Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Memperjuangkan ...


__ADS_3

Melihat kejadian itu, membuat Arlan panik. Bagaimana mungkin, Leon melepaskan selang berbahan silikon, berukuran tiga centimeter yang tertanam di kulit lengannya, sehingga menyemprotkan darah segar keberbagai arah, dan merobek kulit lengan putra kesayangannya ...


Ini kali pertama Leon melakukan hal itu seumur hidupnya, karena ingin menyusul Yasmin dan tidak ingin melanjutkan kehidupannya bersama Arlan di dunia fana ini.


Arlan berteriak keras, memanggil Seno ataupun dokter yang berada di ruang keluarga.


"Ooogh tidak Leon! Seno! Dokter!" teriak Arlan histeris, dengan wajah merah padam dan air mata yang tidak terbendung.


Mendengar teriakkan Arlan dari dalam kamar, Shinta yang baru datang di apartemen, berhambur lari kedalam kamar utama milik Arlan, disusul Seno juga dokter spesialis yang menangani Leon selama ini.


Shinta yang melihat kejadian tersebut, melompat menuju ranjang kamar tersebut, disusul dokter, langsung meraih lengan Leon dengan kuat, melepas paksa tali bantal guling, kemudian mengikat kuat lengan Leon agar menghentikan darah yang masih mengucur deras.


"Shinta tolong tahan lengan Leon, aku akan mengambil alat didalam tas ku!" perintah dokter pada Shinta.


Tubuh Leon seketika melemah, pandangannya membayang, membuat tubuh yang terlihat segar itu tak lagi bergerak.


Tak hilang akal, dokter memompa dada Leon dengan dua kali hentakan, dan mengalihkan pandangannya kearah Arlan yang tampak panik, hanya bisa memberi perintah ...


"Cepat, hubungi ambulans!"


Sejak tadi Seno sudah menghubungi pihak rumah sakit, agar mengirimkan ambulans ke apartemen Arlan.


Benar saja, tidak menunggu lama team medis rumah sakit internasional tiba di apartemen untuk memberi pertolongan pada Leon.


Arlan yang masih terlihat shock, hanya pasrah sambil mengusap lembut kepala Shinta sambil berkata, "Kamu jangan pakai ambulans, kamu sama aku saja ..."


Shinta mengangguk patuh. Bergegas mereka meninggalkan apartemen menuju rumah sakit, untuk menyusul Leon yang langsung mendapatkan tindakan medis dengan cepat.

__ADS_1


Kali ini Arlan tidak peduli dengan ucapan Seno, baginya jika Leon sadar, ia akan tetap membawa anak menantunya untuk tinggal bersama di Singapura, tanpa ada pernikahan dengan Mia sang secretaris.


Arlan benar-benar menolak ide gila Seno, karena ia tidak menyakiti wanita lain, juga mengecewakan Shinta karena perasaannya.


Suasana rumah sakit tampak tenang seperti biasa, kini tampak sibuk karena kehadiran Leon, juga Arlan disana. Arlan masuk melalui loby langsung menuju ruang ICU yang berada dilantai dua.


Bergegas perawat memberikan pertolongan pertama pada Leon, dan langsung melakukan transfusi darah kemudian memindahkan selang cuci darah di nadi bahu kanan putra kesayangan Arlan.


Kali ini Arlan dan Shinta hanya bisa melihat Leon dari balik kaca yang masih terbuka lebar, sambil melakukan tindakan yang bergerak begitu cepat.


"Anfal ..."


Hanya kata itu yang ada dalam benak Arlan, saat melihat layar detak jantung bergerak sangat lambat. Ia menoleh kearah Shinta ...


"40 ... Itu sudah dibawah batas kesadarannya Shinta! Lakukan sesuatu, tolong putra ku! Hanya kamu yang bisa memberi kekuatan padanya saat ini ..." perintah Arlan, membuka pintu ICU dengan lebar memberi ruang pada menantunya untuk mendekati sang suami.


Arlan hanya bisa pasrah, kali ini iya harus menyelamatkan Leon, setelah itu membawa Shinta jauh dari Jakarta. Agar tidak ada seorangpun yang mengetahui dimana keberadaannya.


Arlan tersenyum lega, dia hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut dari balik jendela, yang tidak di perbolehkan oleh pria duda beranak satu itu untuk ditutup.


Kini Arlan masih bersandar didinding rumah sakit, menyaksikan kemesraan Shinta juga Leon yang masih saling menggenggam walau pria bertubuh kurus itu belum siuman. Namun masih terasa sangat menyakitkan baginya ketika melihat wanita itu memeluk tubuh putra kesayangannya.


Kali ini Arlan berada di tepian jurang perpisahan dengan Shinta. Dia harus mengalah demi menyelamatkan kehidupan Leon, karena tidak ingin melihat putranya semakin hancur dalam menjalani kebahagiaan rumah tangga yang selalu di bayangkan sangat indah.


Perlahan Arlan melangkah menuju ruangannya yang berada dilantai sembilan, memilih meninggalkan ruang ICU hanya untuk menenangkan hati serta akan pikirannya, tanpa memperdulikan panggilan Seno.


"Lan ... Arlan!"

__ADS_1


Arlan menghentikan langkahnya, saat akan memasuki lift, hanya bisa berkata ...


"Jangan ganggu aku! Jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tidak aku sukai! Aku tidak akan menikah dengan siapapun. Ini hidup ku, dan ini keputusan ku, aku mencintai Shinta dan menyayangi Leon! Jadi, jangan berharap aku akan menikah dengan Mia, Raline ataupun Mila! Are you understand!!!!!" bentaknya menegaskan.


Seno terdiam, dia tidak bisa berkata-kata lagi, jika Arlan sudah memberikan jawaban tegas, dan tidak akan pernah melepaskan Shinta, apapun keadaannya.


Itulah kegilaan Arlan. Iya tahu semua itu sangat bertentangan dengan semua hukum yang ada di negaranya. Namun kali ini ia tidak bisa melepaskan Shinta begitu saja, ia terjebak, tergoda hasrat menantunya sendiri. Tanpa memikirkan perasaan Leon, juga karirnya sebagai crazy rich.


Seno masih menyangkal keinginan gila Arlan sebagai seorang sahabat, "Jangan gila, Lan! Kita bisa melihat bagaimana perasaan Leon jatuh hati pada Shinta. Anakmu membutuhkan wanita itu! Jangan kau masuk kedalam rumah tangga mereka, karena ini ..."


Arlan menyela pembicaraan Seno ... "Dosa! Dosa kau bilang pada ku? Semua orang berdosa di dunia ini, Sen! Termasuk kau! Kau tahu, wanita itu mengandung anak ku! Dan Leon hanya menikah kontrak dengan wanita itu. Aku tidak peduli dengan semua ini! Aku akan memperjuangkan Shinta tanpa kehilangan Leon!" tegasnya ...


Seno menggelengkan kepalanya, "Kau gila Arlan! Kau gila!"


"Stop! Ya, aku memang gila! Aku memang tidak memiliki perasaan! Tapi ini hidup ku, tidak ada yang bisa melarang ku saat ini! Aku tidak akan hidup disini, melainkan aku akan membawa Leon pergi jauh dari sini, dari keluarga besar ku, dari semua orang-orang yang hanya menjudge aku sebagai orang yang buruk, tanpa bercermin terlebih dahulu, termasuk kau!"


Arlan menarik nafasnya dalam-dalam, menekan tombol lift, dan masuk kedalamnya, menuju ruangan yang berada dilantai sembilan.


Seno hanya bisa tersenyum tipis, mendengar penuturan Arlan yang memang semakin keras kepala jika dihadapkan dengan berbagai macam pertentangan.


Sementara diruang ICU, Leon membuka matanya perlahan. Menatap lekat wajah Shinta yang masih samar dalam pandangannya. Mengusap lembut wajah cantik wanita itu, dengan senyuman yang perlahan semakin mengembang lebar dan tampak lebih tenang.


"Te-te-ter-terimakasih Shinta. Kamu selalu ada untuk ku, saat hati ku terasa sangat sakit ..." ucapnya perlahan.


Shinta mengusap air mata yang mengalir disudut mata Leon, "Please ... Jangan pergi. Aku akan selalu ada untuk mu. Kita mulai dari awal, aku akan membantumu untuk sembuh. Berjuanglah Leon, berjuang demi aku. Demi rumah tangga kita. Aku berjanji padamu, dan aku akan membawamu untuk tinggal di Singapura, bukan di sini. Jangan tinggalkan aku, sayang ..."


Leon mengangguk tersenyum, dia merasakan sangat kesakitan, saat dokter memompakan darah, saat melakukan transfusi terakhir dengan sangat cepat.

__ADS_1


Kembali Shinta berbisik ketelinga Leon, "Ini transfusi terakhir, aku harap akan cocok ditubuh mu, karena besok jadwal kamu cuci darah, sayang ..."


Leon tersenyum tipis, matanya masih menyiratkan tatapan penuh cinta kearah Shinta, walau sesungguhnya ia masih menyimpan rasa kecewa atas pengkhianatan sang istri.


__ADS_2