Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Selamat beristirahat, Shinta ...


__ADS_3

Jika mungkin dikatakan bahwa hidup itu adalah pilihan, di sesuaikan dengan perbuatan maka karma itulah yang akan kita jalani. Shinta kali ini harus mendapatkan hukuman yang setimpal dari perbuatannya selama ini, karena telah tega menyakiti perasaan seorang suami yang memiliki riwayat kesehatan kurang baik kala itu, sehingga Leon menjadi korban perasaan dari kelakuan gilanya, bersama Arlan.


"LEON!!! Kenapa kamu tega mengkhianati pernikahan kita!!" Shinta berteriak sekeras-kerasnya, dia merasa frustasi, dan tidak menyangka bahwa Leon tega menyakiti perasaannya seperti ini.


Leon tersenyum sumringah, dia bahkan tertawa bahagia karena dapat melakukan hal serupa kepada wanita yang selama ini merawatnya selayaknya seorang istri.


"Kenapa kau memarahi aku! Bukankah kita impas? Aku melakukan hal ini, karena kau lebih dulu yang melakukannya! Sehingga kau melupakan bagaimana perasaan ku, Shinta!" tawanya menyeringai bak pembunuh berdarah dingin.


Shinta menggeleng, "Aku seperti itu, karena aku memang merindukan belaian pria kala itu! Ta-ta-tapi apa! Aku di campakkan oleh Papi mu, dan saat ini kau mencampakkan aku! Jika aku tahu kau akan melakukan hal ini pada ku, aku pasti akan membunuh mu sejak dulu! Sejak awal kita menikah, Leon!" hardiknya, tampa perasaan malu dihadapan Cua yang tak bisa berbuat apa-apa.


Cua yang mendengar pertikaian kedua insan suami istri tersebut, memilih untuk beringsut perlahan, agar bisa memasuki kamar mandi, karena tidak ingin melihat wajah monster yang ada di hadapannya.


Takut, hanya itu yang ada dalam benak Cua, karena dia bukanlah tipe wanita yang suka dengan keributan ataupun kekerasan.


Saat Shinta melihat, Cua berhasil masuk ke kamar mandi, dengan cepat ia mengejar gadis muda itu, namun kembali tangan kekar Leon, menarik lengan wanita yang telah ia ceraikan tersebut.


"Jangan pernah kau sakiti calon istri ku, karena dia lebih berharga dari mu! Jika kau meminta aku untuk tidak menceraikan mu, kau salah besar Shinta! Karena sama sekali aku tidak pernah ingin melihat wajah mu lagi! Lebih baik, kau pergi dari kediaman ku! Sebelum aku yang menyeret mu, untuk keluar dari kamar ini! KELUAR!!" bentak Leon dengan nada keras.


Benci, marah, itulah yang dirasakan Leon. Bahkan sangat memuakkan melihat Shinta kali ini. Kebodohan ketidaksetiaan wanita dewasa itu, membuat pikiran picik Leon bekerja dengan sangat baik.


Kedua-nya saling menantang, bahkan tatapan mata sinis yang mereka isyaratkan, membuat para pelayan sedikit khawatir dengan perseteruan Leon dan Shinta.


Leon benar-benar meluapkan rasa kecewanya terhadap Shinta, gadis yang selama ini ia anggap akan sabar, namun tidak memiliki rasa empati padanya ketika sakit mendera.

__ADS_1


Shinta masih terduduk dilantai kamar, karena tidak terima akan perlakuan Leon kepadanya. Dia menangis sejadi-jadinya, bahkan berteriak menyebut nama Leon ...


"Please Leon! Jangan tinggalkan aku! Aku akan melakukan apapun untuk mu, tapi jangan pernah tinggalkan aku!" teriaknya semakin keras.


Tidak menunggu lama, Leon berhasil mengenakan pakaiannya dihadapan Shinta, tanpa memikirkan bagaimana perasaan wanita itu.


Shinta menatap nanar kearah Leon. Ingin sekali rasanya dia memeluk pria muda yang ada di hadapannya. Tapi apalah daya, Leon lebih memilih untuk menyusul gadis muda itu, agar tidak terlalu lama berada di dalam kamar mandi.


Benar saja, Leon melihat wajah ketakutan Cua, tengah terduduk di closed kamar mandi, membuat pria muda itu langsung berhamburan memeluk gadis belia yang merupakan cinta pertamanya semasa sekolah.


"A-a-a-aku takut, Le! Aku bukan pelakor, karena aku tidak tahu tentang status mu!" isaknya menangis dalam pelukan Leon.


Leon yang merasa bersalah pada Cua, hanya mengusap lembut punggung wanita itu, mengecup lembut puncak kepalanya, agar memberikan kenyamanan serta ketenangan.


Darahnya semakin mendidih saat berjalan menuju kamar mandi melihat dua insan muda tersebut, tengah berpelukan mesra, bahkan saling menguatkan.


"Leon!!!"


Argh ...!


"Augh, Shinta! Are you crazy!!"


Satu tusukan gunting tajam tertancap di bahu Leon, karena hujaman Shinta yang tidak menerima perbuatan suaminya.

__ADS_1


Kejam, kalut, ataukah cemburu. Ya, Shinta tidak mampu mengendalikan emosinya, atas kehilangan dua pria dalam waktu yang bersamaan. Ia telah kehilangan Arlan, kini harus kehilangan Leon. Hanya dalam kurun waktu dua satu bulan.


Air mata penuh dendam mengalir deras di wajah Shinta, sehingga membuat dirinya benar-benar menjadi tidak dapat berkata-kata.


Lebih dari satu bulan Shinta memikirkan bagaimana nasib serta perasaannya. Di tambah dengan tidak ada akses untuk dapat berkomunikasi langsung dengan putra kesayangannya, Sandy. Sehingga membuat dirinya tidak dapat untuk berpikir jernih. 


Leon melepaskan gunting yang tertancap di bahu kekarnya, membuat Cua semakin ketakutan, dan merasa khawatir atas luka yang di torehkan oleh Shinta ...


Dengan sangat berani, Cua membentak keras Shinta yang berdiri di depan pintu kamar mandi, setelah di pegang oleh dua pengawal keluarga Arlan, karena tidak kuasa menahan rasa sakit hatinya terhadap wanita yang tidak memiliki perasaan malu tersebut.


"Apa maksud mu, menyakiti kekasih ku wanita jallang? Bukankah KAU yang mengkhianati Leon! Tapi mengapa justru kau yang menyakiti kekasih ku! Aku yakin, Daddy ku akan memasukkan mu ke dalam sel tahanan, karena telah berani melukai menantunya! Apa kau tidak mengetahui bahwa aku akan menjadi Nyonya Leon, jallang!" ucapnya meledak-ledak.


Entah mengapa, Shinta terdiam. Jantungnya semakin bergemuruh, bahkan ingin sekali merobek mulut gadis belia yang berani mengatakan dirinya sebagai seorang jallang.


"Apa! Aku jallang? Bukankah kau yang jallang Nona!? Karena kau telah tidur dengan pria yang masih berstatus sebagai suami ku! Apa kau tidak menyadari itu!?"


Leon membalikkan tubuhnya, ia menantang nanar kedua bola mata Shinta, karena tidak menyangka, bahwa wanita yang selama ini ia anggap sebagai malaikat, memiliki sifat serigala berbulu domba yang tidak di ketahui oleh banyak orang.


Dengan cepat Leon, berkata pada dua pengawal, "Bawa wanita ini ke kantor polisi. Aku yakin Papi Arlan telah mencampakkan dia, karena melakukan kesalahan besar. Maaf Shinta, aku pikir kau merupakan wanita baik, ternyata aku salah. Kau hanya wanita sampah, yang tidak tahu diri. Pantas saja Tante Raline sangat membenci mu," tegasnya.


Mendengar penuturan Leon, Shinta semakin memberontak, berusaha melepaskan diri, karena ada satu ketakutan untuk mendekam di sel tahanan. Walau sesungguhnya yang ia terima masih bersisa, namun kesalahan fatal yang ia lakukan, justru akan berdampak buruk pada kehidupannya.


Dengan berbagai macam cara, Shinta memohon kepada Leon. Namun apalah daya, keputusan pria muda itu telah bulat untuk memberikan satu pelajaran pada sang mantan istri.

__ADS_1


"Selamat beristirahat, Shinta! Karena tuntutan ku akan semakin panjang untuk mu!" tawanya menyeringai kecil, ketika Shinta di bawa ke kantor polisi, untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya hari itu kepada Leon.


__ADS_2