Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Seorang pecundang


__ADS_3

Di hotel bintang lima itu, masih duduk Arlan dan Lily dengan cerita masa lalu mereka berdua. Tidak banyak yang tahu, bahwa mereka saling mengangumi satu dan yang lainnya karena memiliki visi dan misi yang sama dalam mengembangkan satu bisnis untuk masa depan kehidupan mereka sejak dulu.


"Cobalah Li. Setidaknya di negri jiran, kamu menjadi pionir top brand untuk satu produk kesehatan yang lagi trend saat ini. Tidak ada salahnya kita mencoba, untuk terus berkembang. Mana tahu, setelah kamu kembali dengan Seno semua akan berubah menjadi lebih baik," jelas Arlan dengan senyuman mengembang lebar.


Lily menggelengkan kepalanya, seketika dia tidak setuju dengan pernyataan Arlan, "Aku tidak akan kembali dengan Mas Seno, Mas. Lebih baik aku sendiri, menjadi pengajar, dengan berbagai macam jenis kegiatan. Aku tidak menyukai mantan, Mas!"


Arlan tersenyum manis, ia tertunduk, karena tidak ingin menoreh luka di hati wanita itu. Bagaimanapun, Lily adalah wanita yang tegar dan propesional, dan mampu berdiri sendiri tanpa Seno setelah perceraian mereka.


"Ya, tapi kamu membutuhkan sandaran hidup. Itu yang aku rasakan," senyumnya hanya sekedar basa-basi.


Lily mengangguk membenarkan perkataan Arlan. Tapi bukankah hal yang mudah untuk membuka hati dengan seseorang karena pernah dikhianati selama bertahun-tahun.


"Untuk saat ini belum terpikirkan, Mas. Tidak tahu jika nanti Tuhan memberikan sosok pria baik, juga setia. Jujur ada perasaan tidak percaya, setelah Mas Seno mengatakan di pengadilan bahwa dirinya berselingkuh karena aku tidak layak untuk menjadi teman tidur! Hmm, sedikit kecewa dan ingin menampar wajahnya. Tapi aku hanya tersenyum tipis, melihat ia datang bersama Raline waktu itu ..."


Arlan hanya mendengus dingin, mendengar penuturan Lily, "Mereka itu sama saja, Li. Semoga kamu mendapatkan pria sesuai kriteria kamu. Bagaimanapun, kita sudah tidak muda. Kita hanya berselisih empat tahun. Jadi berhati-hatilah mencari pendamping hidup."


Mendengar nasehat Arlan, Lily sangat lega, walau sesungguhnya dia belum berhasil membujuk pria itu untuk pergi ke Jakarta bersama menjenguk Leon.


Arlan mengeluarkan cek, kemudian menuliskan nominal angka yang sangat fantastis. Angka yang tertera, cukup untuk Leon berobat lagi ke Cina walau sangat tipis harapannya.

__ADS_1


Lily sedikit berbisik, bertanya kepada Arlan, "Mas, apakah nominal ini tidak terlalu besar?"


Dengan mudahnya Arlan menjawab, "Anggap saja dalam satu tahun aku memberikannya 1,5 milyar. Dan aku rasa nominal segini, bisa memperpanjang umur Leon, walau sangat tipis harapannya. Mengingat dokter spesialis dalam pernah menyampaikan pada ku, bahwa orang yang melakukan pencangkokan tidak mampu bertahan jika terserang virus. Aku yakin Leon hmm entahlah ..." ujarnya dengan nada datar.


"Oya Li, bagaimana hubungan Leon dengan Cua? Mengapa mereka tidak jadi menikah?" Lanjut Arlan mengalihkan pembicaraan mereka.


Sejenak Lily menyandarkan tubuhnya disandaran kursi restoran, memijat pelipisnya pelan, "Hmm gadis itu tidak pernah ada kabar lagi, setelah Mas Arlan mengusirnya dari mansion. Aku dengar, dia telah menikah dan kini tinggal di sini. Tapi aku tidak pernah bertanya lebih lanjut lagi."


Arlan tersenyum lirih, tidak menyangka bahwa semua yang ia pikirkan tentang Cua sejak dulu, ternyata benar adanya. "Yah, begitulah kenyataan hidup. Sampaikan pada Leon, semangat. Jangan pernah menyerah begitu saja karena keadaan. Aku akan selalu bersamanya melalui doa-doa ku. Bagaimanapun kami pernah bersama, dengan semua suka duka yang sangat berkesan."


Lily tersenyum sumringah, mengalihkan pandangannya kearah lift yang terbuka di sebelah kanan mereka, membuat ia terkesan ketika matanya tertuju pada sosok Shinta yang langsung menyambangi Arlan.


Mata Lily masih terpesona akan kecantikan Shinta yang sangat menawan. Tubuh langsing bak gitar Spanyol, kulit bersih dan terawat. Bahkan sangat berbeda ketika ia bertemu pertama kali beberapa tahun silam.


Arlan mengusap lembut punggung Shinta, menatap kearah Lily, "Perkenalkan, ini Mama angkat Leon, sayang. Sekarang Leon dirawat oleh mantan suaminya. Panggil saja Aunty. Aunty Lily."


Shinta menundukkan kepalanya penuh perasaan hormat, menghampiri wanita bertubuh sintal itu, hanya untuk sekedar menyapa. "Hai Aunty, saya Shinta ..."


Lily mengusap lembut lengan Shinta, tersenyum lebar ketika matanya kembali melirik kearah Arlan.

__ADS_1


"Ternyata istrimu lebih cantik dari siapapun di masa lalu mu, Mas. Sudah makan, sayang? Pilih saja, kamu mau apa. Nanti Aunty yang bayar!" goda Lily untuk mengejek Arlan.


Tawa Arlan terdengar sangat keras, "Jangan sampai kamu merendahkan seorang Arlan Alendra, Lily! Saya bukan Arlan yang dulu, saya akan membayar apapun yang kalian minta saat ini. Tapi tidak untuk Keluarga Utama, karena mereka memang tidak pernah merasa cukup!"


Lily membenarkan, "Anda benar, Tuan! Mereka sepertinya sedang menikmati indahnya karma, karena telah merusak kebahagiaan rumah tangga anak menantunya. Aku rasa, Mas ... hmm ..." ia tidak melanjutkan ucapannya, karena melihat kehadiran Shinta masih berdiri di sampingnya, sambil melihat-lihat menu makanan dari kejauhan.


Melihat istrinya masih termangu melihat menu yang masih terhidang, Arlan bertanya perlahan, "Kamu mau apa, sayang? Steak atau salad tuna? Kamu bisa ambil di ujung sana. Minta siapkan makanan yang baru. Karena aku tahu, kamu hanya sarapan sereal di kamar."


Shinta mengangguk, ia tidak ingin melihat dari kejauhan, memilih mendekati stand makanan yang masih menghidangkan beberapa makanan Asia juga Eropa.


Lily menggeleng, bibirnya yang tadi terkunci, kembali menyambung ucapannya, "Aku rasa jika dulu Mas Arlan membawa Yasmin pergi meninggalkan Jakarta, dan stay di Singapura, mungkin semua harta yang hilang entah kemana itu, masih tersisa sampai saat ini!"


Perlahan Arlan menyela ucapan Lily, " Tidak! Mereka justru akan terus merong-rong Yasmin menguras semua uang ku, hingga tersisa underwear seperti Seno! Dimana Seno tinggal sekarang? Apa masih di mansion yang lama?"


Lily menggeleng, bibirnya tidak mampu untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Akan tetapi, pertanyaan Arlan benar-benar ingin tahu bagaimana sesungguhnya kehidupan Seno saat ini.


"Hmm, Mas Seno tinggal di rumah petak, daerah kota kembang, Mas. Mansion mewah itu sudah di jual. Makanya aku ingin membawa Mas Arlan untuk menemui mereka, memberikan motivasi yang berbeda. Tiga tahun semua kekayaan Mas Seno habis tidak berbekas. Bahkan kehidupan Leon sangat berubah. Raline dan Mama Liberti justru sudah pindah. Terakhir yang aku dengar mereka tinggal di apartemen, kata Mas Seno dia yang menyewakan. Alasan Raline, sebagai tanggung jawab Seno padanya." Cerita Lily panjang lebar.


Entah kenapa, dada Arlan kembali terasa sesak ketika mendengar bahwa anak yang ia besarkan dengan kemewahan selama 20 tahun, kini harus tinggal di rumah petak setelah tinggal bersama Daddy kandungnya.

__ADS_1


"Are you kidding me, Lily? Aku tidak suka bercanda. Apakah semiris itu kehidupan mereka? Ogh shiiit, damn it! Mereka terlalu menghina ku dan Shinta. Akhirnya, mereka jatuh dalam kemiskinan. Aku tidak tahu mau bahagia ataupun sedih saat ini. Tapi aku benar-benar kecewa pada Seno! Dia tidak lebih dari seorang pecundang yang tidak bisa melakukan apapun selama ini! Jelas dia memanfaatkan otak ku, tenagaku, bahkan dia juga yang menghancurkan keluarga ku!" umpatnya menggerutu kesal.


__ADS_2