
Sementara Arlan masih memberikan pengarahan kepada para pengawal serta pelayannya di kediaman mewah itu, hanya untuk sekedar memastikan, bahwa Leon tidak pernah boleh masuk ke kediamannya lagi.
"Aku tidak ingin anak itu menginjakkan kakinya di kediaman ku ini! Jadi kalian harus terus mengawasinya, dan jangan pernah mereka melakukan apapun tanpa izin ku. Kalian mengerti!?"
Salah satu pelayan mansion mengangguk mengerti, kemudian mengajukan pertanyaan kembali, "Ba-ba-baik Pak! Hmm bagaimana dengan Bapak? Apakah Bapak, benar-benar akan menjual rumah ini?"
Arlan tertawa kecil, "Rumah ini merupakan rumah pertama ku! Aku tidak akan pernah melepaskan kediaman ku ini, karena tidak ada yang berani membayar harga nya!"
"Jadi Pak?"
Arlan menautkan kedua alisnya, "Jadi kalian tetap tenang, bekerjalah seperti biasa, dan katakan kepada mereka, bahwa rumah ini telah berganti kepemilikan. Aku permisi!"
Bergegas Arlan meninggalkan mansion megah itu, hanya untuk melihat Shinta, di apartemen miliknya. Kali ini, ia tidak akan meninggalkan Ibu dari Baby Sandy itu, sampai kapanpun. Baginya, Shinta merupakan wanita yang baik dan jujur. Walau sesungguhnya pernah mempermainkan perasaan sebagai seorang pria matang.
Mobil sport berwarna hitam metalik, terparkir di loby apartemen. Arlan memilih memberikan kunci mobil kepada petugas apartemen, untuk meletakkan mobil miliknya di basemen.
Arlan bertanya sekedar basa-basi pada petugas security, "Sudah pukul berapa ini? Kenapa suasana tampak sepi?"
"Sudah pukul 01.00 dini hari, Pak Arlan. Kami baru saja melakukan patroli, dan mengecek semua lantai," jelasnya.
Arlan mengangguk mengerti, ia memijat pelipisnya, kemudian berkata lagi, "Jika Leon memasuki gedung apartemen, jangan berikan akses untuk menginjakkan kaki di lantai apartemen ku! Tolong awasi Raline serta Ibu mertua ku! Kalian sangat mengetahui wajah mereka yang selalu simpang siur di sini!"
"Baik Pak!"
Arlan berlalu, meninggalkan loby, menuju kediamannya. Kali ini ia harus melakukan sesuatu, hingga membuat keluarga laknat itu hancur dan kehilangan segalanya.
"Pantas saja Mama selalu menyodorkan Raline pada ku! Ternyata dia ingin aku kembali terikat dengan keluarga yang tidak bermartabat itu! Sudah cukup mereka menyakiti aku, dan menutupi semua kebohongan ini selama bertahun-tahun. Sehingga aku telah di butakan dengan semua ini ..."
Tangan Arlan menekan password pintu utama yang telah ia ganti, membuka pintu itu dengan perlahan. Namun, ia di kejutkan dengan pemandangan indah, ketika melihat Shinta yang tengah menggenggam semangkuk salad tuna kesukaannya.
Bergegas Arlan mendekati wanita cantik yang masih berdiri diantara partisi ruang tamu ke ruang makan, "Sayang, kenapa kamu belum tidur? Apakah anak kita rewel?"
Shinta tersenyum lebar, ketika mata mereka saling bertemu, ia hanya menunduk hormat, sedikit salah tingkah ketika Arlan menghampirinya.
__ADS_1
"Enggak Bi. Hmm Shinta merasa lapar, dan Ibu sudah tidur. Makanya Shinta mengambil sendiri makanan di dapur, untuk membawa kedalam kamar. Untung stok kulkas banyak, dan Bibi selalu mempersiapkan semua kebutuhan seperti dulu ..."
Arlan mengecup lembut kepala Shinta, mengusap lembut punggung wanita itu, dan langsung membawa ke kamar mereka.
"Kamu mau apa lagi hmm? Susu juga masih ada. Semenjak kepergian kamu, aku tidak pernah melupakan semua kebutuhan kamu. Apapun itu, karena berharap kamu pasti kembali. Mungkin besok kita akan kembali ke Singapura, dan kembali menetap di sana. Bagaimana, kamu setuju?"
Shinta menganggukkan kepalanya tanda setuju, karena kali ini ia juga tidak ingin berpisah lagi dari Sandy juga Arlan.
"Tidak usah minum susu, Bi. Shinta sudah tidak menyusui lagi," ucapnya lembut.
Arlan tersenyum manis, ia membukakan pintu kamar, dan membiarkan wanita itu masuk lebih dulu, kemudian duduk di sofa untuk menikmati semangkuk salad yang masih berada dalam genggaman. Sambil melirik kearah Baby Sandy yang terlelap pulas dalam tidurnya.
"Makanlah, aku mau mandi. Setelah ini, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu!"
Lagi dan lagi Shinta hanya mengangguk patuh, melihat kearah Arlan yang telah membuka seluruh pakaiannya, membuat ia benar-benar terkesima melihat sosok gagah yang tampak tenang hingga saat ini.
Shinta melahap makan dini harinya dengan sangat tenang. Ia merasakan sesuatu yang berbeda saat ini. Kali ini, yang di butuhkan nya hanyalah satu perlindungan dari ancaman yang terjadi beberapa waktu lalu.
Kretek ...!
Tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang kebebasannya hari itu, kecuali Keluarga Liberti. Akan tetapi dua orang pria bertubuh besar dan berkulit hitam tengah memperhatika Shinta dari kejauhan.
Betapa terkejutnya ia, ketika merasakan dua pria bertubuh tegap itu mengikuti langkahnya. Dalam benak Shinta, hanya ingin terbebas dari semua orang yang berniat untuk menghabisi nyawanya. Akan tetapi ...
Srek ...!
Sabetan pisau kecil, melukai lengan halus Shinta, membuat ia menjerit ketika berada di tempat sepi.
"Tolong! Tolong!" teriaknya lantang karena merasa ketakutan, ketika melewati gang sempit yang tidak begitu jauh dari rutan tersebut.
Betapa terkejutnya Shinta ketika merasakan, tubuhnya langsung di gotong oleh pria tersebut, dan membawanya ke dalam rumah kosong.
Berkali-kali Shinta mencoba untuk melepaskan diri, dari siksaan kedua pria itu, ketika mereka akan melakukan hal tidak senonoh pada dirinya.
__ADS_1
BHUG ...!
BRAK ...!
Shinta berhasil menendang bagian inti pria itu, dan langsung meraih pisau kecil yang tergeletak tidak jauh dari dirinya, kemudian menusukkan ke perut pria bertubuh tegap itu tanpa perasaan bersalah. Kali ini ia harus melindungi dirinya sendiri, agar tidak mendapatkan pelecehan dari orang-orang yang berniat buruk padanya.
"Agh!" teriak pria tersebut, kemudian meraih tubuh Shinta, namun dapat di elakan oleh wanita itu.
Tiga tusukan pisau kecil tersebut, Shinta hujamkan ke tubuh dua pria tersebut, tanpa berpikir panjang, kemudian meninggalkan pria berkulit hitam itu secepat kilat.
Shinta merasakan bagian pahanya ada darah yang mengalir, akibat benturan dan goresan dari seng yang membuat tubuhnya terluka ketika akan menyelamatkan diri sendiri.
Dengan tubuh bergetar ketakutan, Shinta berhasil meninggalkan rumah tua itu, tanpa di ketahui oleh orang lain, karena suasana sepi bahkan sangat membingungkan.
Shinta terus berjuang, berjalan sendiri, tanpa meminta bantuan kepada siapapun. Sehingga akhirnya ia harus menanyakan pada seorang tukang parkir, untuk menanyakan dimana apartemen Mediterania.
"Pak, bisa bantu saya mencari dimana letak apartemen yang ada di daerah Jakarta Utara? Sa-sa-sa-saya kehilangan dompet. Tolong bantu saya, Pak," mohonnya, setelah dua hari berjalan tertatih dalam pencarian lokasi apartemen.
Tukang parkir bernama Sarno itu merasa iba melihat sosok Shinta, meminta pada salah satu driver ojek online untuk mengantarkan Shinta ke apartemen yang di maksud.
"Neng, naik sama teman saya saja. Nanti saya yang membayarnya. Karena lokasi apartemen yang Neng maksud itu sangat jauh, dan akan melelahkan jika berjalan kaki kesana!" jelasnya.
Tanpa basa-basi, Shinta mengangguk perlahan, menaiki motor matic milik pria yang masih menunggu orderan tersebut.
"Kamu anterin wanita ini. Kayaknya dia bukan orang sini, kasihan!" perintahnya pada pria itu.
Tanpa pikir panjang, pria itu membawa Shinta menuju apartemen, tanpa harus memikirkan imbalan atau bahkan upah dari Shinta.
Baginya, menolong orang tersesat lebih baik, daripada menunggu orderan yang belum ada kepastian.
"Terimakasih Pak! Atas bantuannya, semoga setelah ini kita bisa bertemu lagi!" Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir mungil Shinta, ketika tiba di taman apartemen mewah milik Arlan tersebut.
Tak ada ketakutan, tak ada kekhawatiran di raut wajah Shinta kala itu. Ia berharap, jika Arlan tidak ada, tapi mendapatkan perlindungan dari orang-orang pria mapan tersebut.
__ADS_1
"Semoga Bibi ada di sini. Aku tidak tahu harus kemana lagi ..."