
Pergi, pergilah duka. Kini Leon telah pergi membawa rahasia dalam kepedihan itu seorang diri. Tanpa menunggu Arlan, hanya menunggu Shinta, tapi tak mampu untuk berkata-kata lagi, sehingga nafas terpisah dari raga yang tak segagah dulu.
Tawa canda, janji setia, yang pernah terucap dalam menjalani pernikahan nya dengan Shinta, membuat wanita cantik itu enggan beranjak dari jasad yang telah terbalut kain kafan, dan terbaring di dalam peti jenazah yang masih terbuka, ketika berada di mansion megah Keluarga Arlan, sebagai penghormatan terakhir mereka.
'Penyesalan datang selalu terlambat', kalimat itu yang terngiang dalam benak Shinta untuk pernikahan pertama yang ternyata kandas di tengah jalan, karena perselingkuhannya dengan Arlan diketahui oleh Leon.
Akan tetapi, Shinta juga tidak menampik akan kesalahannya kala itu. Dia wanita normal yang memiliki rasa penasaran, ketika bermesraan dengan Leon, tapi suaminya tidak mampu memberikan kepuasan batin karena keadaannya.
Dikala, Shinta masih menatap jenazah yang masih belum terbungkus kain putih itu, ia di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita. Wanita muda yang menjadi kekasih Leon ketika akan bercerai darinya.
Ya, Cua hadir di kediaman Arlan setelah mendapatkan kabar dari salah seorang kerabatnya.
Dengan penuh kesedihan Cua menangis terisak, ketika melihat sosok pria yang pernah menghabiskan waktu dengannya, tapi tidak jadi menikah karena sesuatu hal.
Wanita yang telah menikah dengan salah satu pengusaha sukses, di Singapura menunduk hormat ketika bersitatap dengan Shinta, "Ma-ma-maaf Mba. Saya mohon maaf, atas kejadian beberapa tahun lalu. Sekali lagi saya tidak bermaksud untuk menjadi perusak hubungan Mba dan Leon. Sejujurnya saya tidak mengetahui, tentang pernikahan hmm eee ..."
Shinta tersenyum lirih, mendengar permintaan maaf dari gadis muda itu, "Sudahlah, Leon sudah tenang. Dia sudah tidak sakit lagi. Terimakasih sudah datang ke kediaman kami!"
__ADS_1
Mendengar pernyataan Shinta, membuat Cua semakin merasa bersalah, dan menghindari kontak mata dengan wanita yang ternyata lebih terpukul karena kematian Leon, walau sudah menjadi mantan suaminya tersebut.
Cua berlari menuju parkiran yang terhampar luas di mansion megah itu, hanya untuk mengambil sebuah barang peninggalan Leon beberapa waktu lalu ketika masih bersamanya. Yang masih terbungkus rapi dalam satu kotak berukuran sedang.
Seketika Cua terkenang Leon selalu mengumpulkan informasi tentang Shinta. Ketika ia pergi ke pusat perbelanjaan bersama kekasihnya, akan tetapi hanya nama mantan istrinya itu yang ada dalam benak pria muda tersebut.
"Le ... ini buat siapa? Apakah kamu lebih menyukai wanita yang mengenakan dress seperti ini?" rengek Cua, ketika melihat Leon membayar semua dress mini yang sesuai dengan selera Shinta.
Leon menoleh kearah Cua, mengusap lembut kepala gadis yang selalu menemaninya sebelum pindah ke kediaman Seno, "Aku ingin bertemu dengan Shinta. Menyampaikan maaf ku, padanya. Begitu banyak kesalahan yang telah aku lakukan padanya, sehingga membuat dia masuk penjara. Hingga kini aku kehilangan kontak dengan dia. Aku berharap Shinta baik-baik saja. Tanpa mau menyimpan dendam pada Keluarga Oma dan Tante Raline. Walau sejujurnya, Tante Raline akan terus merebut Papi darinya."
Mendengar penjelasan tentang Shinta, Cua mendengus dingin. Ada perasaan tidak terima dalam hatinya, karena Leon selalu menceritakan semua kebaikan Shinta kepadanya. Membuat gadis itu berpikir, bahwa Leon mendekatinya hanya untuk pelarian sesaat, tanpa mau menjalin hubungan serius hingga ke jenjang pernikahan.
Leon tampak salah tingkah, karena Cua benar-benar meninggalkannya di pusat perbelanjaan itu, hingga gadis itu memutuskan secara sepihak hubungan cinta mereka. Dengan alasan, Leon terlalu berbelit-belit dalam memutuskan sesuatu untuk menikahinya.
Tangis kepedihan seorang gadis yang telah menjadi korban dalam pelampiasan hawa nafsu seorang pria dalam pelarian pernikahanya, membuat Cua pergi meninggalkan Jakarta, dan menetap di Singapura setelah di persunting Brian. Pria bule yang sangat baik, bahkan mau menerima Cua apa adanya. Tanpa bertanya tentang masa lalu gadis yang ia nikahi.
Brian yang sejak awal tiba di mansion megah milik Arlan Alendra tersebut, dengan balutan busana putih sebagai simbol kesedihan, berlari untuk mendekati sang istri, hanya sekedar bertanya, "Sayang, ada apa dengan kamu? Kenapa kamu menangis? Hmm ... apakah ini ada sangkut pautnya dengan Leon?"
__ADS_1
Melihat Brian mendekatinya, Cua berhambur memeluk tubuh suami tercinta sambil memegang kotak sedang berisikan pakaian beberapa tahun terakhir kebersamaan mereka.
"Ter-ternyata wanita yang telah dianggap mati oleh Leon, masih hidup hingga saat ini. Dan dia tampak lebih tenang walau sesungguhnya perasaannya juga hancur seperti Papi Arlan," isaknya meremas kuat pakaian yang dikenakan Brian.
Perlahan tangan kanan Brian mengusap lembut punggung Cua, mengecup lembut kepala istrinya itu dengan perasaan kasihan, sambil berkata, "Berikan apa yang menjadi hak orang lain. Jangan kamu simpan terlalu lama, sayang. Karena itu tidak baik. Jika aku tahu, bahwa kotak ini milik Nyonya Arlan, mungkin aku yang akan mengantarkan mu kesini, agar bisa bertemu dengan anak tiri mereka."
Cua menelan ludahnya, mendengar penuturan tentang anak tiri. Akan tetapi, ia memilih untuk tidak ikut campur, karena itu bukan ranah wanita muda tersebut.
"Aku masuk dulu kedalam ya, darl? Karena ini yang dititipkan Leon pada ku waktu itu," tunduknya tanpa mau menjelaskan lagi.
Brian mengangguk setuju, "Aku duduk di tempat yang tadi. Kebetulan ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Tuan Arlan. Aku rasa kita akan ikut dalam pemakaman keluarga ini. Sekaligus bertemu dengan kedua orang tua kamu. Tadi mereka bilang, mereka akan ikut dalam pemakaman Leon."
Tanpa menjawab, Cua berjalan memasuki mansion megah milik Arlan, sesekali melirik kearah pria mapan yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mantan kekasih putra kesayangannya.
Membuat Arlan bergumam dalam hati, sambil memandangi gadis manja itu mendekati sang istri tercinta, "Aku rasa Cua memiliki satu rahasia, yang ia ketahui tentang Leon sebelum Keluarga Liberti memberikannya kepada Seno. Karena, aku bisa melihat raut wajahnya yang tampak sungkan jika bertemu dengan ku! Agh ... anak muda terkadang sulit untuk ditebak ..."
Terlihat Shinta hanya berbicara sekedarnya saja, sambil menerima kotak pemberian Cua, tanpa mau bertanya lebih detail lagi.
__ADS_1
Bagi Shinta, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membawa Leon kembali berkumpul dengan mereka, hanya untuk sekedar memastikan bahwa diakhir hayatnya Leon dapat tersenyum bahagia, kembali menjadi seorang putra kesayangan Arlan Alendra.
"Andai saja waktu dapat di putar kembali, mungkin aku ingin menghabiskan sisa masa hidupmu bersama ku, Leon ..."