
Sudah lebih dari enam bulan kebersamaan mereka tinggal satu atap di mansion mewah milik Arlan. Betapa bahagianya duda beranak satu itu menyaksikan kemesraan Leon dan Shinta yang semakin tampak bahagia dan putranya semakin menikmati indahnya kehidupan setelah dua kali seminggu cuci darah.
Ya ... Arlan memilih menjaga jarak dari Shinta semenjak pertikaiannya dengan Liberti beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak, wanita paruh baya itu terus memaksa Arlan untuk menikah dengan Raline putri kesayangannya.
BRAAK ...!
Liberti memukul keras meja restoran, membuat Arlan semakin berang ...
"What do you mean by marrying Leon to that Singaporean girl Arlan. Mama already knows all the stories about the girl. You married him off to Leon, so you could be close to your son-in-law, right? Don't be crazy you! If you really love Yasmin, don't ever hurt Leon!"
(Apa maksud mu menikahkan Leon dengan gadis Singapura itu Arlan. Mama sudah mengetahui semua cerita tentang gadis itu. Kau menikahkan dia dengan Leon, agar kau bisa dekat dengan menantu mu, kan? Jangan gila kamu! Kalau kamu memang menyayangi Yasmin, jangan pernah kamu menyakiti Leon)
Arlan hanya mendengus kesal, dia berkali-kali mengusap kasar wajahnya, ingin sekali dia mencabik-cabik mulut mertuanya itu. Namun dia masih bisa membendung amarahnya, karena tidak ingin berdebat dengan wanita yang telah melahirkan almarhum istrinya.
"Can we have a good talk! Once again Arlan reiterates with Mama, don't interfere in my family matters! Because I'm going to kill your family. I've heard enough of Mama's plea. Enough!"
(Bisakah kita bicara dengan baik-baik! Sekali lagi Arlan tegaskan sama Mama, jangan campuri urusan keluarga ku! Karena aku akan menghabisi keluarga kalian. Sudah cukup aku mendengar permohonan Mama. Cukup)
Arlan berdiri, meninggalkan Liberti, tanpa mau mendengarkan teriakan wanita itu lagi ...
"Arlan! Arlan stop!"
Arlan tetap pada pendiriannya, sampai kapanpun dia tidak akan pernah menikahi Raline. Baginya keluarga Yasmin yang telah menghancurkan seluruh kebahagiaannya selama ini.
Tak sekali dua kali Raline merengek pada Liberti, agar Arlan menikah dengannya. Dengan alasan untuk mengasuh Leon dan menjadi ibu sambung putra kesayangannya duda beranak satu tersebut.
Akan tetapi, Raline tidak pernah memberikan sifat baik juga positif kepada Arlan. Dia selalu, memperlakukan pria mapan itu seperti adiknya, yang dengan mudah diatur oleh wanita tersebut.
Status Raline bukanlah gadis, juga bukan janda. Pergaulannya melebihi artis papan atas, sehingga membuat ia terjebak dalam keisengannya.
__ADS_1
Arlan beranjak dari rumah sakit dengan perasaan kesal. Bagaimana mungkin dia harus dipermalukan oleh wanita paruh baya itu. Walau Liberti merupakan mertuanya, tapi tidak seenaknya dia membentak Arlan di restoran seperti tadi, membuat semua mata tertuju pada mereka.
.
Hari ini Arlan tengah menghabiskan waktu di apartemen miliknya, dia menyibukkan diri sebagai seorang pengusaha yang selalu di juluki crazy rich, diruangan kerjanya yang tidak begitu jauh dari ruang keluarga.
Nama Arlan Alendra, selalu muncul di tabloid-tabloid bisnis, yang menceritakan semua kisahnya, hingga menjadi panutan sebagai good daddy dalam merawat buah hati yang mengidap gagal ginjal dan penyakit dalam komplikasi.
Seorang pelayan paruh baya, mengetuk pintu ruang kerja yang terbuka, kemudian mendekati Arlan hanya untuk memberitahu bahwa ada tamu yang datang ...
"Tuan Arlan, di depan ada Non Shinta ..."
Arlan menautkan kedua alisnya, "Shinta? Sama siapa Bi?"
"Sendiri Tuan."
"Oogh yah! Sebentar, saya bersih-bersih dulu. Suruh masuk, dan siapkan makan siang!"
Bergegas Arlan membersihkan dirinya, karena sejak bangun tidur dia hanya menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Baginya ... Bisa bekerja di rumah sambil menikmati segelas kopi tanpa gula, itu merupakan kebahagiaan yang hakiki sebagai seorang laki-laki.
Lebih kurang 20 menit Arlan membuat menantu terbaiknya menunggu. Kemudian bergegas ia beranjak dari ruang kerja yang memiliki akses koneksi ke kamar utama.
Arlan keluar dari kamar, melihat Shinta yang masih duduk termangu di sofa ruang keluarga. Entah mengapa, jantung duda beranak satu itu semakin berdegup kencang, dia berusaha menghindar, namun kali ini Shinta yang datang untuk menemuinya ...
Pertanyaan Arlan hanya satu, "Ada apa ...?
Arlan menatap Shinta, dengan penuh kerinduan, beberapa kali dia membasahi bibir tipisnya. Sudah enam bulan lebih dia menghindari gadis yang kini ada dihadapannya, namun debaran yang sama masih terasa.
"Hai ... Ada apa kamu kesini? Mana Leon, apa kalian sedang ribut, atau ..."
__ADS_1
Belum selesai Arlan menyelesaikan semua pertanyaannya, Shinta langsung berhambur memeluk tubuh tegap Arlan. Membuat pria itu sedikit huyung dan hampir terjatuh, karena kurangnya keseimbangan.
Arlan mendekap punggung Shinta, mengusap perlahan, kemudian mencium puncak kepala gadis itu.
Arlan semakin salah tingkah, karena jantungnya berdegup lebih kencang, dari awal ia keluar dari ruangannya. Berkali-kali dia menarik nafas dalam-dalam, agar bisa tenang menghadapi gadis yang ada dalam dekapannya saat ini.
Lagi-lagi Arlan bertanya pada Shinta, "Bisa jawab pertanyaan ku? Mana Leon, Shinta?"
Shinta mendongakkan kepalanya, dia menatap sayu wajah Arlan, memberikan satu permohonan yang tak mampu ia ucapkan, namun Arlan dapat menangkap kemana arah menantunya itu berfikir.
Perlahan Shinta menjawab dengan suara pelan, "Hari ini jadwal Leon cuci darah, Shinta ada waktu enam jam meninggalkannya, karena Leon masih dalam penanganan dokter. Shinta kangen sama Papi. Sudah lama Papi enggak cium bibir Shinta, dan hari ini, Shinta sangat merindukan Papi ..." peluknya lagi semakin erat.
Seakan-akan mendapatkan angin segar, Arlan yang awalnya mampu berpikir jernih sejak ia sering berbincang dengan Seno, namun kali ini jiwa kelaki-lakiannya kembali terpancing untuk mengikat Shinta dalam hubungan gila yang bisa dikatakan terlarang dan haram.
Bagaimana mungkin, seorang menantu akan menggoda mertuanya, dengan berbagai macam cara, dan kali ini Arlan menangkap semua sinyal yang Shinta berikan tanpa mau berpikir panjang lagi.
Enam bulan Arlan menghindari Shinta, namun lagi-lagi gadis itu kembali datang untuk menyerahkan dirinya kepada seorang yang telah menghindarinya dengan berbagai siksaan berperang dalam batinnya.
Arlan tersenyum tipis, mengecup lembut bibir ranum Shinta yang sengaja ternganga dan basah dengan penuh kelembutan. Ia mengecup pelan kemudian melepaskan ciuman itu hanya untuk bertanya, menatap kedua bola mata menantunya ...
"Apa ini yang kamu rindukan hmm? Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada mu, sayang! Karena aku benar-benar gila karena mu ..."
Mata Shinta memberi isyarat bahwa dirinya sangat menginginkan Arlan. Walau ia menikah dengan Leon, namun selama pernikahan yang sudah berjalan lebih dari delapan bulan tidak pernah mendapatkan kebutuhan biologis sebagai wanita yang sempurna dalam status pernikahan walau melalui perjanjian kontrak.
Salah ... Ya. Ini memang salah, namun Shinta tidak ingin melepaskan Arlan jika terjadi sesuatu pada Leon suatu saat nanti. Begitu juga sebaliknya ...
Namun tidaklah mudah bagi Arlan untuk melupakan Yasmin dari dalam hatinya, kali ini duda beranak satu melihat Shinta sama seperti menatap almarhum istrinya.
"Oogh Pi ... Jangan di sini. Nanti ada yang melihat ..." rengeknya manja dalam dekapan Arlan, yang langsung menggendong gadis itu ke kamar pribadinya, tanpa menghiraukan pelayan yang menelan ludah karena perbuatan gila majikan.
__ADS_1
"Ooogh Tuhan ... Bagaimana nasib Leon! Aduuh tega sekali Tuan Arlan ..."