
Di suasana yang berbeda, Arlan masih melakukan aktivitasnya sebagai pria yang masih di akui Shinta sebagai ayah mertua. Kini pria mapan itu hanya bisa pasrah menerima takdirnya, jika wanita itu akan pergi meninggalkannya ketika Leon datang menjemput Ibu dari Baby Sandy tersebut.
Sejak awal Arlan telah mempersiapkan dirinya akan kehilangan Shinta untuk kembali hidup bersama Leon membina rumah tangga mereka. Membuat ia memutuskan untuk membesarkan Baby Sandy seorang diri. Selayaknya Arlan kehilangan Yasmin beberapa tahun lalu.
Namun keputusan itu berubah dalam sesaat, setelah keduanya berjanji, akan melanjutkan hubungan terlarang mereka ke jenjang pernikahan ... Akan tetapi ...
Shinta masih disibukkan dengan mengurus Baby Sandy hingga terlelap disamping Arlan, kemudian memerah susu nya sendiri untuk ia simpan di freezer yang tersedia didalam kamar mewah mereka, jika sewaktu-waktu harus meninggalkan baby kecil itu bersama pria mapan tersebut, untuk melakukan kegiatannya diluar rumah.
Sudah hampir dua hari Shinta menunggu kabar kedatangan Leon, namun ia masih belum mendapatkan kepastian dari pria muda tersebut.
Arlan yang memperhatikan gerak-gerik Shinta gelisah sejak tadi hanya terdiam sejenak. Dia hanya mengusap-usap lembut tangan mungil Baby Sandy yang terlelap pulas, dan sesekali melirik kearah Shinta yang membolak-balikkan handphone miliknya.
Perlahan Arlan mendekati Shinta, mengecup lembut leher jenjang wanita itu dari arah belakang ... "Kenapa hmm? Apa kamu masih berharap pada Leon?"
Shinta menepis tangan Arlan yang akan menyentuh bagian dadanya, tampak kegelisahan itu dari raut wajah yang tak biasa.
"Bi ... Aku mau kita berpisah! Aku tidak ingin melanjutkan hubungan kita. Aku sudah memikirkan nya. Dan aku akan ikut dengan Leon, untuk merawatnya di Shanghai. Aku sangat senang bisa memberikan anak pada mu, tapi aku tidak ingin mengakhiri pernikahan ku dengan Leon, hanya hmm, hanya karena Bibi!" tegasnya, tanpa memikirkan perasaan Arlan yang selama ini telah menjaga dan merawatnya.
Sontak pernyataan Shinta membuat Arlan ternganga lebar. Bagaimana mungkin, dua malam menghabiskan malam bersama lebih intens, kini wanita itu mengatakan akan ikut dengan Leon, membuat pria mapan yang telah memakan asam garam kehidupan lebih banyak semakin tersulut emosi ...
"Apa maksud mu hah! Bukankah kita telah memutuskan untuk menikah, Shinta? Agh ... Aku lupa, apakah kamu masih menginginkan Leon kembali dalam pelukan mu? Bukankah kamu yang mengatakan pada ku tadi malam, kamu akan bersama ku dan merawat Sandy. Kenapa kamu seperti mempermainkan perasaan aku!!" hardiknya dengan suara bariton yang sangat lantang.
Shinta terdiam, jantungnya berdegup lebih kencang, dia tidak menyangka bahwa Arlan akan semarah ini padanya ...
__ADS_1
"Ta-ta-tapi a-a-a-aku tidak bisa mengkhianati pernikahan ku dengan Leon! Aku juga mencintai dia, Bi!"
Arlan semakin ternganga lebar mendengar pernyataan cinta Shinta, "What? Are you kidding me, baby? Atau jangan-jangan kamu sedang sakit jiwa! Kita baru menghabiskan malam bersama, dan kamu mengatakan akan bersama ku! Sekarang kamu mengatakan mengkhianati Leon!?"
Arlan beranjak dari ranjang peraduannya, menggeram bahkan ingin sekali merobek bibir Shinta yang mengatakan pengkhianatan padanya.
"Apa yang kamu pikirkan sebelum menggoda ku, Shinta? Kenapa baru sekarang kamu katakan pengkhianatan! Kenapa baru sekarang kamu mengatakan ingin melanjutkan pernikahan mu dengan Leon! Setelah ada Baby Sandy, Shinta! Sandy anak kita, putra kita! Aagh shiiit! Damn it! Silahkan kamu tinggalkan kediaman ku! Aku tidak sudi melihat mu, Shinta! Kau tidak lebih dari seorang ahh!!!!" geramnya meremas kuat rambut tebalnya.
Arlan kembali menoleh kearah Shinta, kali ini dia tidak mampu menahan rasa kesalnya, amarahnya, kecewanya, terhadap wanita yang masih berusia 23 tahun tersebut ...
"Aku menganggap mu sebagai wanita baik-baik, Shinta! Ternyata aku salah! Pergi! PERGI!!" teriaknya semakin keras.
Shinta bergidik ngeri, saat mata Arlan semakin nyalang menantang kearahnya.
"Bi ... Jangan lakukan ini pada ku! Aku tidak ada tempat tinggal di sini! Aku hanya mengungkapkan isi hati ku, Bi!" isaknya memohon untuk sebuah kata kasihan.
Arlan mengalihkan pandangannya kearah lain, karena sudah terlanjur kecewa pada wanita yang berada di hadapannya saat ini. Matanya seolah-olah berkabut melihat Shinta yang telah tega menyakiti perasaan dan mengkhianati ketulusan cintanya.
Kebaikan yang selama ini iya berikan, agar Shinta bahagia, seketika menorehkan luka yang teramat sangat menyakitkan.
Dengan tegas, Arlan mendorong tubuh Shinta agar segera keluar dari kamarnya, karena dia tidak ingin berdebat dengan wanita yang telah ia angkat derajatnya, namun ingin menguji kesabarannya dalam mengambil satu keputusan.
Shinta yang belum siap menerima kenyataan pahit tersebut, malah memberontak dengan berusaha mengambil putranya, namun dengan cepat Arlan menggeser posisi tubuhnya untuk melindungi Baby Sandy yang masih tetap tenang dalam tidurnya ...
__ADS_1
Arlan terus mendorong tubuh Shinta, agar keluar dari kamar pribadinya, "Keluar! Keluar!!"
Shinta berteriak keras, "Bi, ini tidak adil! Sandy masih membutuhkan Shinta, Bi!"
Arlan tertawa kecil, menyunggingkan senyuman lirih menyiratkan ketidaksukaannya pada wanita tersebut, "Silahkan tinggalkan kediaman ku, Shinta! Karena aku tidak membutuhkan mu lagi. Kau boleh pergi mempertahankan rumah tangga mu dengan Leon! Silahkan nikmati suami mu yang masih muda menurut mu! Karena aku sudah muak dengan semua tingkah dan sikap mu! Kau berciuman dengan Leon, kau membiarkan dia membawakan semua belanjaan mu! Kau yang menggali kuburan mu sendiri, karena telah berani mempermainkan Arlan Alendra, Shinta Bachir!"
Shinta menggelengkan kepalanya, dia tidak dapat berkata-kata. Kali ini dia hanya bisa menangis, karena kebodohannya dan harus di jauhkan dari anak kandungnya sendiri.
"Bi! Baby Sandy butuh aku! Tolong! Jangan pisahkan aku dari anak ku, Bi!" teriaknya dengan suara bergetar.
"Aku tidak akan memberi celah padamu! Kau memang Ibu dari Sandy! Tapi kau lebih memilih meninggalkan kami hanya untuk Leon. Silahkan kau pergi!"
Arlan mengambil semua barang-barang Shinta, yang terletak di atas sofa kamarnya, dan melemparnya di lantai ruang keluarga dengan sangat cepat.
Tidak ada kelembutan, kali ini tidak ada kata-kata meminta Shinta agar tidak meninggalkannya. Arlan benar-benar telah murka atas sikap dan perkataan wanita itu.
Dengan tegas Arlan memanggil asisten rumah tangganya, "Bu! Bu!"
Asisten rumah tangganya bergegas menghampiri Arlan, kemudian menoleh kearah Shinta yang masih menangis keras dengan posisi berdiri, menunduk hormat kepada majikannya, "Ya Pak ..."
Dengan tegas dan mata berkaca-kaca Arlan hanya bisa berkata, "Bawa perempuan ini keluar dari apartemen ku! Biarkan dia pergi meninggalkan aku! Jika dia datang lagi, usir dia! Karena aku tidak ingin melihat wajahnya!"
Arlan membalikkan tubuhnya, kemudian membanting pintu kamar dengan sangat keras ...
__ADS_1
BRAAK ...!
Terdengar suara teriakan Shinta dari arah luar sambil menangis, "BIBI!!!!"