
Di keheningan malam, Shinta masih tertawa manja di dekapan Arlan yang menyuapkan istrinya dengan makanan-makanan setengah matang. Perasaan bahagia sangat jelas terlihat dari iris mata berbinar-binar menatap Arlan, sambil sesekali mengecup lembut bibir pria mapan yang duduk di sisinya.
"Sayang kamu mau mencoba minum arak? Ini arak Jepang yang sangat enak, dan baik jika kita menikmatinya satu loki."
Shinta mengangguk setuju. Ia menerima pemberian Arlan, kemudian menyesapnya dengan satu nafas, membuat dirinya tersenyum lebar dihadapan suami tercinta.
Perlahan Arlan menyematkan anak rambut ditelinga Shinta, yang tampak sangat menyenangkan jika melihat wajahnya. "Kamu cantik, tapi sayang keras kepala dan ngangenin."
Shinta tampak tersipu-sipu, mendengar kejujuran Arlan yang sangat tulus. Dengan wajah sendu ia kembali membenamkan kepalanya didada bidang sang suami hanya untuk bermanja-manja.
Tangan kedua-nya saling menggenggam, jemari itu saling bermain, membuat Arlan tampak semakin gemas dan kembali mengecup punggung tangan yang tampak mungil.
"Bi ..."
"Hmm ..."
"Kita ke Eropa dulu ya. Aku pengen kita ke Paris, Italia dan Jerman. Atau ke Paris saja sudah cukup, karena selama kuliah di London aku tidak pernah menginjakkan kaki di negara romantis itu. Aku pengen kita bulan madu di sana, menikmati keindahan Paris, Bi."
Tanpa pikir panjang, Arlan langsung menganggukkan kepalanya, sambil mengecup kembali punggung tangan istrinya dengan penuh perasaan sayang, kemudian bertanya, "Ada lagi?"
Shinta menggeleng, dia hanya menikmati keindahan malam, melihat keindahan negara tempat ia ditinggalkan kedua orangtuanya dulu.
Seketika Shinta teringat akan masa indah bersama kedua orangtuanya yang bisa dikatakan sebagai keluarga terpandang. Tapi semua hanya sesaat, ketika kecelakaan itu tak mampu dielakkan.
Arlan masih menikmati hangatnya tubuh Shinta, sambil mendengarkan alunan musik indah terus bersenandung merdu menemani kencan mereka dengan syahdunya.
"What do you think, sayang?"
Shinta menolehkan wajahnya kearah Arlan, "I think about you, Bi. Semuanya aku pikirkan, untuk membuat Bibi bahagia bersama ku. Aku tidak ingin jauh lagi, karena sangat menyiksaku. Aku berjanji akan selalu setia dan menjaga kesehatan, Bibi. I love you, Bi."
__ADS_1
"I love you too, sayang ..."
Kembali Arlan mengecup lembut bibir Shinta, namun kali ini ia menahan tengkuk wanitanya, kembali memulai aksi liar itu, mellumat bibir manis yang sangat berarti bagi hidupnya.
Tanpa menunggu lama, Shinta juga membalas ciuman Arlan. Dari lembut hingga bertukar saliva dengan deccapan semakin terdengar merdu diruangan tertutup itu.
Kembali Arlan melepaskan ciumannya, hanya untuk memperbaiki posisi duduknya, yang membuat tersiksa bagian bawah sana.
Shinta yang melihat arah tangan Arlan memperbaiki posisi duduk dan senjata pamungkasnya, bertanya dengan senyuman geli, "Bibi kenapa?"
Arlan menunjuk kearah bawah, "Ini ... enggak bisa nahan kalau sudah ciuman sama kamu. Biasanya enggak begini. Tapi semenjak kamu kembali, dia seperti sulit untuk dijinakkan, sayang."
Mendengar celotehan Arlan, Shinta tertawa terbahak-bahak, mengusap lembut milik sang suami dari balik penghalangnya.
"Ahh ... ini yang aku enggak bisa jauh dari kamu, sayang. Aku suka dengan permainan kamu. Punya kamu masih sakit?"
Shinta mengangguk perlahan, kemudian berkata lagi, "Ta-ta-tapi aku baru dapat periode, Bi. Baru dapat tadi pas aku buang air kecil. Bagaimana?"
"Kita enggak jadi ke Eropa. Tunggu kamu selesai periode dulu. Aku tidak mau liburan kita terganggu dengan masalah wanita, sayang!" Rengeknya menggigit kuat bahu Shinta.
Shinta berteriak keras, "Agh bibi! Sakit! Aduh, kamu tega banget nyiksa aku," usapnya pada bahu yang terasa seperti di terkam kucing anggora.
Wajah Arlan masih cemberut, ia tak ingin menoleh kearah Shinta. Sejujurnya ia masih sangat merindukan kasih sayang wanita manja itu, ketika berada diatasnya ataupun dengan bermacam-macam gaya yang tidak pernah ditolak oleh wanitanya.
Sementara Shinta masih terus meringis menahan rasa sakit, sambil menepuk-nepuk dada Arlan, "Bibi tega. Bibi enggak sayang sama aku. Bibi kayak kucing anggora peliharaan Sandy. Yang suka menggigit," sungutnya.
Mendengar celotehan sang istri, Arlan kembali mengusap lembut bahu Shinta, kemudian mengecup bahu yang ia gigit barusan, sambil berkata lembut, "Maafkan aku, sayang. Aku kecewa karena kamu belum juga hamil. Kenapa kita tidak melakukannya seperti pertama dulu, hmm? Sepertinya kita harus benar-benar berlibur, dan menghabiskan waktu berwisata dan melakukannya di alam terbuka."
Shinta mengangguk meng'iya'kan, "Kapan kita berangkat? Besok atau lusa?"
__ADS_1
"Besok saja. Dulu aku berjanji akan membawamu ke Italia saat kamu masih menjadi menantu ku. Jadi kali ini aku ingin membawa mu ke sana, kita menikmati sebotol sampanye, hingga pagi. Kita akan berkeliling dunia, tanpa ada yang menggangu pikiran dan kenyamanan kita, bagaimana?"
Lagi-lagi Shinta menganggukkan kepalanya. Ia sangat senang mendapatkannya hadiah luar biasa dari Arlan, setelah perpisahan mereka selama lima bulan. Ternyata semua kejadian beberapa waktu lalu menjadi bukti kekuatan cinta untuk pernikahan mereka berdua.
.
Kediaman yang tampak terang dan tenang itu, sangat dirindukan oleh Arlan. Apalagi jika melihat putra kesayangan menyambut kepulangan mereka dengan pekikan yang lantang selayaknya anak usia lima tahun.
"Papa!" teriak Sandy ketika melihat kedua orangtuaku kembali membawa banyak makanan juga hadiah-hadiah yang tak terhitung jumlahnya.
"Hup! I love you son," kecup Arlan pada kepala Sandy, ketika menyambut tubuh mungil yang berhambur memeluk dan membalas ciuman Arlan.
Sandy meletakkan kepalanya di pundak Arlan, berkata dengan nada bergetar, "Jangan pergi lagi. Aku sangat merindukan mu. Setiap malam Mama menangis karena Papa tidak pernah kembali. Kami benar-benar merindukan mu, Pa!"
Susah payah Arlan mengendalikan perasaannya, ia tak mampu menahan rasa rindu kepada Sandy. Walau sesungguhnya anak itu masih datang ke apartemen beberapa kali, tapi hanya sesaat karena kesibukan Arlan.
"Kita akan terus bersama sayang. Kamu jagoan Papa. Kita akan berlibur bersama keliling dunia. Kita menikmati keindahan langit Eropa, Hawaii dan Jepang. Apa kamu menyukainya?"
Sandy menganggukkan kepalanya, "Aku ingin kita ke Disneyland Paris. Aku juga ingin melihat opera di sana. Aku ingin belanja barang-barang mewah dan melihat tokoh Doraemon di Jepang. Dan Papa harus membelikan semuanya untuk ku!"
Mendengar price list yang diutarakan Sandy, dengan senang hati Arlan menyanggupi semua permintaan putra kesayangannya, "Apapun yang kamu inginkan, akan Papa penuhi. Asalkan, kamu tetap sekolah di tempat yang menjadi pilihan Mama."
Sandy menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan tidak setuju, "No! Aku mau homeschooling. Aku tidak mau sekolah di tempat itu. Jika aku homeschooling maka Papa selalu ada untuk ku. Kalau aku sekolah, Papa pergi enggak pakai pulang."
Hati Arlan semakin terenyuh, "Aku berjanji akan selalu mengantarkan mu ke sekolah. Sekarang tugasmu, selalu berdoa agar Papa memberikan mu adik."
Tentu Sandy bersorak kegirangan, "Yes. Aku akan menjadi Kakak. Karena aku lelah di temani Lala terus. Jika aku punya adik, pasti aku bisa berantem sama dia!"
Arlan dan Shinta saling berpandangan, ikut tertawa terbahak-bahak karena mendengar celotehan sang putra.
__ADS_1
"I love you, Pa ..." ucapnya memeluk erat tubuh Arlan.
"I love you too, boy ..."