
Sandiego hills Karawang, pemakaman Keluarga Arlan yang telah ia sediakan sejak jauh-jauh hari, ketika Yasmin pergi lebih dulu.
Begitu banyak para kerabat dekat Arlan yang turut menghadiri acara pemakaman Leon, karena pria muda itu memang telah sakit sejak delapan tahun lalu.
Tidak banyak bicara, Arlan hanya memeluk Shinta ketika menangis sejadi-jadinya saat tanah kuning itu menutup liang lahat tanpa bisa bertemu lagi dengan pria muda yang benar-benar sangat di cintainya. Penyesalan terdalam bagi Shinta, ketika tidak bisa melihat orang yang dicintai itu pergi untuk selamanya.
"Shinta jahat sama Leon, Bi! Shinta pengen ikut sama Leon. Shinta enggak mau di sini lagi," teriaknya dalam dekapan Arlan.
Entah mengapa, Arlan juga merasakan hal yang sama, akan tetapi pria mapan itu dapat menyembunyikan perasaannya.
"Tenanglah sayang. Kita semua akan menyusul mereka. Tinggal tunggu waktu. Aku akan selalu menjagamu sampai akhir hayat ku," kecupnya di puncak kepala Shinta.
Shinta menggeleng, dia enggan menjawab pernyataan Arlan. Kali ini ia berpikir akan pergi dari kehidupan pria mapan itu dan mengakhiri hubungan terlarang mereka, karena ia tidak pantas untuk di perjuangkan.
Dari kejauhan, Arlan sudah dapat melihat kehadiran Seno dan Raline yang membawa serta Mama Liberti.
Dapat di bayangkan betapa jijiknya Arlan melihat kehadiran mereka di pemakaman terakhir Leon.
Salah seorang pengawal Arlan, yang turut dalam mengawasi acara pemakaman itu, datang menghampiri majikannya, hanya sekedar bertanya, "Tuan, apakah hari ini kita akan mengusir mereka?"
Arlan menggeleng pelan, menahan amarahnya, sambil berkata, "Biarkan saja mereka hadir, setelah itu giring mereka ke kantor polisi!"
"Baik Tuan!"
__ADS_1
Shinta yang mendengar ucapan Arlan seperti itu, hanya mendengus dingin. Kali ini dia sangat membenci pertikaian yang masih berkecamuk dalam benak suami tercinta.
Perlahan Shinta melepaskan dekapan Arlan, memilih duduk disamping batu nisan yang telah terpasang bertuliskan nama Leon disana. Kali ini ia hanya bisa melihat nama Leon yang tertulis, tanpa bisa bertemu lagi dengannya.
"Le ... istirahat yang tenang. Aku minta maaf pada mu. Semua itu aku lakukan hanya karena perasaan penasaran ku, dan akhirnya mengorbankan perasaan kita sebagai pasangan suami istri dalam pengkhianatan yang sepantasnya tidak terjadi. Aku mohon maafkan aku, Leon ..."
Shinta masih menangis tersedu-sedu, tidak menghiraukan Seno dan Raline yang menatapnya dengan sinis, mengisyaratkan permusuhan akan segera di mulai.
Namun, Arlan tidak peduli. Karena kali ini ia hanya menahan dihadapan para tamu, agar tidak membuka aib keluarga besarnya.
Tanpa perasaan malu, Liberti datang menghampiri Arlan, meraung bak pemain sinetron yang sangat kehilangan Leon, kemudian berhambur memeluk tubuh kekar sang mantan menantu.
"Arlan, Mama turut berduka atas kematian Leon. Jangan pernah melupakan Mama, sayang. Kali ini Mama minta maaf pada mu ..."
Mendengar pernyataan seperti itu dari bibir Arlan, Liberti kembali memeluk tubuh yang terlihat semakin gagah itu semakin erat. "Jangan seperti itu, sayang. Mama sangat menyayangi mu, juga Leon. Kalianlah yang Mama miliki saat ini. Mama ikut dengan mu ke Singapura yah, Nak?"
Senyuman Arlan menyeringai kecil, menjawab permintaan Liberti dengan sinis, "Jangan mimpi. Karena aku telah bahagia dengan anak dan istriku!"
Liberti mendelik tajam, menoleh kearah Shinta yang benar-benar tampak dibalut dengan kemewahan, karena mengenakan dress panjang berwarna putih, serta selendang penutup kepala buatan Prancis berkualitas tinggi yang memperlihatkan merk 'duck' di sana.
Dada Liberti seakan ingin merobek pakaian mahal yang kenakan Shinta, karena berbanding terbalik dengan Raline putri kesayangannya. Ia bergumam dalam hati, "Sial ... aku pikir wanita jallang ini sudah mati. Ternyata dia masih hidup dalam kemewahan dan mengenakan pakaian-pakaian mahal. Ini tidak bisa di biarkan, karena Arlan harus menikahi Raline ..."
Tanpa berpikir ulang, Liberti mengusap lembut wajah Arlan, "Lan ... menikahlah dengan Raline, sayang. Dia sangat mencintai mu. Mama juga sangat menyayangi kamu, Nak. Ceraikan Shinta, karena dia masih mencintai Leon. Lihat saja, cara dia menangis di batu nisan anak Seno, Lan."
__ADS_1
Arlan menepis tangan Liberti yang tengah mengusap lembut lengannya. "Enyahlah kalian dari sini. Lebih cepat lebih baik! Karena aku tidak akan pernah menerima perlakuan kalian kepada keluarga ku selama ini. Kau yang telah meminta Yasmin untuk terus berhubungan dengan Seno, sekarang kau suruh aku melepaskan Shinta! Apa mau mu Nyonya? Hmm ..."
Seketika mata Liberti berkaca-kaca, karena tidak menyangka bahwa Arlan telah mengetahui bahwa dialah yang menjadi dalang dalam kehancuran pernikahan menantunya.
"Tidak Arlan, jangan seperti ini pada ku. Aku melakukan hal ini, karena Raline lebih pantas menjadi pendamping mu! Bukan Yasmin ataupun Shinta. Yasmin telah mengkhianati mu dengan Seno, sementara wanita itu!" Tunjuk Liberti pada Shinta, "Dia merupakan menantu mu, Arlan. Pernikahan mu haram dalam agama kita, Nak!"
Arlan menggeleng, mendongakkan kepalanya, kemudian menatap nanar kedua bola mata Liberti penuh kebencian, "Apa kau sudah capek hidup miskin, Nyonya? Setelah ini, aku akan memenjarakan kalian, atas banyak kasus! Tunggu saja, karena aku telah memberikan kesempatan kalian untuk bertobat selama tiga tahun, tapi sampai detik ini tidak ada yang kalian lakukan untuk ku! Jadi selamat datang penyesalan, Nyonya Liberti!"
Dengan cepat Arlan menjentikkan jemarinya, agar para pengawalnya membawa Liberti dan Raline serta Seno.
Tentu saja, kehadiran mereka di pemakaman Leon menjadi hal mudah bagi Arlan untuk menjebloskan ketiga orang itu masuk penjara, atas banyak kasus yang mereka buat selama ini. Dari penggelapan dana perusahaan rumah sakit, serta perselingkuhan Seno dengan Yasmin, dan pembunuhan berencana atas Shinta ketika keluar dari rumah tahanan Salemba.
Liberti berteriak keras, "Aku tidak bersalah, tapi Seno dalangnya, Arlan! Aku Ibu mertua kamu! Aku Ibu Yasmin! Jangan lakukan hal ini pada ku, sayang! Aku mohon padamu!"
Semua mata tertuju pada ketiga orang yang mengetahui siapa mereka. Termasuk Brian, hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya, "Apa yang dialami oleh Tuan Arlan, sehingga dia memenjarakan keluarga serta sahabatnya? Apakah selama ini mereka hidup dalam kemewahan yang penuh dengan pertikaian ...?"
Begitu banyak, pertanyaan yang tidak mampu di pertanyakan, ketika mendengar teriakan Liberti dan Raline sambil mencaci-maki Shinta.
"Kau akan menyesal Arlan. Kau akan menyesal telah menikah dengan jallang itu! Dia jallang Arlan, dan tidak akan pernah bisa menjadi wanita terhormat!" pekik Raline, ketika di seret paksa untuk segera meninggalkan pemakaman Leon.
Shinta tak bergeming, dia tidak peduli dengan semua hinaan yang sangat menyesakan dadanya sebagai wanita baik-baik. Baginya mendoakan Leon lebih baik, daripada ikut campur dalam urusan keluarga gila yang selalu merendahkannya.
"Aku mencintaimu Leon. Aku sangat merindukan mu ...," kecupnya di batu nisan Leon.
__ADS_1