Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Cari keberadaan Shinta


__ADS_3

Enam bulan kemudian ...


Arlan kembali ke Jakarta, setelah mendapatkan surat atas permintaan maaf dari Seno secara resmi, yang di kirimkan nya melalui email dan diunggah di media masa sebagai rasa penyesalannya.


Kedua pria dewasa itu kini berada di ruang rapat rumah sakit, di dampingi Leon yang duduk bersebelahan dengan Raline juga Mama Liberti.


Pesona duda tampan seperti Arlan, lagi-lagi membius mata hati seorang Raline, yang sangat ia kagumi sejak dulu.


Akan tetapi, Arlan masih duduk dengan wajah tenang, sambil menatap layar handphone, untuk memastikan kondisi Baby Sandy yang di tinggalkan bersama baby sitter paruh baya tersebut.


Tidak ingin menunggu lama, Arlan menautkan kedua alisnya, menatap lekat kearah Seno hanya berkata lirih, "Jadi apa yang harus aku tandatangani! Cepat katakan, karena aku tidak memiliki waktu yang banyak untuk duduk bersama kalian di ruangan ini!"


Seno yang masih dalam proses pemulihan, dari amukan Leon beberapa waktu lalu, hanya dapat bicara dengan terbata-bata, "A-a-a-aku sudah siap untuk menandatangani perjanjian, bahwasanya kau menyerahkan Leon pada ku! Ta-ta-tapi menurut negara, Leon masih sah menjadi putra mu! Aku tidak akan merebut Leon, dan aku juga berharap kau mau memaafkan aku!"


Arlan tertawa kecil, mendengar penuturan Seno, dia memainkan bibirnya, mengusap-usap lembut dagunya, sambil bertanya, "Oke, aku akan melupakan semua ini. Ini merupakan satu rahasia dari almarhum istriku Yasmin, yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Aku minta, tinggalkan Indonesia, dan jangan pernah mengganggu kehidupan ku! Kalau perlu, bawa Lily bersama mu, karena aku mendengar kalian akan bercerai!" tukasnya.


Seno menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak setuju dengan permintaan Arlan. Bagaimana mungkin, dia harus meninggalkan Indonesia, sementara bisnisnya berada di negara yang sedang berkembang tersebut, bersama Lily walau telah menggugat cerai suaminya tersebut.


"Ja-ja-jangan seperti ini Arlan, kau mengajukan persyaratan perdamaian yang sangat memberatkan bagiku! Kau tahu, aku tidak memiliki rekan yang begitu besar di luar sana. Apalagi dengan keadaan aku yang sekarang ini!" ucapnya dengan wajah memelas.

__ADS_1


Arlan menggelengkan kepalanya, dia tetap tidak ingin melihat Seno berada di Indonesia, karena sudah cukup baginya untuk mengalah pada pria pecundang seperti pria yang sejak dulu ia akui sebagai sahabat tersebut.


"Maaf! Jika kau tidak mau meninggalkan negara ini, aku akan yang akan mengurus semua legalitas mu, untuk mencampakkan mu ke tempat kuliah istrimu! Karena Lily memiliki rekan yang sangat cukup di negri jiran. Jangan kau pikir, aku tidak mengetahui semua sepak terjang mu, Sen! Karena selama ini aku telah mencari tahu siapa yang membantu bisnis baru mu!" tawanya kembali menegaskan.


Liberti menggelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan keputusan Arlan yang ingin mencampakkan Seno, ke negara lain, tanpa boleh kembali ke Jakarta.


"Jangan seperti ini Arlan. Bagaimanapun, Leon akan menikah dengan Cua. Dia telah menceraikan Shinta. Dan Mama harap, kamu bisa bahagia dengan hmm eee Ra-li-ne."


Mendengar penuturan Liberti, Arlan mendecih, "Apa maksud kalian? Bukankah Shinta telah kembali ke Jakarta beberapa waktu lalu? Dan dia sudah kembali dengan Leon?"


Leon menjawab pertanyaan Arlan dengan cepat, "Aku telah mencampakkan dia. Karena Shinta telah berani menyakiti aku! Dan aku dengar beberapa hari lalu, dia sudah keluar dari penjara!"


"Ogh, aku sama sekali tidak pernah mengetahui tentang kabar wanita laknat itu. Hmm lebih baik kita selesaikan permasalahan ini satu persatu, dan aku tidak ingin berada di sini. Mungkin aku juga akan menjual semua aset ku, dan kembali ke Singapura. Untuk kau, Se-no! Lebih baik, kau yang menghadiri pernikahan Leon, karena dia putra mu! Karena aku tidak ingin bertemu dengan keluarga gadis itu!" tegasnya.


Leon kembali menyela pembicaraan Arlan, "Setahu keluarga Cua, aku masih anak Papi. Anak Papi Arlan. Sampai kapanpun aku menegaskan bahwa Leon anak Papi Arlan, bukan anak dari Seno!"


Seno terdiam, wajahnya memerah karena mendengar penuturan Leon yang sangat menusuk jantungnya. Jantung seorang Ayah yang selama ini di idam-idamkan untuk mendapatkan pengakuan dari seorang anak.


Arlan tertawa terbahak-bahak, mendengar permintaan Leon yang sangat jelas, tidak mau berpisah dengannya, "Kau lihat sendiri, bagaimana perasaan mu ketika mendengarkan penuturan putra biologis mu, yang tidak pernah mengakui bahwa dirimu sebagai Daddy? Daddy Seno yang sangat bijaksana, namun harus menerima kenyataan bahwa kehadiran mu, tidak pernah di harapkan oleh siapapun saat ini, termasuk darah daging mu sendiri! Kau tahu, saat ini Tuhan tengah menghukum siapa? Aku atau dirimu? Kau pengkhianat, Sen. Sangat di sayangkan Leon harus tercipta dari benih mu!"

__ADS_1


Seno semakin berang, perasaannya seketika bercampur aduk. Dirinya seperti di tampar oleh keadaan, bahkan terasa sangat menyakitkan. Hinaan Arlan semakin menjadi-jadi namun dapat di redam oleh wanita paruh baya yang selalu membela Seno.


"Cukup Arlan. Mama tahu ini merupakan satu kesalahan. Ta-ta-tapi Mama mohon, kamu menerima pinangan Mama untuk Raline. Raline sangat mencintai mu! Jangan kau sakiti dia seperti ini! Sekian lama dia menantikan mu! Satu lagi, hentikan hinaan mu terhadap Seno!"


Arlan kembali tertawa terbahak-bahak, mendengar permintaan Liberti, "Mengapa sejak Yasmin meninggal dunia, Mama selalu menyodorkan Raline pada ku? Apakah dia siap menjadi budak ku, jika menikah dengan seorang Arlan Alendra? Apakah dia mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ini kepada aku serta Yasmin? Jika sanggup, mungkin aku akan memikirkannya. Karena banyak hal yang baru aku ketahui tentang perjanjian kalian bersama Yasmin sebelum dia meninggal dunia. Berapa banyak tabungan Yasmin menghilang. Berapa USD rekening bank milik Yasmin yang kalian alihkan hmm? Aku sudah mendapatkan semua bukti, bahwa sebagian harta Yasmin, pindah ke tangan Seno. Pria laknat yang mengaku alim di hadapan ku, ternyata seekor binatang peliharaan Keluarga Liberti!"


Leon yang mendengar semua pembicaraan orang dewasa tersebut, membuat ia memikirkan uang tunai yang berada di dalam brangkas kamar miliknya. Bergumam sendiri di dalam hati, "Apakah selama ini Papi tidak mengetahui keberadaan uang tunai yang di simpan Mami? Ogh, ternyata mereka memiliki bisnis lain di belakang Papi ...?"


Seketika kepala Leon terasa semakin berdenyut, bahkan terasa sangat berat, membayangkan bagaimana seorang Arlan ternyata tidak bahagia selama ini bersama Yasmin.


"Ma-ma-maaf, kepala ku seperti akan pecah, ketika memikirkan semua pertikaian keluarga yang sangat memuakkan ini. Aku tidak ingin berdebat lagi. Aku tidak peduli dengan semua ini, karena aku hanya ingin mengajukan permohonan bahwa aku merupakan anak dari Papi Arlan Alendra, bukan dari pria yang duduk di kursi roda ini. Selamat siang!"


Leon beranjak, meninggalkan ruangan rapat tersebut, setelah menandatangani surat permohonannya, di hadapan Arlan juga pengacara keluarga mereka.


Arlan meraih handphone miliknya, menghubungi pengawal untuk mencari keberadaan Shinta.


"Cari informasi tentang Shinta Bachir, karena wanita itu sudah keluar dari penjara!"


"Ba-ba-baik Pak!"

__ADS_1


__ADS_2