
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, akhirnya yang dinanti-nanti Arlan sebagai pria normal yang terhianati selama pernikahannya dengan almarhum Yasmin, kembali meraih kesuksesan, dengan berkembang pesatnya bisnis mereka berdua di Singapura yang bergerak di bidang kesehatan, dan merambah ke restoran.
Kini Shinta telah melahirkan bayi pertama yang berjenis kelamin laki-laki, secara normal, tentu dengan mengikuti berbagai macam kegiatan proses persalinan di dalam air, sebagai pilihan mereka berdua ...
Arlan sebagai pria dewasa ikut menemani Shinta, saat proses persalinannya yang tidak memakan waktu yang lama. Wajah tampan pria mapan tersebut, tampak bahagia ketika menyambut kelahiran anak pertama mereka.
Cinta dan sayang yang utuh Arlan berikan pada Shinta membuat wanita itu merasa, kini dirinyalah yang menjadi Nyonya Arlan paling sempurna di dunia.
"Terimakasih sayang, terimakasih kamu telah melahirkan anak ku. Dia sangat sempurna dan tampan seperti aku. Aku mencintaimu Shinta ..."
Shinta yang masih terengah-engah setelah menjalani proses persalinan, hanya bisa menerima kecupan-kecupan kecil dari bibir Arlan yang benar-benar menjaganya sebagai wanita bahagia.
Senyuman bahagia, terpancar dari raut wajah kedua-nya, saat dokter memberikan ucapan selamat pada Arlan.
"Congratulations Mr. Arlan, your child is healthy. How, are you ready for a good name for your baby?" goda dokter pada Arlan.
(Selamat Pak Arlan, anak Anda sehat. Bagaimana, sudah siap nama yang baik untuk buah hati kalian)
Arlan mengangguk, sambil menjawab, "Sandy, Sandy Alendra. As a sign that this child will be the successor of my family!"
(Sandy, Sandy Alendra. Sebagai tanda bahwa anak ini akan menjadi penerus keluarga ku)
Dokter tersenyum sumringah, mengusap lembut bahu Arlan yang tengah berbahagia tersebut.
__ADS_1
Kembali Arlan duduk mendekati Shinta, bertanya dengan jemari kembali menggenggam, "Bagaimana sayang? Apa yang haru aku lakukan untuk kamu?"
Shinta menggelengkan kepalanya, seketika ia terkenang akan Leon, "Pi ... Sudah lebih dari delapan bulan kita disini, tapi sama sekali tidak pernah ada kabar dari Leon. Bagaimanapun Shinta masih istri Leon, Pi ..." kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Arlan langsung mengusap lembut kepala wanita itu dengan penuh kelembutan, "Ssshht ... Kamu milik ku, Shinta ... Leon berada di Cina dengan Dokter Iman. Dan pengobatan mereka berhasil. Leon dalam pemulihan, dia mendapatkan donor ginjal juga hati. Aku sudah mendapatkan informasi semua tentang dia, jadi mulai saat ini kamu harus fokus pada kesehatanmu dan anak kita."
Shinta mengangguk perlahan, dia mendekatkan wajahnya, agar terus di usap oleh Arlan dengan penuh kasih sayang. Hanya sentuhan pria itu yang di butuhkan Shinta saat ini, hingga ia terlelap dalam elusan tangan Arlan.
Pagi menyapa, Shinta telah terjaga dari tidurnya, dan sudah dapat bergerak pasca melahirkan. Membuat pria mapan tersebut tampak semakin bahagia, melihat kesehatan wanitanya semakin membaik.
"Kita akan pulang ke apartemen hari ini, sayang ..." kecup Arlan pada puncak kepala Shinta.
Shinta tersenyum lebar mendengar penuturan Arlan yang tengah sibuk dengan jagoan kecilnya.
"Papi ... Jangan sampai Papi melupakan restoran kita," godanya.
Shinta yang mendengar pernyataan Arlan, semakin ternganga, bahkan ingin sekali ia meloncat kegirangan, karena mendapatkan perlakuan yang sangat baik, setelah memberikan keturunan bagi seorang crazy rich.
Kedua bola mata Shinta membulat besar, tidak menyangka bahwa Arlan akan menyatakan semua itu di hari kedua masa pemulihannya.
"Kalau mengikat begini, aku bisa memberikan anak yang banyak untuk Papi. Bahkan dia sangat menyayangi aku, dan benar-benar mencintai aku. Ooogh Tuhan, sebentar lagi, selangkah lagi, maka aku akan menjadi lebih kaya dari wanita yang bernama Raline. Dia tidak bisa menghina ku, bahkan menghujat aku sebagai jallang. Karena sesungguhnya, adiknya lah yang jallang ..." tawanya menyunggingkan senyuman tipis, bergumam dalam hati.
Tak lama mereka saling bercerita, dan bersenda gurau selayaknya pasangan suami-istri yang sempurna, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ...
__ADS_1
"Maaf Tuan Arlan, ada kiriman bunga dari seseorang," senyumnya, membawakan buket bunga mawar merah yang di campur dengan bunga segar lainnya.
Arlan menautkan kedua alisnya, melihat nama yang tertera di kartu yang tertempel di sana.
[Selamat Datang ke dunia Baby Boy. Aku sangat bahagia ... Salam sayang dari ku, Leon]
Arlan meremas kuat kartu ucapan selamat itu, karena tidak ingin Shinta membacanya. Kali ini ia harus memperjuangkan Shinta demi kebahagiaannya sendiri, tanpa mau mengalah lagi.
Benar saja, semua informasi yang didapatkan Arlan dari Iman sangat membantu pria mapan itu. Dengan gamblang ia mengirim semua bukti, pada Iman, membuat Dokter Iman menghela nafas berat, karena tidak mengetahui permasalahan Seno dan Yasmin.
Bagaimana mungkin seorang pria, mau menutupi semua identitas tentang anak kandungnya sendiri, termasuk dari Leon yang sampai saat ini masih belum mengetahui tentang siapa dirinya.
[Bagaimana jika Leon mengetahui semua ini, Pak]
[Jangan bicarakan ini pada Leon! Karena aku yang akan membawa anak itu untuk bertemu dengan Ayah kandungnya. Bayangkan saja, hingga saat ini Seno tidak pernah menghubungi aku, atau bahkan meminta maaf pada ku secara tertulis. Dia anggap aku sahabat seperti apa. Kamu bayangkan jika aku yang melakukan hal itu pada Lily istrinya. Saat ini, aku sudah tidak memperdulikan apapun tentang omongan orang, jika anak ku lahir ke dunia. Aku sangat mencintai Shinta, dan aku akan memperjuangkan wanita ini sebagai pengganti Yasmin]
Iman hanya bisa menghela nafas panjang diseberang sana kala itu. Saat Arlan masih meratapi nasibnya sendiri yang di khianati oleh seorang sahabat.
Ada perasaan iba dihati Iman selaku, orang kepercayaan Arlan juga Seno. Namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa Seno tega menyakiti Arlan yang selama ini sama-sama berjuang dengannya.
Lagi-lagi Arlan terkenang saat terakhir kali dirinya meninggalkan Yasmin di Jakarta selama dua minggu, sebelum sakit menyerangnya ...
"Sayang, kenapa kamu berubah pada ku? Biasanya asal aku pulang dari luar negeri, kamu selalu meringkuk dalam pelukan ku ... Ada apa hmm? Apakah kamu tidak merindukan aku?" godanya pada puncak hidung Yasmin malam itu.
__ADS_1
"Ck ... Hmm aku lelah sayang, aku tidak ingin di ganggu," sungutnya menolak tubuh Arlan agar tidak menyentuhnya.
"Bisa jadi saat itu, kamu baru saja menghabiskan waktu bersama Seno, sehingga tidak ingin melayani aku, Yasmin ..." kenangnya dalam dendam yang masih membara ...