
Di apartemen milik Arlan, Raline benar-benar tidak mampu menahan rasa amarahnya, segera ia meraih tubuh Shinta yang tertutup kain tipis, untuk segera menyiksa wanita yang tidak tahu diri menurutnya.
"Brengsek kau wanita jallang, berani sekali menggoda Arlan, bahkan dengan tega kau merebut kebahagiaan ku! Apa salahku pada mu hah?!" Raline berusaha meraih kain dari tubuh Shinta, namun ditahan oleh asisten rumah tangga yang menyaksikan kejadian tersebut.
Wanita paruh baya bernama Surti itu, menarik paksa tangan Raline, agar tidak menyakiti wanita majikannya, "Kenapa kamu bisa sampai kesini? Bukankah Pak Arlan tidak mengizinkan Anda masuk Nona!?"
Raline semakin tersulut emosi, karena mendengar pertanyaan itu dari bibir Surti yang nyata membela Shinta. Tangannya berhasil meraih lengan Shinta, seketika ...
"Kau ...?!"
PLAAK ...!
"Tega kamu menggoda Arlan, sementara kau masih istri sah dari Leon! Apa maksud mu pada Leon hah, kenapa kau menyakiti keluarga ku!?" teriak Raline di kediaman Arlan semakin lantang.
Shinta tidak mengindahkan semua makian yang keluar dari bibir Raline, baginya dia sangat mencintai Arlan, ditambah mereka telah memiliki anak, membuat mereka tidak ingin berpisah.
Surti menarik tangan Raline, menyeret wanita itu agar segera meninggalkan apartemen mereka ...
"Hei ... Lepaskan tangan ku!" Raline menghentikan langkahnya, kembali mengejar Shinta, untuk memberi pelajaran pada wanita itu.
Surti mengejar Raline, mendorong tubuh wanita itu dengan sangat mudah, membuat ia terjerembab di lantai ruang tamu ...
BHUUG ...!
"Jangan sakiti Ibu Shinta, dia istri Pak Arlan!" hardik Surti lantang.
Raline berteriak histeris, tidak mampu menahan rasa perih teramat sangat, seperti bumi akan runtuh, mendengar penuturan asisten rumah tangga Arlan.
Surti berhasil membuat Raline keluar dari apartemen, kemudian menoleh kearah Shinta yang masih berdiri sambil menangis tersedu-sedu.
"Kenapa kamu membuka pintu wanita itu Bu, dia itu wanita laknat?" Surti mendengus kesal, karena tidak mampu menahan amarahnya.
Shinta merebahkan tubuhnya di sofa, menatap lekat wajah Surti yang langsung merangkulnya.
__ADS_1
"Saya akan bertemu selalu menjaga kamu, sesuai perintah Pak Arlan," tangis Shinta pecah, saat mengenang semua ucapan Arlan beberapa jam lalu, dia sangat mencintai Shinta.
Surti menarik nafas panjang, "Dengar Shinta, Pak Arlan jatuh cinta padamu. Dia tidak ingin kamu mengecewakannya. Ini demi Baby Sandy, saya mohon jangan kecewakan Bapak."
Shinta hanya bisa tersenyum tipis, mengangguk membenarkan perkataan Surti ...
.
Sementara di kediaman Arlan, Leon justru tengah berdebat panjang dengan pria mapan tersebut ...
"Dengar Pi, Leon tidak akan pernah menceraikan Shinta! Dia istri ku!" tegasnya.
"Pengecut kau, Leon. Aku memiliki anak dari Shinta, dan aku tidak akan pernah melepaskannya, karena dia Ibu dan anak ku! Kamu tahu, Shinta telah tinggal bersama ku selama beberapa bulan, hingga kami memiliki anak. Terus kamu masih menganggap dia sebagai istri? Come on Leon, masih banyak wanita di luar sana yang menyukai mu!"
Leon benar-benar meluapkan segala emosinya, rasa kecewa terhadap Arlan, hatinya kini bertambah hancur ketika membayangkan kemesraan mereka beberapa waktu lalu.
"Aku kecewa sama Papi, kasih aku waktu, aku akan bertemu dengan Shinta!" pinta Leon tegas pada Arlan.
Arlan tersenyum tipis, menatap iris mata Leon dengan penuh kemarahan, "Dengar Leon, aku tidak akan pernah membiarkan mu, bertemu dengan Shinta hanya berdua! Jangan pernah kamu berharap aku akan memberikan Shinta pada mu, kecuali Shinta yang mengatakan nya!"
"Apa maksud, Papi? Shinta istri ku, bagaimana bisa Papi akan menikah dengan nya! Apa kata keluarga besar kita? Apa Papi sudah gila karena hasrat Papi yang tidak terbendung hmm?" Leon melemparkan semua berkas yang ada dihadapannya ...
PRAAK ...!
Arlan berhasil mengelak, dia berusaha menenangkan putranya. Pria berwajah tampan itu paling tidak sanggup melihat Leon mengamuk seperti saat ini.
"Papi mertua brengsek! Selama ini aku diam, tapi Papi jahat sama aku!Apa salah ku?? Bagaimana jika Shinta menyakiti kita, keluarga kita!" teriak Leon lantang.
"Dengarkan aku, Leon," Arlan membentak putranya.
"Apa?!" kedua bola mata Leon membulat.
Arlan menarik nafas panjang, "Aku menyayangi mu, tapi aku jatuh cinta pada istri mu, Nak!"
__ADS_1
Leon terdiam, wajahnya memerah, darahnya seketika mendidih, mendengar pengakuan dari Arlan. Jika ditanyakan hati terdalam seorang Leon, dia hanyalah korban. Korban dari pengkhianatan Seno dan Yasmin.
"Jawab aku, Pi. Apa salah ku pada mu?" Leon terduduk lemas di kursi taman, semakin frustasi, membayangkan kehancuran rumah tangganya semakin jelas di depan mata.
"Papi jahat! Yang bersalah itu bukan aku, tapi Mami dan Paman Seno! Kenapa aku yang Papi siksa!!" isak tangis Leon semakin keras.
Arlan membujuk Leon, duduk di samping putranya merangkul tubuh gagah putra kesayangannya.
"Aku salah Leon ... Aku yang salah. Kamu tahu, Shinta sangat membutuhkan kebahagiaan batin, dia bahkan tidak segan-segan meminta pada ku, Leon. Aku pria normal, pasti tergoda dengan semua yang ia tawarkan!"
Leon menggeleng, menutup wajahnya, "Pergilah Papi, izinkan aku bertemu dengannya terakhir kali!" suaranya terdengar serak.
Arlan meredakan emosi Leon, dia memeluk erat tubuh putranya yang tampak tenang menghadapi semua ujian ini, "Maafkan aku. Aku akan kembali ke Singapura, dan menikah dengan Shinta, setelah kamu menceraikan nya. Aku sudah tidak peduli dengan semua tanggapan keluarga di luar sana. Aku siap apapun resiko nya."
Leon menelan salivanya kasar, mengusap wajahnya yang penuh dengan deraian air mata, kembali menutup wajah dengan tangan kekarnya.
Entah mengapa, Leon sangat yakin Shinta tidak akan pernah meninggalkannya. Apapun alasannya, wanita itu pernah berjanji akan selalu menunggunya hingga sembuh.
"Shinta, saat ini aku sudah sembuh ... Aku tidak ingin kita berpisah hanya karena Papi. Aku mencintaimu ... Aku rela menjadi apapun, asal kamu mau hidup bersama ku. Aku yakin, kamu tidak serius menjalin hubungan dengan pria yang ada di hadapan ku ini ..." geramnya dengan mata berkaca-kaca.
.
Benar saja, Shinta yang mendapatkan kiriman foto dari Mia secretaris Arlan tentang kondisi Leon saat ini, merubah haluannya.
[Kamu serius ini, Leon. Bukankah dulu dia sangat kurus, bahkan tidak terlihat setampan ini ...]
[Benar, Dokter Iman yang mengirim pada ku! Aku pikir dia mau menjodohkan pria itu pada ku, ternyata dokter mengatakan itu kondisi Leon saat ini. Kamu kaget, aku juga kaget Shinta ...]
Mereka tertawa kecil, saling bercerita karena memang semakin akrab, semenjak Arlan mendapat masalah dengan Seno.
[Hmm ... Ya sudah, aku mau bersiap-siap dulu. Jangan lupa untuk kirim terus informasi tentang Leon, yah. Bagaimanapun ... Aku masih resmi menjadi Nyonya Leon ...]
[Oke ... Bye]
__ADS_1
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya, kembali melakukan aktivitas kembali seperti biasa.
"Oogh Tuhan, apa yang harus aku lakukan ... Apakah aku harus mengalah demi Raline dan Arlan, agar dia tidak menggangu ku lagi ..."