Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Laki-laki tua


__ADS_3

Cukup lama mereka berbincang tentang kejadian semalam. Tentu saja Arlan menutup semua perlakuannya dengan satu kebohongan ketika mendengar penuturan dari Stefan, bahwa ia telah menikahi Raline tiga hari yang lalu menjadi istri keempat.


Jujur pernyataan Stefan, membuat lamunan Arlan buyar seketika, "What? Istri keempat? Apakah Anda masih kuat untuk melayani istri-istri mu yang masih terbilang muda, Tuan?"


Mendengar pertanyaan Arlan, kedua pria yang ada di ruang kerja pria mapan itu turut tertawa.


Membuat Stefan mendengus dingin, sambil berkata dengan santainya, "Jangan menyepelekan tenagaku! Usiaku boleh tua, tentang tenaga aku masih mampu memberikan yang terbaik untuk mereka. Lagian aku menikah dengan Raline, karena dia wanita yang sangat cerdas. Bahkan aku sangat mencintai dia. Dan aku sudah mendengar semua cerita tentang hubungan keluarga kalian yang tidak harmonis. Aku juga sedang melakukan perawatan pada Nyonya Liberti, karena dia mengalami stroke ketika berada dipenjara dan dirawat di rumah sakit internasional milik mu dulu di Jakarta. Aku harap, kau mencabut tuntutan mu pada istri ku dan aku akan membayar semua kerugian mu!"


Tampak senyuman Arlan menyeringai kecil menghiasi sudut bibirnya, lagi-lagi ia hanya bisa menahan malu atas perbuatannya kepada Raline, karena tidak mengetahui tentang pernikahan wanita itu.


Dapat dibayangkan, jika Raline juga bisa menuntut Arlan karena telah berani mendekati wanita yang telah bersuami itu lebih dulu, dan mendapatkan perlakuan kejam dari Shinta. Bisa-bisa Arlan dicap jelek sebagai perusak rumah tangga orang lain, serta izin tinggalnya di Singapura dapat dicabut oleh pemerintah setempat karena mendapatkan tuntutan yang membuat malu nama baiknya.


Dengan cepat Arlan memperbaiki posisi duduknya, menatap kearah tas koper yang berisikan uang dolar Amerika. Tentu itu bukan nilai yang sedikit, karena melihat jumlah yang sangat banyak.


Kembali tangan Arlan meraih tas koper yang diserahkan oleh Stefan padanya, kemudian menutup agar tidak menyilaukan penglihatannya sebagai manusia biasa, dan mengarahkan tas itu kepada Stefan.


"Apa Anda sedang menghina ku, Pak Tua? Aku tidak membutuhkan uang mu. Bawa saja, dan satu jam lagi aku pastikan istri mu akan keluar dari penjara. Tapi dengan satu syarat, jangan pernah mengganggu kehidupan ku lagi. Anggap saja kita impas! Istri ku melakukan hal yang benar sebagai seorang wanita biasa!"


Brian tersenyum sumringah, karena keputusan damai yang Arlan ucapkan. Menyusul dengan Stefan dapat mengusap lembut dadanya, karena mendengar pernyataan pria gagah yang duduk dengan angkuh dihadapannya.


Stefan mengangguk setuju, "Kau memang pria baik Arlan. Walaupun aku masih menaruh curiga padamu. Tapi setidaknya aku bisa bernafas lega saat ini, karena kau tidak menuntut Raline."


Arlan mengulum senyuman manisnya, "Lebih banyak yang bisa kita lakukan daripada harus mengurus hal-hal buruk seperti ini. Aku juga tidak mau, kau menghabiskan waktu hanya untuk sekedar menunggu ku yang tengah menikmati indahnya memiliki istri muda. Usiaku dan kamu hanya berjarak hitungan belasan. Tapi bedanya aku tidak menyukai banyak wanita. Cukup satu saja, dan itulah istri muda ku Shinta yang masih berusia 27 tahun, setelah kematian Yasmin. Aku rasa Brian sudah mengenalnya. Begitu juga dengan Cua menantu mu. Kita masih tetap berbisnis, dan urusan perempuan kita tepis. Aku tidak banyak waktu, nanti Abigail yang akan mengurus semua legalitas pembebasan Raline. Terimakasih sudah mau menunggu ku!"

__ADS_1


Bergegas Arlan berdiri, kemudian menyalami Stefan dan Brian secara bergantian, dan berbicara sebentar dengan Abigail untuk pembebasan Raline sesuai janjinya pada pria paruh baya itu.


Abigail menepis semua permintaan Arlan, sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh dua pria yang masih berbicara pelan itu, "Nyonya Lily juga menuntut Raline, Tuan!"


Dengan nada tegas Arlan meremas lengan Abigail, "Lakukan saja perintah ku! Ini semua demi nama baik ku!"


Abigail menunduk hormat, menjawab dengan nada suara yang terbata, "Ba-ba-baik Tuan. Akan saya lakukan!"


Arlan melangkah menuju pintu ruang kerjanya, kemudian membuka dengan lebar, hanya untuk bergegas menemui istri tercinta yang tengah melakukan perawatan sendiri.


Dengan wajah penuh senyuman, Arlan membuka pintu sedikit, hanya untuk melongokkan wajahnya mencari keberadaan Shinta yang ternyata tengah menyantap makan sorenya sendiri, dengan menu makanan yang beraroma menggugah selera.


"Hmm ... rupanya sayang ku ini tidak sabar menunggu!" Kecupan kecil Arlan berikan ke kepala Shinta yang mendongak kearahnya.


"Terimakasih sayang. Aku sangat mencintaimu," lagi-lagi satu kecupan mendarat di pipi mulus Shinta.


Shinta membuka hidangan yang ia minta pada pelayan, dan menyerahkan ketangan Arlan, "Makanlah Bi. Kamu pasti lapar, karena seharian memakan aku, tapi tidak kenyang-kenyang," godanya pada puncak hidung Arlan yang sangat mancung juga menawan.


Dengan senang hati, Arlan menerima piring yang berisikan steak yang ditaburi kacang almond itu, kemudian melahapnya penuh semangat.


Entahlah, Arlan terlihat lebih muda dan bergairah setelah mendapatkan perhatian Shinta kembali dalam pelukannya. Perasaan bahagianya tampak terlihat jelas, walau menyimpan rahasia dalam hati yang penuh perasaan bersalah telah mengkhianati cintanya hanya dalam waktu satu hari.


"Maafkan aku, Shinta. Aku tidak pernah ingin mengkhianati pernikahan kita. Tapi aku hanya manusia biasa, yang tidak luput dari godaan. Aku akan berusaha menjadi suami terbaik mu. Karena kamu wanita baik yang mampu menjaga kehormatan mu selama jauh dari ku ..."

__ADS_1


.


Setelah menghabiskan tiga piring makanan. Arlan membawa Shinta untuk menghabiskan waktu di satu pusat perbelanjaan, membeli beberapa kebutuhan pakaian Sandy dan Shinta, tanpa memikirkan Raline lagi. Baginya, kejadian itu hanya sesuatu kekhilafan yang tidak perlu untuk dikenang.


Arlan membawa Shinta ke sebuah toko perhiasan mewah, membelikannya satu set perhiasan yang bertahtakan berlian mahal dengan kualitas nomor satu, sebagai tanda permintaan maaf yang hanya diutarakan pria itu didalam hati.


Banyak pasang mata yang berdecak kagum pada keromantisan Arlan, karena menjadikan Shinta seperti ratu yang sangat diharapkan banyak gadis di luar sana.


Tentu saja, diusia yang masih muda Shinta sudah berhasil menjadi Nyonya Arlan, dan benar-benar telah berhasil merebut hati pria paruh baya itu untuk menjadi wanita satu-satunya sebagai pendamping hidup hingga menutup mata.


"Bi ... ini mahal sekali. Aku malu menggunakannya?" Shinta menyentuh kalung yang disematkan Arlan dileher mulus itu, walau masih ada tanda merah yang menghiasi sebagai hasil karya kepemilikan dari sang suami.


Arlan menatap Shinta dari pantulan cermin, yang tampak mesra karena tak melepaskan tangannya dari tubuh wanita itu, "Kamu sangat cantik. Ini belum seberapa dibandingkan pelayanan kamu dalam satu malam penuh, sayang. Aku benar-benar tidak ingin jauh dari mu, Shinta. Mungkin sore ini kita akan berlibur ke Hawaii dan ke Thailand hanya untuk menikmati bulan madu. Aku ingin kamu segera memberikan Sandy adik. Karena usiaku sudah bertambah tua, dan aku menginginkan keturunan lagi dari mu."


Wajah Shinta merona merah, pipinya terasa sangat panas, hanya bisa mengusap lembut lengan Arlan yang masih melingkar diperut rampingnya, sambil berkata lembut, "Bukankah kita sudah berusaha sejak tadi malam?"


"Aku mau melakukannya setiap hari, setiap jam. Sampai kamu benar-benar hamil, sayang."


Shinta semakin tersipu malu, menundukkan pandangannya hanya untuk sekedar memastikan, bahwa miliknya masih bisa mengenakan underwear. "Tapi jangan sekarang Bibi. Masih perih, dan tadi aku lihat dari kaca masih memerah dan seperti lecet gitu," sungutnya dengan nada lembut.


Tawa Arlan terdengar sangat lucu, sambil berbisik, "Tapi tadi kamu bilang masih menginginkan aku. Aku akan melakukannya dengan lembut."


"Bibi, kamu kok jadi genit gini!" rengeknya tak kuasa menahan malu.

__ADS_1


"Sama kamu harus genit, biar betah sama laki-laki tua kayak aku!" Kecupnya kembali mendarat di leher itu, tanpa menghiraukan para pelayan yang menjuluki mereka pasangan suami istri termesum tapi sangat romantis.


__ADS_2