu-sedu didepannya, sambil berkata, "Apa kamu tidak pernah percaya padaku? Aku tidak pernah bermain-main di luar sana, Shinta. Aku sangat menyayangi mu, sejak dulu hingga kini. Sejak kamu menikah dengan Leon, hingga kita berpisah, aku tidak pernah tergiur dengan wanita manapun. Aku selalu menyendiri dan mengharapkan mu kembali dalam pelukan ku. Mungkin hari ini, aku terlalu bahagia setelah bertemu dengan mu, sehingga aku tidak bisa menahan perbuatan Raline padaku. Kamu nafas ku, Shinta. Aku sangat mencintaimu sampai akhir hayat ku. Percayalah padaku ..."


Shinta menganggukkan kepalanya, mengecup telapak tangan Arlan yang masih terasa sangat lembut saat bersentuhan degan wajahnya.


"Kita jadi menikah, kan Bi?" tanyanya penuh harap.


Arlan mengangguk cepat, mengecup kedua bola mata Shinta yang refleks tertutup rapat, sambil menjawab pertanyaan wanita yang sangat ia cintai tersebut.


"Kita akan menikah, hidup bersama dan bahagia di Singapura. Aku tidak ingin jauh dari mu, dan tidak akan pernah kembali lagi kesini. Kita akan hidup bersama membesarkan Baby Sandy, karena aku tidak ingin jauh darimu ..."


Shinta memeluk tubuh Arlan, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Leon yang telah mencampakkannya begitu saja. Kali ini ia hanya ingin bahagia, hidup bersama Arlan Alendra yang menjadi impiannya sejak pertama kali bertemu.


"Aku mencintai Bibi ..."


.


Sementara di sudut kota metropolitan, Raline tengah menangis, berteriak keras memanggil nama Arlan Alendra. Dadanya seketika terasa semakin sesak, ia tidak menyangka bahwa Arlan akan mencampakkannya ketika akan mencapai puncak kebahagiaan.


"Sialan kau Arlan! Aku akan mencari keberadaan jenazah Shinta untuk mu, Arlan! Karena aku yakin, wanita itu telah mati, telah mati menyusul Yasmin!"

__ADS_1


__ADS_2