
Tangan Shinta meremas erat rambut Arlan, yang telah berhasil meloloskan segala penghalang ditubuhnya. Kemudian mendudukkannya di marmer kaca, dan melebarkan paha sang istri untuk memberikan kesembuhan di bagian inti Shinta.
Tak ada kata penolakan, Arlan seperti singa yang sedang lapar. Bahkan dia benar-benar tidak memberikan waktu untuk Shinta menutup kedua belah pahanya.
Kembali terdengar errangan Shinta, yang tak mampu menahan gejolak bercampur aduk. Ada perih, sakit, namun essapan lidah Arlan mampu mengalahkan segalanya.
Nafas Shinta memburu, hasratnya semakin bergelora terbakar gairah. Entahlah, kali ini ia tak tahu harus bicara apa. Bibirnya benar-benar ternganga lebar, karena dapat merasakan Arlan yang dulu. Pria yang benar-benar mengetahui dimana titik lemahnya Shinta.
"Ahh ..." Shinta memejamkan matanya, menikmati hebatnya deru nafas yang tak beraturan. Ia menatap wajah Arlan yang penuh pesona dengan nafas turun naik, "Bibi ... apa yang Bibi lakukan. Kenapa aku menginginkan mu terus!"
Senyuman Arlan semakin tampak seperti tengah membalaskan dendamnya, karena tidak memberikan waktu untuk Shinta mengenakan pakaiannya. Ia menggendong tubuh ramping wanita itu, kemudian membawa sang istri untuk beristirahat sejenak didalam bathtub berdua.
Arlan memposisikan tubuhnya duduk lebih dulu, kemudian membantu sang istri agar duduk di pangkuannya dengan wajah saling berhadap-hadapan.
Perlahan Arlan mengusap lembut punggung, dan semua tubuh mulus Shinta dengan sangat lembut, sesekali mencium bibir yang masih terasa kebas dengan penuh kelembutan, ketika saling mellumat lebih dalam yang berbalut gairah.
Shinta meringkuk di tubuh kekar Arlan, yang ia sadari semakin tampak gagah walau sudah berusia semakin tua. Akan tetapi, jiwa pria itu semakin tampak perkasa, bahkan terlihat semakin berkharisma dan semakin matang.
Ibarat pepatah mengatakan 'semakin tua semakin berminyak', atau semakin tua semakin berhasrat, itulah yang membuat Shinta sulit untuk melepaskan Arlan. Ditambah kehadiran Sandy, membuat ia enggan untuk melepaskan pria baik itu begitu saja.
Shinta masih menikmati detak jantung Arlan, kemudian tersenyum kembali menatap iris mata yang coklat itu lebih dalam, "Apa Bibi enggak lapar? Aku tadi baru makan sereal pas bangun, terus mandi. Eee ... sekarang mandi lagi."
Mendengar celotehan Shinta yang sangat menggemaskan, membuat Arlan mengecup lembut kening istrinya itu, sambil berkata, "Aku kenyang makan kamu saja. Kamu bahagiakan bersama aku?"
__ADS_1
Perlahan Shinta menganggukkan kepalanya, kembali ia memeluk tubuh Arlan, dan meletakkan dagunya di dada kokoh itu, "Kenapa? Apakah Bibi tidak bahagia sama aku?"
"Aku sangat bahagia sama kamu, Shinta. Tapi karena kamu mengacuhkan aku selama lima bulan, membuat aku berpikir singkat untuk menjadi sugar daddy jika benar-benar berpisah dari mu!"
Kedua bola mata Shinta membulat besar, ketika mendengar bahwa suaminya berencana akan menjadi sugar daddy ketika berpisah darinya, "What? Are you kidding me? Apakah Bibi tidak menginginkan aku, lagi? Ogh, pantas saja Raline semakin berani sama Bibi? Karena Bibi memberikannya peluang untuk menikmati indahnya sama dia? Begitu!?"
Mendengar celotehan Shinta yang sangat menggemaskan, Arlan langsung berhambur memeluk erat tubuh itu, "Habisnya ... punya istri muda, tapi malah berpikir ingin meninggalkan aku. Dan aku pikir kamu tidak bisa aku bahagiakan, karena itu aku menerima Raline untuk duduk di meja kami."
Sontak kening Shinta mengerenyit masam, menatap nyalang kearah Arlan, "Terus? Kenapa para pelayan dan Aunty Lily bisa di sekap oleh wanita jahanam itu? Kalau aku tahu bahwa Bibi juga menyambut Raline, aku pasti membiarkan kalian berbuat hal itu! Habis itu aku akan gugat cerai Bibi, dan tidak ingin melihat Bibi lagi!" umpatnya semakin kesal.
"Kenapa kamu tidak melakukannya? Hmm? Lakukan saja, semua yang ingin kamu lakukan! Toh kamu tampak bahagia tanpa aku. Lima bulan kamu tidak menghiraukan aku, Shinta. Semenjak kematian Leon, dan sampai detik ini kamu tidak pernah mengucapkan kata maaf pada ku! Jadi jangan salahkan aku, jika aku memiliki wanita lain di luar sana, karena kamu tidak memperdulikan aku!"
Dada Shinta semakin terasa sesak, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Arlan akan mengatakan hal itu padanya, "Bibi serius? Bibi serius memiliki wanita lain selain aku?" Air mata tergenang dipelupuk mata indahnya, membuat Arlan semakin bersemangat untuk melanjutkan dramanya.
"Bibi!" Pekik Shinta dengan suara melengking.
Melihat raut wajah istrinya yang tampak menggemaskan, membuat Arlan melepaskan tawanya, kemudian merangkul tubuh istrinya.
Akan tetapi, Shinta yang semakin over thinking justru menepuk kesal dada bidang Arlan dengan isak tangisnya akhirnya terdengar menggema dikamar mandi mewah mereka.
Lagi-lagi Arlan tertawa terbahak-bahak, ia semakin senang melihat raut wajah Shinta yang tampak merah padam, karena menahan rasa cemburu dalam benaknya.
"Berjanjilah, jangan pernah meninggalkan aku lagi, Shinta. Aku tidak bisa jauh darimu. Aku sangat merindukan mu, sayang. Manjanya kamu, rasa memiliki kamu lebih penting dari hal yang lainnya. Percayalah, kita bisa hidup bahagia, dan melakukan apa saja dengan selalu bersama. Aku bukan tidak peduli dengan Leon, tapi dia bukan anak kandung ku, dan kini dia sudah tenang. Sekarang saatnya kita kembali menata masa depan untuk Sandy juga masa depan kita. Setidaknya, jika aku pergi lebih dulu, kamu masih tetap hidup enak membesarkan Sandy. Hanya kamu yang aku miliki Shinta. Berjanjilah padaku, kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, dan mengucapkan kata pisah lagi!"
__ADS_1
Shinta menundukkan wajahnya, ia tersenyum sumringah menatap wajah tampan Arlan, yang benar-benar memabukkan dari tadi malam. "Maafkan aku, Bi. Aku lupa, bahwa Bibi juga memiliki perasaan. Aku benar-benar mencintai Bibi, dan tidak akan pernah melepaskan Bibi."
Tangan halus itu kembali memeluk erat tubuh Arlan, kemudian melanjutkan permainan sabun mereka, karena saling merindukan satu dan yang lainnya.
Tak ada perasaan benci dihati Arlan untuk Shinta. Dia memang tulus mencintai gadis muda itu, tanpa memperdulikan apapun saat ini. Baginya, mempertahankan rumah tangganya bersama Shinta jauh lebih baik, daripada harus mengenal orang baru lagi, dan memulai semuanya dari awal kembali.
"Jangan pernah tinggalkan aku, sayang. Karena aku tidak ingin jauh dari mu. Jadilah Nyonya Arlan seperti harapanmu sejak awal bertemu dengan ku dulu!" kecupnya di cerug leher Shinta yang masih bergerak lincah diatasnya.
Shinta hanya menjawab dengan dessahan yang semakin membuat tubuh Arlan semakin bersemangat untuk menjemput keindahannya, setelah melihat wanita yang berada diatasnya telah mereguk kebahagiaan itu untuk kesekian kalinya.
Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bagi Arlan, Shinta wanita manja yang selalu patuh padanya. Kehilangan Leon membuat rasa bersalah dalam hati mereka semakin besar, karena pengkhianatan yang di lakukan selama menjalani pernikahan yang berlangsung hanya delapan bulan. Namun, dapat terkikis oleh besarnya cinta mereka yang saling membutuhkan.
Kini Leon telah meninggal dunia, hanya tersisa Shinta dan Arlan untuk terus menata asa, agar hidup bahagia bersama selama hayat masih dikandung badan.
"I love you, Shinta ..."
"I love you too, Bibi ..."
Lummatan bibir kedua insan itu kembali membelit. Arlan ingin melihat Shinta benar-benar bahagia jika berada di dekatnya. Tanpa aturan seperti dulu. Sesuai permintaan wanita itu beberapa waktu lalu, tanpa pengawalan dan memberikan kebebasan pada Shinta untuk melanjutkan aktivitasnya sebagai Mama yang baik bagi Sandy.
Terdengar suara Abigail dari intercom yang berada dikamar Arlan untuk memberi kabar, "Tuan, ada Tuan Stefan dan Brian ingin bertemu dengan Anda!"
"Suruh tunggu, satu jam lagi aku selesai!"
__ADS_1